Sepanjang hampir satu dekade terakhir, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) telah menjadikan internet sebagai jalan mulus untuk berbisnis. Umumnya, mereka memanfaatkan situs marketplace sebagai medium dalam mengembangkan unit usahanya.

Salah satu wirausaha muda yang memetik buah manis dalam geliat niaga daring ini adalah Christian Pieschel (35). Melalui akun Velomix Bike Shop di situs e-commerce Bukalapak, dia berhasil meraup omzet rata-rata Rp150 juta per bulannya.

Baca juga: Wirausaha Java Fresh Karya Margareta Astaman

Chies, biasa ia disapa, memfokuskan arah bisnis Velomix Bike Shop sebagai penyedia sepeda custom dan beragam aksesorinya. Meskipun telah memiliki toko fisik, namun diakuinya, bahwa sebanyak 70 hingga 80 persen total penjualan tetap berasal dari transaksi di internet.

“Saya menargetkan pasar yang spesifik, sehingga saya harus memerhatikan betul kualitas dan layanan penjualan. Di sisi lain, saya juga harus mempertahankan trust dari konsumen. Dengan berjualan online, saya bisa mengontrol itu secara fleksibel sekaligus saya juga bisa memperluas jejaring pasar,” ujar pria asal Surabaya itu, yang mengaku mulai berjualan karena hobinya bersepeda.

“Saya suka bersepeda, tahu seluk beluk sepeda dan segala ‘perintilannya’. Ini yang membuat saya yakin untuk berbisnis di bidang yang saya sukai. Saya memulainya sekitar tahun 2010,” lanjut pria yang kini termasuk ke dalam pedagang besar (top seller) di Bukalapak.

Membidik komunitas bersepeda

Chies memulai bisnisnya dengan menyasar teman-teman yang ditemuinya di komunitas bersepeda. Awalnya dia hanya membantu beberapa rekannya mendapatkan bingkai (frame) sepeda dan aksesori dari penjual khusus di luar negeri.

“Bisa dibilang, dulu saya adalah orang yang paling up to date tentang sepeda fixie. Teman-teman banyak bertanya pada saya ketika kumpul, sampai akhirnya mereka meminta saya untuk bantu membelikan kebutuhan sepedanya,” cerita Chies.

Mendapati bahwa teman-temannya merasa puas dengan bantuannya, dia pun memperoleh ide bisnis. Chies berinisiatif membuka toko sepeda, namun karena modal kurang mencukupi, hal itu pun diurungkannya.

Dari berbagai ide yang memenuhi kepalanya, akhirnya Chies memutuskan untuk lebih dulu berjualan aksesori sepeda via online. Padahal kala itu, dia sama sekali buta tentang bisnis online.

“Dulu, peran saya adalah konsumen dan kemudian nekat mengubahnya jadi pihak yang menjual. Jujur saat memulainya, saya bingung bagaimana menyetok produk, memastikan pengiriman berjalan lancar, menghadapi keluhan konsumen, dan cara mempromosikannya di kalangan pengguna internet,” cerita Chies, yang sempat berpikir membuat toko online sendiri.

Mulai berjualan di marketplace

Namun setelah mempelajari rencana bisnis tersebut dari berbagai sudut pandang, Chies akhirnya memilih untuk membuka lapak di marketplace terlebih dahulu.

Pertimbangan pertamanya adalah bahwa algoritma pencarian segmen ceruk yang digarapnya, lebih cepat ditemukan di marketplace dibandingkan jika membuat situs toko online sendiri.

“Ketika mencari tentang sepeda dan aksesorinya di internet, situs-situs marketplace muncul pada pencarian teratas dan kebanyakan konsumen mengklik hanya pada halaman pertama Google. Ini pertimbangan saya, supaya usaha segera dikenal luas,” ujar wirausaha muda ini menjelaskan.

Selain itu, menurutnya, berjualan via marketplace juga bisa membuat dirinya lebih cepat dalam menanggapi kebutuhan pelanggan.

“Kita juga bisa mendapat kepercayaan lebih karena adanya sistem penilaian trusted seller, yang bisa menjadi panduan konsumen dalam memilih akan beli produk di mana,” tambahnya.

Lebih dari sekadar pedagang

Tidak hanya itu, Chies juga menceritakan bahwa dirinya berperan lebih dari pedagang di akun marketplace-nya. Dia menempatkan nomor kontak yang siap dihubungi selama jam kerja, guna mempermudah komunikasi dengan calon pembeli.

