Keisengan menjajal binis membuat seorang Laksita Pradnya Pramita menemukan manfaat ekonomi yang mengubah jalan hidupnya. Kini, Voria Sock yang dikelolanya berhasil menjadi salah satu produsen kaus kaki unik terkemuka di Indonesia, dengan omzet rata-rata mencapai Rp200 juta per bulan dalam waktu tiga tahun saja.

Pengusaha muda 24 tahun asal Kebumen ini memulai bisnisnya berdasarkan ketidaksengajaannya mengamati model kaus kaki yang beredar di pasaran. Menurutnya, aksesori tersebut sempat tidak dianggap sebagai bagian dari tren fashion karena desain dan warnanya yang monoton.

Baca juga: Hobi Berseeda Jadi Bisnis? Kenapa Tidak!

Di sisi lain, kala itu sekitar tahun 2013, Laksita menyadari bahwa banyak aksesori perlahan berkembang menjadi tren fashion, mulai dari syal hingga anting. Ia pun terpikir untuk menerapkan hal serupa pada kaus kaki, dan menjadikannya sebagai peluang bisnis.

“Awalnya saya coba mengecek ke Pasar Baru Bandung, karena di sana biasanya tren fashion di kalangan masyarakat umum berkembang. Ada beberapa kaus kaki bermotif unik yang saya temukan, namun jumlahnya tidak banyak dan sering ditempatkan di bagian belakang, tidak dipajang seperti kaos kaki pada umumnya,” ujar Laksita.

Mulai di media sosial

Awal membangun bisnis, Voria Socks bisa dikatakan usaha modal kecil. Dengan modal Rp45.000, Laksita memulai eksistensi Voria Socks pada akhir 2013. Dia menggunakan uang tersebut untuk membeli satu lusin kaus kaki unik sisa ekspor di Pasar Baru Bandung, dan kemudian menjualnya seharga Rp15.000 per pasang.

“Saya beli beberapa kaus kaki unik dan coba menjualnya secara online lewat Instagram. Tidak disangka, konsumen merespons dengan cepat,” lanjutnya bercerita.

Lambat laun, beberapa konsumen mulai menanyakan ketersediaan stok kaus kaki unik lainnya. Namun, karena bisnis tersebut baru sebatas distributor kecil, Laksita pun mengatakan bahwa dia hanya menjual produk secara terbatas dan akan memperbarui koleksinya secara berkala.

“Pada akhirnya, saya pun berusaha memperbarui katalog produk di akun Instagram Voria Socks setiap dua minggu sekali. Saya rutin pergi ke Pasar Baru, dan mengecek ke distributor besar lainnya di seputaran Bandung, mencari koleksi kaus kaki unik terbaru,” ujarnya menjelaskan.

Beralih jadi produsen

Namun, bisnis tidak semudah yang dibayangkan oleh Laksita. Terkadang dia kewalahan memenuhi permintaan konsumen yang beragam, mulai dari tidak lengkapnya pilihan ukuran kaus kaki yang tersedia, hingga motif favorit yang dihentikan produksinya. Laksita berpikir tidak mungkin jika dia terus menerus bertahan sebagai distributor karena hal itu akan membuat laju bisnisnya stagnan.

Setelah sempat mempertimbangkan banyak hal, Laksita memutuskan mencoba memproduksi kaus kaki sendiri. Dia memulai semuanya dari nol, seperti mendatangi langsung pabrik-pabrik garmen kecil di kawasan Cigondewah, Bandung, untuk belajar dan memilih langsung bahan material bakunya, hingga bolak-balik menegosiasikan kerja sama dengan beberapa penjahit konveksi.

“Hampir sebulan, kalau tidak salah awal 2015, saya akhirnya mendapat penjahit dan supplier bahan kaus kaki yang cocok. Saya tidak punya basic menggambar, tapi saya nekat mencoba menggambar desain dari hasil cari-cari di internet. Alhamdulillah, konsep saya bisa dipahami. Senang banget waktu itu, saya akhirnya punya desain kaus kaki sendiri,” cerita Laksita bangga.

Semua desain yang ditampilkan oleh Voria Socks tidak sepenuhnya hasil rancangan pengusaha muda ini, melainkan juga banyak yang berasal dari hasil diskusi dengan penjahit. “Terutama soal ketersediaan bahan baku. Sampai sekarang pun, saya lebih sering mengecek ketersediaan bahan, baru kemudian dipikirkan bagaimana rancangannya,” jelas Laksita.

Sebagian besar produk kaos kaki yang ditawarkan Voria Socks memang berupa kaus kaki fashion, yang rata-rata dijual secara terbatas. Dengan kata lain, Laksita menerapkan sistem serupa musim tayang untuk setiap desain yang ditawarkannya.

