Wirausaha muda Daudy Sukma membuka usaha produksi parfum dengan melihat kekhasan dan bahan baku lokal dari Aceh. Produknya langsung terkenal ke mancanegara. Daudy Sukma punya cita-cita yang tidak mainstream: Aceh harus menjadi kiblat parfum dunia.

Baca juga: Turun Berat Badan jadi Awal Bisnis Dio Santoso

Keinginannya itu berdasarkan fakta bahwa Aceh termasuk penghasil minyak nilam, bahan dasar pengikat bau pada minyak wangi. Selain itu minyak nilam asal Aceh termasuk kualitas jempolan dan sudah diekspor ke berbagai negara, termasuk Prancis, yang menjadi pusat parfum dunia.

Berawal dari semangat itu, wirausaha muda usia 30 tahun ini mendirikan sebuah pabrik produksi parfum rumahan yang ia namakan Minyeuk Pret. Usaha ini mulai dirintis awal 2014 di rumah orangtuanya, di Kecamatan Lam Ara, Banda Aceh.

Belajar membuat parfum dari Youtube

Ternyata tidak mudah membuat usaha parfum. Maklum, mencari guru untuk membuat parfum nyaris tidak mungkin di Aceh. Di sini jiwa wiraswasta Daudy diuji. Untungnya pemuda lulusan fakultas ekonomi Universitas Syiah Kuala ini tidak kehabisan akal. Dia akhirnya belajar memproduksi parfum secara otodidak lewat Youtube.

“Saya mencari tahu bagaimana membuat parfum, coba, gagal, coba gagal, sampai akhirnya saya berhasil menemukan 11 varian aroma dari ekstrak minyak nilam, yang saya pikir cocok dengan selera konsumen,” kenang Daudy sambil tersenyum.

Hampir setahun sejak uji coba membuat parfum, pada 1 Januari 2015 Daudy pun merilis Minyeuk Pret ke publik. Tak disangka dalam waktu 8 jam setelah launching dia langsung menerima pesanan sebanyak 1.683 botol. Menerima pesanan sebanyak itu Daudy sempat kebingungan, Masalahnya dia baru mampu memproduksi 200 botol. Tak mau menyiakan-nyiakan rezeki di depan mata, Minyeuk Pret akhirnya membuka metode pembayaran awal (uang muka) untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Sempat ditertawakan

Meskipun sukses dalam launching Minyeuk Pret di Aceh, Daudy sempat ditertawakan saat mempresentasikan Minyeuk Pret di Kementerian Perindustrian. “Begitu saya jelaskan bawa produk saya bernama Minyeuk Pret, semua orang yang hadir tertawa. Saya pun menjelaskan filosofi Minyeuk Pret dan kenapa menjadi brand parfum,” kenang Daudy.

Menurut Daudy, dalam Bahasa Aceh Minyeuk Pret artinya minyak yang disemprot (Minyeuk = minyak, Pret = semprot). Zaman dulu, orang tua di Aceh kerap menyebut parfum sebagai Minyeuk Pret. Namun anak muda Aceh mulai melupakan sebutan tersebut karena lebih sering menyebut minyeuk pret sebagai parfum.

Pemberian nama dengan kekhasan lokal diharapkan bisa meniru beberapa merek asal China dan Korea yang mendunia, seperti Changhong atau Xiaomi. “Itu akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi anak Aceh,” tambahnya.

Aroma Minyeuk Pret

Sejak launching, Minyeuk Pret memiliki lima varian aroma, yaitu tiga legendary smell Seulanga, Coffee, dan Melu,  serta dua varian premium Sanger Espresso dan Jeumpa. Menurut Daudy, Sanger Espresso menjadi bahan pembicaraan di kalangan pencinta parfum sejak produk ini dipasarkan karena terinspirasi dari kopi yang menjadi komoditas unggulan di Aceh.

Aroma Sanger Espresso diekstrak langsung dari kopi jenis arabica Gayo. Tidak berbeda dengan empat varian lainnya yang juga diekstrak langsung dari bunganya. Harga jual Minyeuk Pret dibanderol seharga Rp110 ribu (30ml). Selain ketiga parfum tersebut, dua varian premium yaitu aroma Jeumpa dan Sanger Espresso dijual dengan harga Rp330 ribu per botol (50ml).

Dalam sebulan, wirausaha muda ini mampu menjual rata-rata 500 hingga 1000 buah dengan omzet sekitar Rp500 jutaan. “Khusus di Aceh sendiri paling banyak diminati adalah aroma Seulanga (Kenanga) dan Kopi, sementara di wilayah Pulau Jawa adalah Meulu (Melati),” katanya.

Baca juga: Kemas Makanan Bergizi dalam Bentuk Serbuk Ala Superfood

Mengembangkan sayap

Minyeuk Pret kini sudah memiliki sekitar 524 reseller di seluruh Indonesia, 27 outlet mitra, empat sub-distributor, dan dua gerai resmi. Penjualannya tersebar di 17 negara di antaranya Inggris, Arab Saudi, Amerika, Malaysia, Taiwan, Bangladesh, Uni Emirat Arab, India, dan Thailand.

Untuk memproduksi Minyeuk Pret, Daudy memperkerjakan 14 karyawan tetap dan enam pekerja lepas. Mengusung taglineBe Good”, Minyeuk Pret benar-benar fokus dalam menciptakan produk yang diproduksi dari bahan baku terbaik, diproses dengan metode terbaik, kemudian diolah sampai diterima konsumen dalam keadaan yang baik.

Daudy menjamin, jika produk tidak baik atau konsumen tidak puas, pihaknya akan mengganti produk atau mengembalikan uangnya. Dalam waktu dekat, rencananya Minyeuk Pret sudah menyiapkan beberapa varian aroma baru, untuk menambah koleksi aroma parfumnya. Tidak hanya parfum, pada 2020, Minyeuk Pret juga akan memproduksi produk turunan minyak nilam lainnya seperti lotion, shampoo, body wash, dan deodoran, namun tetap pada karakter bau khas ke-Acehan.

“Tentu ini tinggal tunggu waktu. Insya Allah tahun depan produk-produk tersebut akan kita pasarkan,” ungkap Daudy, sang wirausaha muda dari Aceh.