Begitupun pesan yang dikirim di kolom komentar toko online-nya juga selalu ditanggapi dengan cepat dan jelas. Bahkan, tidak jarang Chies dan stafnya di Velomix Bike Shop memberikan saran dan panduan bagi para konsumen yang kebingungan menentukan pilihan.

“Saya membuka diri kepada konsumen untuk berdiskusi tentang sepeda, membantu merekomendasikan produk yang tepat dengan kebutuhannya, dan juga siap untuk menerima pesanan tertentu dari para konsumen loyal,” jelasnya.

Saat ini, komposisi barang yang dijualnya, baik online ataupun di toko fisiknya, masih didominasi aksesori, yakni mencapai rata-rata 80 persen. Kisaran harga aksesori yang ditawarkan oleh Velomix Bike Shop berkisar mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah.

Sedangkan bingkai (frame) sepeda mencapai 10 persen dari total penjualan, dengan rentang harga Rp4 juta hingga Rp50 juta. Adapun sisanya, diisi oleh produk full bike yang harganya berkisar Rp10 juta hingga Rp85 juta.

“Sebagian besar produk yang saya jual adalah impor. Harganya premium karena didukung aksesori unik yang sulit ditemukan di pasar Indonesia. Di sinilah saya menguasai segmen ceruk soal persepedaan,” jelas Chies seraya menyebut bahwa Velomix Bike Shop adalah satu-satunya penjual terlengkap di kelasnya.

Tantangan konsumen kritis

Ditanya tentang kendala tersulit apa yang pernah dihadapi selama menjalankan toko Velomix Bike Shop, Chies dengan cepat merujuk ke awal operasionalnya pada 2010 lalu. Menurutnya, butuh proses panjang untuk meyakinkan konsumen Velomix di luar kota domisilinya di Surabaya.

“Foto dan keterangan detail di akun Velomix saja kurang cukup, mereka banyak bertanya seputar produk yang diincarnya. Sampai benar-benar detail, mereka baru sepakat untuk membeli. Selama proses itu, saya berusaha untuk cepat menanggapi pesan yang masuk ke call center Velomix,” ujar Chies bercerita.

“Mungkin juga karena konsumen tidak bisa mengecek langsung sepeda atau produk yang mereka incar, jadi mereka harus memastikan betul kualitas dan layanan yang akan mereka dapatkan, sebelum mengeluarkan uang yang cukup besar,” lanjutnya.

Chies tidak memungkiri bahwa beberapa kali pernah mendapat keluhan dari konsumen atas produk yang mereka beli di Velomix Bike Shop. “Setiap ada keluhan, pasti akan saya urus langsung. Kalau memang perlu diganti, ya saya harus siap menanggung risikonya. Puji Tuhan, sejauh ini (keluhan) bisa diselesaikan dengan baik. Konsumen juga semakin percaya dengan kualitas produk yang dijual di Velomix,” jelas Chies.

Ditanya tentang berapa omzet yang diraih Velomix saat ini, Chies hanya menjawab antara Rp150 juta hingga Rp200 juta. “Bisnis pasti ada naik turunnya, tapi saya bersyukur sekarang Velomix bisa mencatatkan penjualan rata-rata di angka ratusan juta per bulan,” ujarnya.

Baca juga: Bisnis Pewarnaan Rambut Ala Quo Studio

Kini, konsumen Velomix Bike Shop tidak hanya berasal dari pasar lokal, melainkan juga mulai banyak yang berdatangan dari luar negeri. Beberapa di antaranya merupakan hasil rekomendasi konsumen loyalnya di Tanah Air. Menurut Chies, hingga saat ini, konsumen asingnya berasal dari Asia Tenggara, Australia, dan Amerika Serikat. Adapun pasar lokal, masih didominasi oleh Pulau Jawa, Medan, Bali, dan Makassar.

Untuk rencana ke depan, Chies masih tetap menempatkan perhatian utama pada penjualan online via marketplace, sembari terus mengembangkan toko pribadinya sebagai distributor grosir. “Saya ingin menjadikan toko yang saya kelola di luar marketplace sebagai pusat grosir sepeda dan aksesori premium. Nantinya, konsumen yang sudah mengenal Velomix di marketplace, akan saya ajak untuk melihat lebih jauh produk-produk yang saya jual,” pungkas Chies, seraya menyebut bahwa saat ini dirinya masih menjadi satu dari sedikit wirausaha muda dalam bisnis sepeda premium di Indonesia.