Industri perbankan diramaikan dengan kehadiran bank-bank syariah yang menawarkan produk perbankan syariah serupa dengan bank konvensional. Meskipun menawarkan produk dan jasa yang serupa sejatinya perbankan syariah memiliki sejumlah perbedaan yang mendasar bila dibandingkan dengan perbankan konvensional.

Perbankan syariah juga bisa memberikan peluang investasi yang tak kalah menarik. Jika kamu berniat menjadi nasabah bank syariah sebaiknya cermati lebih dahulu seluk beluk bank syariah.

Sejarah bank syariah

Cikal bakal perbankan syariah modern di dunia sebenarnya sudah lahir di Pakistan pada tahun 1940-an. Sebuah bank tanpa bunga di negara tersebut mengelola dana haji. Sayangnya, bank syariah tersebut tidak berjalan sukses.

Keberadaan bank syariah modern baru mulai menggema di dunia setelah pemerintah Mesir mengajukan proposal studi pendirian Federasi Bank Islam pada sidang menteri luar negeri negara-negara Organisasi Konferensi Islam (OKI) Desember 1970.

Mesir sendiri sudah memiliki bank syariah bernama Mit Ghamr yang berkembang pesat. Sejak sidang OKI itu, sejumlah bank syariah bermunculan di berbagai belahan dunia. Bank syariah swasta yang pertama berdiri di dunia bernama Dubai Islamic Bank pada tahun 1975.

Bukan hanya di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam saja, bank syariah juga hadir di negara-negara Barat seperti Denmark, Inggris dan Australia.

Baca juga: Mengenal Sukuk, Investasi Syariah yang Sedang Naik Daun

Di Indonesia, bank syariah hadir pada awal tahun 1990-an. Hal ini diawali dengan Paket Kebijakan Deregulasi Perbankan 1988 (Pakto 88) dari pemerintah yang memberi keleluasaan bagi perbankan untuk mengembangkan bisnisnya guna menunjang pembangunan.

Pada saat itu, sejumlah usaha-usaha perbankan yang berasaskan syariah mulai bermunculan di daerah namun masih dalam skala yang relatif terbatas.

Baru pada tahun 1990, Majelis Ulama Indonesia (MUI) membentuk kelompok kerja untuk mendirikan bank Islam. Tim Perbankan MUI selanjutnya mendirikan bank syariah pertama di Indonesia bernama PT Bank Muamalat Indonesia (BMI) pada tanggal 1 November 1991.

Yang terbaru, data statistik perbankan syariah yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Mei 2019 menunjukkan terdapat 14 bank umum syariah di Indonesia dengan total aset mencapai Rp313,21 triliun. Selain itu terdapat 20 unit usaha syariah dari bank konvensional dengan total aset mencapai Rp 159,19 triliun.

Prinsip dasar perbankan syariah

Bank syariah beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah yang berpedoman kepada Al Quran dan Hadist. Hal itulah yang menjadi perbedaan utama antara bank syariah dengan bank konvensional.

Dalam operasionalnya, bank syariah dilarang mengandung unsur-unsur maisir, gharar dan riba. Maisir adalah memperoleh keuntungan tanpa harus bekerja keras. Gharar berarti sesuatu yang mengandung ketidak jelasan, pertaruhan, dan perjudian.

Sedangkan riba adalah pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara bathil. Bunga uang atas pinjaman yang berlaku di perbankan konvensional dianggap sebagai riba yang diharamkan oleh ajaran Islam.

Dalam kegiatan operasionalnya, bank syariah memiliki tiga fungsi yakni penghimpunan dana, penyaluran dana, dan produk perbankan lainnya.

Baca juga: Investasi Kecil-kecilan Modal Recehan Lewat Platform Investasi

Jadi perbankan syariah juga memiliki produk yang serupa dengan produk bank konvensional seperti tabungan, giro, dan deposito. Namun prinsip-prinsip syariah tetap melekat pada produk tersebut.

Penghimpunan dana masyarakat tersebut harus berdasarkan pada prinsip wadi’ah. Dalam wadi’ah yad dhamanah, pihak yang dititipi harta titipan bertanggung jawab atas keutuhan harta tersebut sehingga ia boleh memanfaatkan harta titipan tersebut.

Selain itu, ada prinsip mudharabah di mana penyimpanan atau deposan bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik modal dan bank sebagai mudharib atau pengelola. Dana tersebut digunakan bank untuk melakukan murabahah atau ijarah. Hasil usaha ini akan dibagihasilkan berdasarkan nisbah yang disepakati.

Jenis akad bank syariah

Ada sejumlah akad atau kesepakatan yang didasari keterikatan satu sama lain dalam ijab dan kabul yang berlaku di perbankan syariah. Berikut ini ulasannya.

1. Wadiah

Wadiah merupakan akad penitipan barang atau uang. Penitipan barang bertujuan untuk menjaga keselamatan, keamanan, serta keutuhan barang atau uang yang dimiliki.

2. Mudharabah

Mudharabah merupakan akad kerja sama suatu usaha antara pihak pertama yang menyediakan seluruh modal dan pihak kedua yang bertindak sebagai pengelola dana.

