Pernahkah kamu pernah mendengar istilah “rating utang” atau “rating kredit”? Istilah ini penting kamu ketahui karena rating utang berperan penting untuk kondisi ekonomi Indonesia dan sekaligus dapat menjadi salah satu pertimbangan kamu untuk memilih investasi aman.

Sederhananya, sovereign credit rating atau rating utang adalah penilaian risiko utang seseorang, perusahaan, atau suatu negara. Pada umumnya rating utang ini menggambarkan bagaimana subjek dapat membayar utangnya dengan menilai riwayat finansial dan aset yang dimiliki si subjek.

Pada Mei 2019 lalu, lembaga pemeringkat global Standard & Poors (S&P) menaikkan peringkat utang Indonesia menjadi ‘BBB’ dari ‘BBB-‘.  Sementara S&P juga meningkatkan rating utang sovereign jangka pendek dari ‘A-2’ ke ‘A-3’. Dengan semakin baiknya rating maka makin banyak keuntungan yang didapatkan sebuah negara. Misalnya saja di sektor investasi.

Baca juga: Investasi atau melunasi utang?

Nah, tulisan ini akan menggambarkan beberapa hal menarik tentang rating utang, dan keuntungannya untuk di Indonesia.

Siapa yang menilai?

Kurang lebih ada 70 lembaga pemeringkat di dunia. Namun hanya tiga lembaga yang mendominasi dan dinamakan “the big three”. Lembaga pemeringkat tersebut adalah S&P Global (Standard S&P’s), Fitch Ratings (Fitch), dan Moody’s.

Moody’s merupakan lembaga pemeringkat tertua yang didirikan pada 1909, sementara Fitch dan Standard S&P’s masing-masing didirikan pada 1914 dan 1941.

Sementara Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OKJ) mengakui enam lembaga pemeringkat yaitu Fitch Ratings, Moody’s, Standard and Poor’s, PT Fitch Ratings Indonesia, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), dan PT ICRA Indonesia (Investment Information and Credit Rating Agency of India).

Lembaga pemeringkat memiliki cara dan metodologi yang hampir sama dalam memperhitungkan peringkat misalnya berdasarkan sejarah keuangan, aset, pertumbuhan ekonomi, kebijakan moneter, dan stabilitas sosial politik sebuah negara.

Peringkat utang yang diberikan

Peringkat yang diberikan biasanya antara AAA hingga D. Rating AAA dianggap layak investasi sementara D dianggap sangat tidak layak (junk).

Peringkat utang suatu negara bisa naik dan bisa turun. Misalnya saja Inggris. Sebelumnya peringkat utang Inggris adalah AAA atau rating sempurna. Namun saat Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa, ratingnya turun karena dianggap perekonomian Inggris berisiko karena pisah dari Uni Eropa. Contoh menarik lain, pada tahun 2012 dan 2013 ada sembilan negara Eropa yang mendadak “turun kelas” peringkatnya karena krisis Eropa, termasuk Prancis.

Bisakah sebuah negara mendapatkan rating sempurna?

Tentu saja bisa. Berdasarkan website countryeconomy.com, hanya ada sepuluh negara yang ratingnya sempurna alias AAA.

Negara-negara tersebut yaitu Kanada, Jerman, Australia, Swiss, Denmark, Luxemburg, Belanda, Norwegia, Swedia, dan Singapura.

Rating yang sempurna itu menandakan negara tersebut dinilai sangat layak sebagai tempat investasi aman.

Dampak rating utang

Rating utang yang tinggi ternyata berpengaruh untuk banyak hal. Misalnya saja bisa mendorong meningkatnya investasi langsung dari luar negeri (Foreign Direct Investment) dan investasi tidak langsung. Investasi tidak langsung ini misalnya di pasar modal atau pasar uang.

Kenapa ini terjadi? Tentu saja karena tingkat kepercayaan investor yang semakin tinggi. Dengan makin banyaknya investasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia jelas akan makin kinclong.

Selain itu rating yang tinggi juga berpengaruh pada jumlah bunga bila negara tersebut meminjam dana dari lembaga keuangan dunia atau negara lain.

Bila rating utangnya tinggi, maka jumlah bunga yang akan diterapkan akan lebih rendah, demikian pula sebaliknya.

Baca juga: Berutang boleh saja asal

Rating utang dan produk investasi

Rating utang juga dapat membantu investor memilih instrumen investasi. Rating utang yang rendah membuat negara atau perusahaan penerbit obligasi memberikan yield atau bunga tahunan yang tinggi untuk menarik investor.

Risiko gagal bayarnya memang lebih tinggi, namun jika negara atau perusahaan terkait menepati komitmen membayar obligasi saat jatuh tempo, potensi keuntungan yang diperoleh pun akan lebih besar. Ini cocok untuk investor tipe agresif atau berani menanggung risiko.

Sebaliknya, rating atau peringkat utang tinggi menjadikan obligasi sebagai investasi aman dan menguntungkan. Ini berlaku untuk obligasi negara dan obligasi perusahaan.

Saat rating utang suatu negara atau perusahaan meningkat, umumnya makin banyak investor yang berminat membeli obligasinya. Harga obligasi pun ikut terdongkrak. Bagi investor yang sudah memiliki obligasi, berpeluang memperoleh capital gain jika menjual obligasi ketika harganya sedang naik.

Jadi jangan heran bila perusahaan-perusahaan dengan grade A ramai-ramai mengeluarkan obligasi karena peringkat utang Indonesia yang membaik.

Sebagai contoh PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) yang mengeluarkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap I sebanyak-banyaknya sebesar Rp500 miliar pada awal Juli lalu.

Berdasarkan Fitch Rating, obligasi ini mempunyai peringkat BBB+, atau termasuk ke dalam Investment Grade. Peringkat utang itu menunjukkan Waskita Beton mampu melunasi utangnya dan jadi daya tarik investor yang ingin berinvestasi secara aman.

Selain itu bila peringkat utang sedang tinggi, para investor disarankan menaruh dana di reksa dana yang basisnya obligasi, misalnya reksa dana pendapatan tetap dan campuran.

Jadi, sebagai investor pemula kamu pun perlu ikut update dengan informasi bisnis serta keuangan dalam dan luar negeri, termasuk mengenai rating utang. Dengan wawasan yang makin baik dan update mengenai investasi, tentu akan membantu kamu memilih investasi aman.