Layanan financial technology (fintech) lending atau pinjaman online makin menjamur di Indonesia. Hanya dengan bermodalkan telepon pintar dan sejumlah dokumen, dana segar akan langsung cair tanpa banyak birokrasi. Cara ini jelas cepat dan tanpa ribet seperti meminjam di bank.

Baca juga: Plus Minus Investasi Fintech 

Buat kamu yang kebetulan butuh kredit modal usaha atau keperluan mendadak, mungkin kehadiran fintech lending ini kabar gembira. Tapi sebentar, sebelum kamu meminjam uang dari fintech lending ini, baiknya kamu waspada. Pasalnya pada April 2019 Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menutup 957 akses berkedok pinjaman online yang dianggap bodong.

Ratusan pinjaman online ini dianggap merugikan nasabah dan tidak memiliki izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sekedar informasi saja, baru ada 106 pinjaman online yang terdaftar di OJK, sementara selebihnya hanya abal-abal.

Nah, sebelum kamu terjebak pinjaman online yang bodong karena membutuhkan kredit modal usaha, baiknya kenali beberapa ciri-cirinya:

  1. Bunga yang ditawarkan kelewat tinggi

Fintech lending abal-abal biasanya memberikan bunga pinjaman yang tidak masuk akal, misalnya 2-3 persen per hari. Ini belum termasuk biaya peminjaman yang juga terus berbunga. Tidak heran, bisa saja kamu hanya berhutang Rp500 ribu, tetapi harus membayar hingga Rp5 jutaan!

Khusus fintech lending yang terdaftar di OJK, mereka memiliki sistem perlindungan untuk konsumen. Lembaga yang tergabung dalam AFPI (Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia) ini sudah memiliki mekanisme untuk mencegah menumpuknya utang.

Caranya? Jika pinjaman telah melewati masa penagihan maksimal 90 hari dari tenggat waktu pembayaran, biaya pinjaman dan pokok dijamin tidak akan bertambah. Misalnya A memiliki pinjaman senilai Rp1 juta, bila dia tidak bisa mengembalikannya, maka maksimal pinjaman total dan biaya akan berhenti di hari ke-90. Yang harus dibayar A hanya pokok pinjaman yaitu Rp1 juta serta biaya dan bunga hingga maksimal hari ke-90.

2. Persyaratan peminjaman yang terlalu mudah

Kamu pernah ditawari pinjaman dengan persyaratan hanya bermodalkan KTP dan foto selfie? Atau iming-iming bahwa pinjaman akan cair dalam 15-30 menit setelah aplikasi diisi? Jangan langsung tergoda meskipun kamu sangat membutuhkan kredit modal usaha.

Fintech lending yang legal biasanya membutuhkan waktu untuk memproses dokumen yang kamu serahkan apa sudah memenuhi syarat, termasuk identitas lengkap calon peminjam, pengecekan riwayat kredit melalui BI checking, gaji dan perusahaan tempat kamu bekerja.

Biasanya dana akan cair bila semua persyaratan sudah dipenuhi oleh calon peminjam. Jadi tidak serta merta dana dipinjamkan karena kalau sang peminjam tidak memenuhi syarat dan kemampuan, bisa-bisa terjadi kredit macet yang akan menganggu sistem keuangan perusahaan fintech tersebut.

3. Identitas perusahaan tersamar

Perusahaan fintech lending yang terdata di OJK biasanya mencantumkan identitas dengan transparan, baik jajaran direksi, nama pemimpinnya, dan alamat perusahaannya.

Sangat berbeda dengan fintech lending yang bodong. Mereka cenderung menyembunyikan identitas perusahaan, termasuk mengubah-ubah alamat sehingga sulit dideteksi oleh konsumen atau polisi. Selain itu, jajaran pemimpinnya juga tidak diketahui. Untuk itu sangat direkomendasikan agar kamu mengecek perusahaan fintech lending terlebih dahulu sebelum mengisi formulir pinjaman. Caranya dengan mengunjungi website OJK.

4. Tidak ada skema pinjaman di fintech lending bodong

Idealnya setiap dana pinjaman memiliki skema peminjaman termasuk berapa bunga yang dibebankan, pembiayaan, denda keterlambatan, jangka waktu peminjaman, dan lain-lain. Semua diatur secara transparan dan disetujui antara pemberi pinjaman (lender) dan peminjam (borrower).

Bahkan ada juga simulasi yang bisa kamu coba untuk  mengetahui berapa dana yang harus dikembalikan ke lender sebelum akhirnya memutuskan meminjam uang. Sementara pinjaman online yang bodong tidak akan memberikan skema pinjaman. Tiba-tiba saja kamu sudah harus membayar jumlah yang berkali lipat dibanding nominal peminjaman.

5. Mencuri data pelanggan dan melakukan teror saat menagih

Ciri lain dari fintech lending bodong yang tak kalah mengerikannya adalah mencuri data klien di telepon pintar mereka, sehingga saat pelanggan tidak mampu membayar, pihak fintech lending akan mengunakan data dari telepon klien untuk mempermalukan klien tersebut.

Tidak heran banyak nasabah fintech lending bodong yang merasa malu karena “rahasia berutang” mereka diketahui publik. Belum lagi mereka yang datanya dicuri akan terganggu karena diteror telepon pihak fintech lending.

Baca juga: Investasi Patut Dicoba di 2019

Selain itu fintech lending bodong juga terkenal sangat”sadis” dalam hal menagih utang kliennya. Sudah banyak korban yang rusak hidupnya karena terbelit utang fintech lending abal-abal.  Kesimpulannya, kamu memang harus super super waspada sebelum memutuskan untuk meminjam uang pada perusahaan pinjaman online. Cari informasi sebanyak-banyaknya dan cek di situs OJK apakah institusi fintech lending yang akan kamu pilih terdaftar dan punya kredibilitas bagus.

Jika memang kamu berniat mencari kredit modal usaha lewat pinjaman online, bandingkan dulu beberapa lembaga fintech lending sebelum akhirnya memutuskan akan meminjam ke mana.