Investasi online pada perusahaan financial technology (fintech) peer to peer (P2P) lending bisa jadi pilihan menarik karena berbagai kemudahan yang ditawarkan. Keuntungan yang bisa dikantongi juga sangat menggiurkan. Kamu akan mendapatkan keuntungan dari sistem bunga atau bagi hasil yang diterapkan. Tapi sebelum berinvestasi, kenali dulu perbedaan potensi dan risiko dari dua sistem keuntungan investasi tersebut.

Pembagian keuntungan investasi dengan sistem bunga sendiri sudah jamak ditemui di masyarakat. Salah satu instrumen investasi populer yang menerapkan sistem bunga adalah deposito. Jika memiliki deposito, kamu akan mendapatkan keuntungan dalam bentuk bunga sesuai ketentuan bank masing-masing. Sistem bunga cenderung lebih mudah dipahami oleh masyarakat.

Dalam skema investasi P2P lending yang tengah berkembang saat ini, sebagian besar perusahaan juga menerapkan sistem bunga. Jadi, kamu yang berinvestasi di P2P lending akan mendapatkan keuntungan bunga dengan besaran yang telah ditetapkan sejak awal.

Baca juga: Plus Minus Investasi di Fintech

Tapi tak semuanya menggunakan sistem bunga, sebagian perusahaan P2P lending menjanjikan keuntungan bagi para investornya lewat sistem bagi hasil. Dalam sistem bagi hasil ini, investor akan mendapatkan estimasi keuntungan yang diperoleh pada periode tertentu.

Tapi realisasi keuntungan bagi hasil yang diperoleh oleh investor bisa berbeda dengan skema awal yang disajikan. Nah, ini yang sering membuat orang bingung dengan sistem bagi hasil investasi. Agar investasi online yang kamu lakukan bisa optimal, simak ulasan perbedaan dua sistem keuntungan investasi tersebut berikut ini.

Penentuan besaran keuntungan

Salah satu yang membedakan sistem bunga dan bagi hasil investasi adalah penentuan besaran keuntungan bagi investor. Pada sistem bunga, besaran bunga yang diperoleh dibuat pada saat akad. Bunga akan diberikan dengan besaran dan jangka waktu yang telah ditentukan.

Bunga akan diberikan tanpa pertimbangan apakah proyek atau usaha yang dibiayai kelak dapat menghasilkan laba atau sebaliknya merugi. Lalu, persentase bunga dihitung berdasarkan jumlah dana yang diinvestasikan oleh investor.

Dengan sistem bunga, seorang investor sudah bisa melakukan kalkulasi berapa imbal hasil yang akan diperoleh pada akhir periode investasinya. Hal ini akan mempermudah investor dalam mengelola portofolio investasinya.

Sedangkan pada sistem bagi hasil, besaran profit yang dibuat pada saat akad mengacu pada rasio atau perbandingan terhadap keuntungan usaha yang dibiayai. Dalam hal ini, investor akan mendapatkan proyeksi keuntungan yang nantinya diperoleh dari dana investasi.

Namun pada saatnya nanti, bagi hasil yang dibayarkan kepada investor akan disesuaikan dengan kinerja usaha atau proyek yang dibiayai dari dana tersebut. Besaran bagi hasilnya berupa persentase dari keuntungan yang diperoleh dari usaha tersebut.

Berpotensi untung tapi berisiko rugi

Dalam sistem bunga, pemberian keuntungan investasi tidak akan memperhitungkan keuntungan atau kerugian yang dialami oleh usaha atau proyek yang dijalankan. Investor akan tetap mendapatkan bunga yang dijanjikan dengan asumsi setiap usaha yang dibiayai akan sukses.

Sementara pada sistem bagi hasil yang dianut oleh P2P lending, berarti membagi risiko serta keuntungan sesuai proporsi yang diajukan di awal. Alhasil, investor mendapatkan potesi untung atas dana yang diinvestasikan, namun investor juga harus siap menanggung risiko rugi sesuai dengan proporsi dana yang ditanamkan.

Baca juga: Kiat Berinvestasi Melalui Peer to Peer Lending

Jika usaha yang dibiayai ternyata gagal atau merugi, maka kerugian itu juga akan ditanggung bersama. Investor akan menanggung risiko rugi atau kehilangan sebagian atau seluruh dana yang telah ditanamkan. Sedangkan peminjam atau pemilik usaha yang menggunakan dana tersebut tidak akan mendapatkan apa-apa dari waktu dan hasil kerjanya.

Bunga tetap vs hasil sesuai kinerja usaha

Keuntungan yang diperoleh dengan sistem bunga bersifat tetap sesuai perjanjian pada saat akad dilakukan. Investor akan memperoleh bunga dalam jumlah pasti sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Jumlah pembayaran bunga tidak akan meningkat meskipun perekonomian tumbuh tinggi dan pasar modal tengah bullish.

Hal ini berbeda dengan sistem bagi hasil di mana keuntungan yang diperoleh oleh investor tidak dalam jumlah yang pasti. Meskipun ada risiko rugi, namun investor juga berpotensi mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar dan meningkat sesuai dengan pertumbuhan bisnis yang sedang dibiayai.

Keuntungan sesuai hukum agama

Sistem bagi hasil umumnya diterapkan oleh perusahaan fintech P2P lending yang menerapkan prinsip syariah. Skema bagi hasil dinilai lebih adil baik bagi pemberi pijaman atau lender dan peminjam atau borrower. Sistem bagi hasil juga nyaris tidak menimbulkan pertentangan pendapat di masyarakat.

Sedangkan dalam konteks hukum Islam, bunga dianggap sebagai riba atau meminta tambahan uang dari pinjaman awal baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam meminjam. Dalam hal ini, bunga bertentangan dengan prinsip syariah.

Mana yang lebih menguntungkan?

Dari sudut pandang investasi, baik sistem bunga maupun sistem bagi hasil dalam investasi online sama-sama memberikan potensi keuntungan yang menjanjikan. Namun jangan lupakan juga risiko dari masing-masing sistem tersebut.

Kamu yang hendak berinvestasi pada P2P Lending dapat menyesuaikan dengan profil risiko dan persepsi investasi yang diyakini. Dengan karakteristik yang berbeda, kamu sebaiknya memilih sistem bunga atau sistem bagi hasil sesuai dengan kebutuhan masing-masing.