Sebagai investor pemula, mungkin kamu sudah cukup sering mendengar tentang sukuk. Secara sederhana, sukuk adalah obligasi yang dijalankan dengan prinsip-prinsip syariah. Sukuk sendiri berasal dari bahasa Arab ‘shak’ yang berarti ‘instrumen legal’ atau ‘cek’.

Dengan membeli obligasi, investor menjadi lender atau pemberi utang sedangkan penerbit obligasi menjadi peminjam atau borrower. Oleh karena itu obligasi juga disebut sebagai surat pengakuan utang. Meski termasuk obligasi, sukuk bukan surat pengakuan utang. Sukuk merupakan sertifikat kepemilikan dan atau penyertaan investor atas aset yang menjadi dasar penerbitan sukuk (underlying asset).

Baca juga: Reksadana Pendapatan Tetap untuk Investasi yang Stabil

Artinya, pemegang sukuk ikut memiliki hak atas aset berwujud yang dipunyai penerbit sukuk, misalnya bangunan infrastruktur pada sebuah proyek milik pihak penerbit sukuk. Selain seluruh prosesnya, pemanfaatan dana hasil penerbitan sukuk harus berlandaskan ketentuan syariah. Penggunaan dana hasil penerbitan sukuk hanya boleh digunakan untuk hal-hal yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah, atau dengan kata lain untuk hal-hal yang halal.

Karena itu sukuk tidak pernah diterbitkan bank-bank konvensional karena bank mengenakan bunga atau riba, demikian pula sukuk tidak pernah diterbitkan perusahaan yang bergerak di sektor nonhalal seperti produsen minuman beralkohol.

Berbeda dengan obligasi konvensional, sukuk yang diterbitkan perusahaan atau pemerintah berada di bawah fatwa MUI dengan kendali Dewan Syariah Nasional. Dengan demikian keabsahan sukuk yang diterbitkan jelas bisa dipertanggungjawabkan secara Syariah.

Hal lain yang membedakan sukuk dengan obligasi konvensional adalah perolehannya. Obligasi mendapatkan bunga atau kupon, sedangkan sukuk memperoleh bagi hasil dari pemanfaatan aset oleh penerbit sukuk. Bagi hasil dalam sukuk sering juga disebut dengan istilah imbalan. Imbalan ini akan dibayarkan secara rutin pada periode tertentu dan nilai pokok pinjaman akan dibayarkan pada saat jatuh tempo.

Sukuk cocok untuk investor pemula karena memiliki kelebihan sebagai berikut:

1. Potensi keuntungan lebih tinggi

Sukuk yang diterbitkan pemerintah ada dua jenis, yaitu sukuk ritel dan sukuk tabungan. Tingkat imbalan kedua jenis sukuk ini kompetitif, lebih tinggi dari rata-rata tingkat bunga deposito bank-bank BUMN.

Untuk sukuk ritel tingkat imbalannya tetap yang dibayarkan setiap bulan. Sedangkan untuk sukuk tabungan, tingkat imbalannya mengambang disesuaikan dengan perubahan BI 7-Day Reverse Repo Rate setiap tiga bulan sekali, namun dengan jaminan imbalan minimal.

Artinya meski suku bunga Bank Indonesia turun di bawah tingkat imbalan minimal, tingkat imbalan pertama yang ditetapkan akan menjadi imbalan minimal yang berlaku sampai dengan jatuh tempo. Sedangkan jika suku bunga naik, tingkat imbalan sukuk tabungan juga akan naik mengikutinya. Imbalan sukuk tabungan juga dibayarkan setiap bulan.

2. Pajak lebih rendah

Baik imbalan sukuk ritel maupun tabungan hanya dikenakan pajak 15%, sementara deposito mengenakan pajak 20% terhadap bunga.

3. Risiko gagal bayar kecil

Sukuk yang diterbitkan pemerintah pembayaran pokok dan imbalannya dijamin oleh pemerintah. Hingga saat ini belum pernah terjadi kegagalan pembayaran sukuk yang diterbitkan pemerintah. Dengan demikian sukuk bisa termasuk sebagai salah satu investasi aman.

4. Dana investasi relatif terjangkau

Cukup dengan modal Rp1 juta, kamu sudah bisa berinvestasi di sukuk ritel dan sukuk tabungan yang diterbitkan pemerintah. Minimum pemesanan sukuk ritel SR-011 dan sukuk tabungan ST004 yang ditawarkan hingga 21 Mei ini adalah 1 unit dengan harga per unitnya Rp1 juta.

Selain kelebihan atau keuntungan, ada pula risiko pada instrumen investasi ini karena setiap bentuk investasi tentu akan mengandung sejumlah risiko. Beberapa risiko ini wajib kamu ketahui sebelum membeli sukuk:

1. Risiko fluktuasi pasar

Sukuk ritel dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Tenor atau waktu jatuh tempo sukuk ritel dari pemerintah adalah 3 tahun. Jika kamu ingin menjualnya sebelum tanggal jatuh tempo namun harga di pasar lebih rendah dari harga saat kamu membeli, maka kamu akan merugi. Misalnya, saat kamu membeli sukuk ritel harga per unitnya Rp1 juta, namun saat hendak menjual, harganya turun menjadi Rp980.000.

Risiko ini tidak ada pada sukuk tabungan karena tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Pihak investor dilarang menjual lagi sukuk tabungan sebelum jatuh tempo selama 2 tahun sehingga nilainya stabil.

2. Risiko gagal bayar

Kemungkinan gagal bayar ini lebih besar pada sukuk yang diterbitkan pihak swasta atau korporasi karena kondisi keuangan perusahaan memburuk. Untuk sukuk yang diterbitkan pemerintah, risiko seperti ini sangat kecil terjadi, namun tetap harus diantisipasi.

3. Risiko likuiditas

Sukuk tabungan tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder, sehingga kamu tidak dapat mencairkannya sewaktu-waktu. Namun sukuk tabungan memiliki fasilitas early redemption.

Investor dapat menerima sebagian pelunasan pokok sukuk tabungan oleh pemerintah sebelum jatuh tempo. Fasilitas ini hanya dapat dimanfaatkan oleh investor dengan minimal kepemilikan Rp2 juta di setiap mitra distribusi dan jumlah maksimal yang dapat diajukan untuk early redemptionadalah 50% dari total kepemilikan investor.

Baca juga: Reksa Dana Saham yang Bisa Diperdagangkan

Bagi investor pemula seperti kamu, memahami kelebihan dan kekurangan berbagai instrumen investasi termasuk sukuk tentu akan sangat bermanfaat. Setuju?