Fokus di pemasaran online

Rata-rata kaus kaki produksi Voria Socks dijual seharga Rp85.000 per pasang, dan kini pemasarannya tidak hanya menjangkau konsumen dalam negeri, namun juga banyak di mancanegara. “Semua karena saya fokus berjualan (secara) online. Saya jualan di Instagram, di Bukalapak, dan Tokopedia,” ujar Laksita.

Untuk di Instagram, Voria Socks menerapkan strategi pemasaran yang tidak jauh berbeda dengan toko online lainnya, seperti memajang foto yang bagus dan spamming di berbagai kolom komentar akun populer. Laksita juga menerapkan sebuah strategi untuk menjangkau konsumen yang lebih luas, yakni mendorong pengguna Instagram untuk mention nama temannya agar menengok berbagai unggahan produk Voria Socks. Sebagai imbalan, Laksita akan memberi diskon khusus, terkadang juga tawaran paket produk dengan harga spesial.

Lebih dari itu, keunikan desain yang ditawarkan oleh Voria Socks juga memicu terjadinya pemasaran getok tular, yakni dari konsumen yang merasa puas, kemudian merekomendasikan produk tersebut ke orang lain. Begitu seterusnya, berulang-ulang, sehingga membuat bisnis yang dijalankan Laksita berkembang secara dinamis.

Hal lain yang membuat Voria Socks kian diminati adalah keleluasaan yang diberikan kepada konsumen. Laksita mempersilakan pembelian kaus kaki per unit, sehingga pelanggan bisa melakukan mix and match“Beli satu kaus kaki, maka harganya dibuat satuan, menjadi lebih murah. Pelanggan ternyata suka konsep seperti itu, ya, saya pertahankan sampai sekarang, meski tidak berlaku untuk semua produk,” jelas Laksita

Terus mengontrol kualitas

Saat ini, omzet yang diraih Voria Socks berkisar puluhan juta per bulannya. Bahkan pernah pada bulan ke-16 sejak mengeluarkan desain kaus kaki sendiri, Laksita mencetak omzet hingga mendekati Rp200 juta. “Padahal saya sempat khawatir ketika memutuskan untuk menaikkan harga produk, tapi ternyata konsumen tidak masalah dengan hal itu. Banyak dari mereka mengaku suka dengan kaus kaki buatan Voria Socks karena desainnya unik, trendi, dan materialnya nyaman di kaki,” jelas Laksita.

Ditanya tentang kendala, menurut Laksita, sebagian besar berasal dari segi produksi, seperti buntu merancang desain, ketidakcocokan material yang dikirim supplier, hingga beberapa kali salah jahit. “Kontrol kualitas adalah hal yang paling sulit selama menjalankan bisnis Voria Socks. Saya bahkan bisa seharian memantau bahan baku di supplier, mengecek jahitan satu per satu di penjahit. Semua saya lakukan demi kualitas,” ujarnya.

Sempat dipandang sebelah mata

Meski begitu, menjalankan bisnis Voria Socks sempat membuatnya galau, terutama di tahun awal operasional. Laksita mengaku kerap dipandang sebelah mata atas pilihannya tersebut, bahkan ibunya sendiri pernah mencibirnya langsung.

“Saya sering dikata-katain, kenapa malah jualan kaus kaki, bukannya cari pekerjaan yang bagus. Saya awalnya membalas dengan menjelaskan baik-baik apa yang saya kerjakan. Tapi, lama kelamaan saya capek sendiri meladeni, akhirnya saya kasih senyum saja. Saya fokus membesarkan Voria Socks, biar orang tahu suksesnya (bisnis kaus kaki),” cerita Laksita.

Kini, Laksita bisa tersenyum bangga atas jalan hidup yang dipilihnya. Bahkan, melalui Voria Socks, dia bisa ikut membuka kesempatan kerja bagi orang-orang di sekitar rumahnya. “Walaupun skala rumahan, tetapi saya bersyukur bisa membantu membuka rezeki bagi orang lain. Jadi, bisnis saya ini bukan saja bermanfaat untuk saya, tapi juga untuk tangan-tangan lain,” ujarnya bangga.

Untuk ke depannya, Laksita memiliki dua fokus utama, yakni mempertahankan penjualan positif di pasar online, dan mengumpulkan dana untuk membuka unit konveksi sendiri agar kapasitas produksi dan kualitas produk Voria Socks dapat ditingkatkan.

Baca juga: Java Fresh, Ala Margareta Astaman

“Semoga semua dilancarkan, tahun ini Insya Allah saya bisa usaha konveksi sendiri,” ujar pengusaha muda ini, seraya menyebut bahwa bisnisnya mulai mencoba untuk merambah produksi garmen lainnya, seperti pakaian bayi dan aksesori fashion.