3. Musyarakah

Musyarakah merupakan akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk usaha tertentu di mana masing-masing pihak memberikan porsi dana tertentu.

4. Murabahah

Murabahah merupakan akad pembiayaan suatu barang di mana pembeli akan membayar dengan harga yang lebih tinggi sebagai keuntungan yang disepakati.

5. Salam

Salam merupakan akad pembiayaan suatu barang di mana pemesanan dan pembayaran barang dilakukan terlebih dahulu sesuai kesepakatan.

6. Istisna’

Istisna’ merupakan akad pembiayaan barang dalam bentuk pemesanan pembuatan barang sesuai kesepakatan antara pembeli dan penjual.

7. Ijarah

Ijarah adalah akad penyediaan dana untuk keperluan memindahkan hak guna atau manfaat dari suatu barang atau jasa berdasarkan transaksi sewa.

8. Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik

Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik hampir sama dengan ijarah. Namun dalam transaksi sewa ini terdapat opsi pemindahan kepemilikan barang.

9. Qardh

Qardh adalah akad pinjaman dana kepada nasabah dengan perjanjian dana akan dikembalikan pada waktu yang telah disepakati.

Pada praktiknya di bank syariah, barang yang dimaksud dalam akad atau kesepakatan bisa berupa barang konsumtif, serta barang modal/barang investasi seperti pembiayaan sepeda motor, mobil, atau rumah.

Peluang investasi di bank syariah

Dengan menerapkan prinsip-prinsip syariah dalam setiap akad yang dilakukan, maka bank syariah dipastikan menjalankan bisnisnya sesuai dengan ajaran Islam. Jadi kamu yang menjadi nasabah bank syariah bisa beribadah dengan tenang tanpa perlu khawatir dengan dosa akibat riba.

Dana yang dihimpun oleh perbankan syariah juga disalurkan ke masyarakat dalam bentuk pinjaman atau pembiayaan. Namun bank syariah hanya akan menyalurkan pinjaman dan pembiayaan pada usaha yang halal.

Bank syariah tidak akan menyalurkan dana untuk membiayai bisnis seperti perusahaan minuman keras, hotel, hiburan malam, dan lain-lain. Dana akan disalurkan pada usaha-usaha yang sesuai dengan ketentuan syariah.

Jika kamu ingin terlibat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi syariah, kamu bisa berinvestasi di perbankan syariah lewat beberapa cara. Dengan investasi ini, kamu akan mendapatkan imbal hasil yang sesuai ketentuan syariah juga.

Sebagai investor, kamu bisa berinvestasi di perbankan syariah lewat kepemilikan saham bank syariah jika memang sahamnya dijual ke publik. Selain itu, kamu dapat melakukan penempatan atau penyaluran dana di bank syariah.

Penempatan dan penyaluran dana di bank syariah dapat dilakukan lewat investasi pada pinjaman subordinasi untuk memperkuat modal bank, penempatan dana, dan penyaluran dana melalui skema investasi terikat (mudharabah muqayyadah).

1. Investasi atau pinjaman subordinasi

Sebagai investor, kamu bisa menanamkan dana di bank syariah dalam bentuk investasi atau pinjaman subordinasi. Investasi tersebut bisa dilakukan apabila sebuah bank syariah menerbitkan surat utang subordinasi yang tujuannya untuk memperkuat struktur permodalan bank syariah.

Bank dapat menerbitkan pinjaman subordinasi dengan jumlah maksimal 50% dari modal inti. Ada beberapa ketentuan pinjaman subordinasi di antaranya adalah menggunakan prinsip mudharabah atau musyarakah, ada perjanjian tertulis antara bank dengan investor, mendapat persetujuan terlebih dahulu dari otoritas berwenang serta minimal berjangka waktu lima tahun.

2. Penempatan dana di bank syariah

Kamu juga bisa berinvestasi di perbankan syariah lewat tabungan dan  deposito dengan akad mudharabah. Prinsip investasi ini berbeda dengan penanaman dana di bank umum konvensional.

Di bank konvensional, imbal hasil akan ditetapkan di muka dan bersifat debt contract. Sedangkan bank syariah menggunakan akad mudharabah di mana imbal hasil dihitung berdasarkan kinerja pengelolaan dana bank dan bersifat equity contract.

Tren penempatan dana di bank syariah biasanya meningkat bila terjadi penurunan suku bunga pada bank umum konvensional. Saat suku bunga bank konvensional cenderung turun, banyak nasabah melihat penempatan dana di bank syariah lebih menjanjikan.

3. Penyaluran dana dengan skema investasi terikat  atau mudharabah muqayyadah

Kamu juga bisa menyalurkan dana kepada pihak atau proyek tertentu melalui bank syariah dengan skema investasi terikat atau mudharabah muqayyadah. Penyaluran dana ini dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama.

Investor dapat menyalurkan dana sesuai dengan sektor usaha, pihak penerima investasi, maupun tingkat risiko yang diinginkan oleh investor. Bank syariah sendiri akan memperoleh fee atas penyaluran dana dengan skema investasi terikat.

Bagaimana, tertarik untuk menjadi nasabah sekaligus investor perbankan syariah?