Bisnis pencucian pakaian atau laundry di kota Banda Aceh bukan sebuah hal yang baru. Semakin padat penduduk kota yang memiliki rutinitas pekerjaan di Banda Aceh, maka tak pelak kebutuhan akan laundry pun semakin penting. Tak heran usaha pencucian pakaian laris bak kacang goreng.

Baca juga: Minyak Pereut Ala Daudy Sukma

Sayangnya, banyak konsumen yang mengaku kurang puas karena dihadapkan dengan masalah klasik, semisal pakaian yang dititipkan konsumen sering tertukar, hilang, atau waktu pencucian yang kerap molor. Peluang ini kemudian dimanfaatkan wirausaha mudaSuhil Alfata untuk membuka bisnis laundry berbasis digital.

“Dengan layanan laundry berbasis digital seperti ini, pelanggan bisa memantau langsung status laundry-nya,” kata pemuda berusia 28 tahun ini sambil tersenyum. Pada awal Januari 2019 lalu, Suhil resmi mendirikan usaha laundryberbasis digital pertama di Banda Aceh, dengan nama Nyuci.in Laundry.

Bermula dari aplikasi transportasi

Sebelum terjun berbisnis, Suhil sempat berkarier di sebuah perusahaan berbasis web developer di Jakarta. Bergaji puluhan juta per bulan dengan nama perusahaan yang lumayan mentereng ternyata tidak membuatnya puas. Rupanya dia penasaran ingin mewujudkan cita-cita masa kecilnya.

“Dari awal saya kepingin jadi pengusaha, makanya saya keluar dari perusahaan di Jakarta dan pulang ke Aceh membuka usaha sendiri,” ungkap Suhil. Setibanya di Aceh, Suhil mencoba bisnis transportasi antar jemput berbasis aplikasi. Dengan keahliannya merancang aplikasi, Suhil membuat aplikasi antar jemput orang yang diberi nama “Jakpekan” yang artinya “pergi ke pasar”.

Aplikasi Jakpekan sempat memiliki driver sebanyak 20 orang yang bertugas mengantar-jemput konsumen, sayangnya layanan online itu hanya sanggup bertahan kurang dari setahun. “(Tutup) Semenjak ojek online masuk ke Aceh,” kata Suhil sambil menambahkan bahwa dia tidak mampu bersaing dengan perusahaan transportasi online prominen.

Putus asa? Bukan Suhil kalau berjiwa menyerah. Gulung tikarnya Jakpekanjustru membuat pemuda ini putar otak mencari bisnis “unik” lainnya untuk dirintis di Aceh. Di situlah, ide membuat laundry berbasis digital muncul.

Membesarkan Nyuci.inLaundry

Dengan aplikasi Nyuci.in Laundry, pelanggan cukup mendaftarkan pakaian yang akan dicuci melalui aplikasi. Kemudian kurir akan datang menjemput pakaian, dicuci, disetrika dan diantar kembali kepada pelanggan. Sementara menunggu cuciannya selesai, pelanggan Nyuci.in Laundry bisa langsung memantau status laundry masing-masing melalui aplikasi.

Aplikasi juga memiliki fasilitas costumer care untuk menyalurkan ketidakpuasan atau keluhan pelanggan seandainya ada masalah seperti pakaian tertukar, ketinggalan, atau hilang. “Yang pasti kita sangat menjaga jangan sampai hal-hal buruk itu terjadi,” kata Suhil.

Menurut pengakuan wirausaha muda ini, aplikasinya sudah di-downloadribuan orang dengan penggunaan rata-rata per hari mencapai 300 pelanggan. Dalam sehari, Nyuci.in Laundry melakukan dua kali antar jemput cucian, dengan biaya Rp8000 per kilogramnya. Harga itu sudah termasuk ongkos antar jemput. Suhil menyediakan becak motor untuk transportasi antar jemput pakaian. Namun bila pelanggan mengantarkan langsung cucian, biayanya menjadi Rp7000 per kilo.

Jeli melihat segmen pasar

Dari awal membuka bisnis ini, pangsa pasar yang diambil Suhil adalah kalangan ibu-ibu yang padat dengan rutinitasnya. Menurutnya, ibu-ibu biasanya kerepotan mengurus cucian, apalagi mereka yang baru punya anak.

“Jujur, saya tidak mengira pangsa pasar dari kalangan ibu-ibu bisa sebesar ini. Bisnis baru berjalan tujuh bulan, dan pelanggan makin bertambah,” kata Suhil. Menurut Suhil potensi bisnis pencucian pakaian di kota Banda Aceh masih cukup menjanjikan. Menurut perhitungan Suhil, perputaran uang di bisnis ini mencapai Rp25 miliar.

“Kita hanya butuh satu persen dari total perputaran uang pada bisnis ini, kita sudah untung, tidak perlu bersaing dengan laundry yang sudah ada,” katanya optimistis.

Baca juga: Resep Pengusaha Muda Eksportir Ikan Hias

Belum siap buka cabang

Pemuda kelahiran Keulibeut Pidie ini mengaku banyak yang meminta Nyuci.in Laundry untuk buka cabang di kota-kota lain di Aceh dan Sumatera. Namun dia bertekad akan fokus di Banda Aceh terlebih dahulu. “Minimal dua tahun ke depan fokus di Banda Aceh dulu. Nanti baru buka cabang,” katanya.

Saat ini, Nyuci.in Laundry menerima pakaian 100 hingga 350 kilogram pakaian kotor dalam sehari. Rata-rata omzetnya mencapai Rp260 juta sebulan. “Lima puluh persen dari omzet,” beber Suhil mengungkapkan keuntungannya.

Suhil menyatakan masih mengejar target untuk mendapatkan cucian kotor sebanyak 1 ton setiap hari secara stabil. “Semoga bisa tercapai dalam dua tahun ke depan,” kata alumni Politenik Aceh ini. Jeli melihat peluang pasar dan semangat pantang menyerah adalah dua hal yang bisa kamu contoh dari wirausaha muda Suhil Alfata. Berani meniru jejaknya?