Untuk memulai investasi, investor pemula perlu mengetahui apa yang disebut toleransi risiko. Apa, sih, itu toleransi risiko? Toleransi risiko adalah seberapa besar kamu bisa menerima risiko yang ditimbulkan dari investasi yang kamu pilih. Jika kamu ingin membeli reksa dana, maka kamu harus mengisi kuesioner profil risiko yang diberikan manajer investasi pengelola reksa dana.

Baca juga: Plus Minus Investasi Saham

Hal ini bertujuan untuk mengetahui tingkat toleransi atau penerimaan risiko investasi, Pertanyaan dalam kuesioner biasanya seputar tujuan investasi, kondisi keuangan saat ini, jangka waktu investasi, batasan besarnya kerugian yang sanggup diterima. Lalu, imbal hasil yang ingin dicapai, pengetahuan dan pengalaman tentang instrumen investasi.

Selain itu, sejumlah hal berikut ini juga perlu kamu pahami mengenai toleransi risiko investasi.  

Usia dan Toleransi Risiko

Ternyata, faktor usia memulai investasi akan menentukan juga tingkat penerimaan risiko. Makin bertambah usia seseorang, produktivitasnya akan makin menurun. Hal ini akan ikut memengaruhi tujuan investasi serta tingkat risiko yang bisa diterima orang tersebut.

Penjelasan fase penerimaan risiko berdasarkan usia bisa dicermati berikut ini.  

Accumulation Phase atau Fase Akumulasi (umur 20 – 35)

Fase akumulasi merupakan masa seseorang baru memulai karier, baru menikah dan memiliki anak. Ini mengacu pada periode ketika seorang individu bekerja, merencanakan, dan pada akhirnya membangun nilai investasi mereka melalui tabungan.

Pada fase ini pendapatan investor pemula sudah lumayan, namun pengeluaran belum terlalu banyak dan masa pensiun masih jauh. Karena itu investor masih bisa berinvestasi dengan tingkat risiko tinggi, misalnya porsi terbesar investasi ditempatkan di reksa dana saham karena karakter saham yang memberikan return tinggi dalam jangka panjang.

Consolidation Phase atau Fase Konsolidasi (usia 36 – 52 tahun)

Pada usia ini karier investor sedang berada di pertengahan hingga puncaknya. Penghasilan dan pengeluaran juga semakin besar karena ada biaya pendidikan anak. Memasuki usia 50 tahun, atau sudah mendekati usia pensiun, maka porsi investasi lebih banyak di obligasi atau reksa dana pendapatan tetap yang tingkat risikonya menengah. Gejolak pasar dalam periode pendek tentu akan memengaruhi psikologis investor karena mereka khawatir nilai investasi turun sementara dana pensiun akan digunakan dalam waktu dekat.

Spending Phase atau Fase Pembelanjaan (usia 53 – 65 tahun)

Spending phase adalah adalah periode pensiun yang akan kamu jalani. Pada masa ini kamu tinggal menikmati hasil investasi dari fase akumulasi dan konsolidasi. Di periode ini pendapatan menurun drastis karena kamu sudah memasuki usia nonproduktif dan bergantung pada tabungan dari hasil investasi. Oleh karena itu pada fase ini investor biasanya sudah tidak terlalu berani mengambil risiko dan berinvestasi pada produk yang tingkat risikonya rendah, seperti reksa dana pasar uang.

Namun demikian, profil risiko juga bersifat personal dan dinamis. Bisa saja makin bertambah usia seorang investor, karena sudah punya pengetahuan investasi yang memadai, dia justru semakin berani berinvestasi pada instrumen keuangan dengan risiko tinggi.  Sebaliknya, investor pemula berusia muda juga banyak yang memulai investasi pada instrumen berisiko rendah karena masih pada tahap belajar.

Apapun toleransi risiko investasi yang kamu miliki, sebaiknya pelajari dengan cermat tingkat risiko masing-masing instrumen investasi yang hendak kamu pilih agar dapat membantumu mencapai tujuan keuangan.   

Toleransi Risiko dalam Trading Saham

Sementara itu dalam dunia trading saham, ada yang dinamakan manajemen risiko. Intinya adalah mengelola risiko investasi dengan menentukan sendiri tingkat risiko yang bisa kamu terima. Caranya bagaimana?

Misalnya kamu punya modal trading Rp10 juta, maka yang kamu pakai untuk trading saham hanya 10% saja yaitu Rp1 juta. Dari trading sahamsenilai Rp1juta ini kamu bisa tentukan juga batas toleransi risiko atau batas kerugian yang kamu bisa terima.

Misalnya kamu hanya bisa menerima kerugian 10% atau Rp100 ribu per transaksi, maka ketika harga saham sudah menunjukkan penurunan 10 persen kamu harus keluar dari pasar atau menjual saham tersebut. Kamu bisa menggunakan fitur stop loss (SL) atau cut loss. Sebaliknya, jika kamu ingin meraih keuntungan di level tertentu, misalnya ingin untung 10% kamu bisa memasang target profit (TP).

Baca juga: Investasi Terbaik Sepanjang Sejarah

Beberapa pakar trading merekomendasikan angka 1-2% toleransi risiko dari modal bagi trader yang profil risikonya sedang, tapi ada pula yang secara khusus menyarankan risiko 5% per transaksi jika memiliki profil risiko agresif.

Nah, demikian ulasan mengenai toleransi risiko di dunia investasi. Semoga artikel ini bermanfaat buat kamu yang investor pemula dan bisa jadi pedoman sebelum kamu berinvestasi.