Diversifikasi portofolio atau keranjang investasi dimaksudkan sebagai cara mengurangi risiko agar investasi yang kita kumpulkan dapat jadi investasi terbaik. Dengan melakukan diversifikasi, kita bisa menyebar risiko ke semua produk dan tidak terpusat di satu produk saja.

Baca juga: Kiat Mengoptimalkan Portofolio Investasi

Sebagai contoh, jika kita hanya berinvestasi emas, saat harga emas turun maka semua nilai investasi kita turun. Tapi bila kita berinvestasi pada lebih dari satu aset, misalnya emas dan reksa dana, saat harga emas turun dan reksa dana naik, nilai investasi kita pun tidak terlalu anjlok penurunannya.

Lalu bagaimana cara tepat melakukan diversifikasi portofolio? Eko Endarto, financial planner dari Financia Consulting memberikan sejumlah kiat yang bisa kita coba. Berikut penjelasannya:

1. Tentukan tujuan investasi

Langkah pertama diversifikasi portofolio adalah menentukan tujuan investasi dan kapan kamu ingin mencapainya, dalam jangka pendek, menengah, atau panjang? Tujuan ini akan menentukan instrumen investasi apa yang akan dimasukkan dalam keranjang investasi nantinya.

Untuk jangka pendek, misalnya dalam jangka waktu tiga bulan, maka deposito merupakan pilihan tepat karena memberikan imbal hasil tetap. Untuk jangka menengah di bawah lima tahun, maka obligasi ritel atau ORI pilihan yang tepat dengan potensi return 7%-10% per tahun. Sedangkan untuk jangka panjang adalah saham.

Yang harus diingat dari tujuan investasi ini adalah niat kita harus teguh mencapainya. Jika ada gejolak harga di pasar saham atau obligasi, hendaknya dianggap sebagai hal biasa dan tidak menjadikan kita panik, kemudian buru-buru menjual saham atau obligasi.

Lain halnya jika kita memang ingin mengubah tujuan investasi. Kita bisa menjual aset tertentu di portofolio untuk kemudian dibelikan aset lain.

2. Menentukan profil risiko

Langkah kedua adalah mencari tahu profil risiko kamu. Ada profil investor yang bertipe agresif, moderat, dan konservatif. Tipe agresif menyukai instrumen berisiko tinggi seperti saham, sedangkan tipe moderat cocok untuk aset berisiko menengah seperti obligasi. Porsi saham di portofolio investor agresif bisa mencapai 50%, sementara instrumen nonrisiko seperti emas hanya dapat porsi 20%.

3. Pengenalan produk

Investor juga harus memiliki pengetahuan mengenai produk-produk investasi yang akan dibeli. Pengetahuan mengenai investasi atau literasi investasi dari seorang investor ikut menentukan keberhasilan diversifikasi portfolio investasi.

Investasi bukan hanya masalah hasil tapi juga menyangkut kesiapan investor menghadapi risiko. Ketika memutuskan berinvestasi, maka seharusnya investor itu sudah memahami risiko dan besaran risiko yang ditanggungnya.

Mengenal produk dengan baik bermanfaat untuk mengetahui korelasi di antara semua produk investasi sehingga investor dapat memilih investasi terbaik. Untuk diketahui, aset investasi ada yang tergolong nonrisiko atau safe haven, seperti emas dan yen Jepang, dan ada yang masuk golongan aset berisiko, seperti saham. Di saat aset berisiko mengalami pelemahan harga karena adanya faktor geopolitik, maka harga aset safe haven mengalami kenaikan karena banyak investor beralih pada aset safe haven.

Mengombinasikan kedua jenis instrumen investasi tersebut dalam portofolio akan lebih meratakan tingkat risiko. Hal ini juga dapat mengatasi penurunan return yang tidak diharapkan, dengan demikian kita bisa lebih mengukur besaran risiko dalam portofolio.

Baca juga: Langkah mudah membangun portofolio investasti

4. Target imbal hasil

Kita perlu menentukan target imbal hasil atau return yang ingin kita raih. Jika tidak menargetkan imbal hasil besar namun tetap, maka pilihannya adalah deposito. Untuk imbal hasil sedang bisa memilih obligasi, sementara jika ingin imbal hasil besar bisa memilih saham yang memiliki horizon investasi jangka panjang.

5. Evaluasi

Perlu sekali melakukan evaluasi atas portofolio investasi kita, karena investasi seperti perjalanan panjang yang terbagi dalam beberapa perjalanan pendek dengan targetnya masing-masing. Sederhananya, evaluasi risiko yang siap kita terima, dan apakah hasil yang kita kejar wajar atau tidak.

Setelah evaluasi, yang perlu dilakukan investor adalah rebalancing aset. Disarankan untuk melakukan evaluasi dan rebalancing aset minimal empat bulan sekali.

Tidak ada aturan yang pasti mengenai berapa jumlah aset yang ideal untuk portofolio investasi. Tapi makin banyak produknya akan makin rendah risikonya walau tidak akan 100% mengurangi risiko. Jadi yang terbaik adalah menyesuaikan berapa besar risiko yang bisa kita terima dan sesuaikan dengan imbal hasil yang kita targetkan.

Yang terakhir, jika investor mengalami kegagalan dalam diversifikasi portofolio, dalam arti portofolionya tidak memberikan imbal hasil yang diharapkan, sebaiknya investor tersebut perlu mempertimbangkan bantuan manajer investasi. Manajer investasi yang memang profesional dalam mengelola dana investasi dapat membantu investor pemula memilih investasi terbaik dan mencapai tujuan keuangannya.