Martalinda Basuki adalah pengusaha muda yang merintis bisnis kafe sejak masih duduk di bangku kuliah semester tiga. Modal usaha diperoleh dari menjual sepeda motor dan laptop. Selain itu, dia juga meminjam uang dari berbagai sumber hingga Rp 50 juta.

Dari bisnis kafe dia beralih ke bisnis minuman cokelat dengan merek Coklat Klasik. Setelah usahanya maju, dia menjual paket bisnisnya pada mitra di berbagai daerah. Perempuan 27 tahun ini kini memiliki 300 gerai Coklat Klasik yang tersebar di seluruh Indonesia.

Baca juga:: Berawal dari Obesitas Kini Rintis Bisnis Katering Sehat 

Berikut ini petikan wawancara yang dilakukan oleh tim Satu Tumbuh Seribu dengan Martalinda Basuki.

Apa motivasi kamu dalam berbisnis?

Pertama, dari kecil lingkungan banyak yang menjadi pedagang. Jadi saya ikut eyang dan bude. Eyang usaha katering tapi tidak tetap, suka masakin orang. Bude usaha bakery sering ada pesanan. Aku sering bantu dan tahu aktivitas perdagangan, kok enak ya jualan dapat duit. Dari SD aku jualan apa yang bisa dijual di sekolah dari jual pensil sampai jual sepatu. Jadi aku jual apa saja yang bisa dijual. Tapi aku ga pernah jual diri ya hehe.

Aku lihat menjadi seorang pengusaha itu kayak bisa jadi seorang yang bebas. Apalagi sering ikut seminar. Motivator bilang kalau mau bebas finansial, bebas atur waktu, bebas apapun, jadi aja pengusaha, ga diatur-atur orang. Ekspektasi siapa sih yang ga pengin santai, duduk aja duit udah datang.

Kata orang Jawa ongkang-ongkang duit wis metu dewe, duduk aja duit datang sendiri. Awalnya sih, diracunin gitu sama motivator-motivator. Tapi ketika jalanin bisnisnya itu ternyata kita harus kerja 24 jam . Ya gimana kalau ga kerja bisnis ga running. Apalagi aku pengin jadi wanita yang bisa fokus ke keluarga. Makanya dulu waktu motivator bilang bebas atur waktu aku seneng banget. Impian banget jadi pengusaha karena aku akan jadi ibu, jadi istri, harus banyak waktu di rumah.

Sebelum menjalankan bisnis Coklat Klasik, apakah pernah menjajal bisnis yang lain?

Banyak bisnis yang sudah aku coba. Dari SD aku sering dibawakan bekal seperti pisang goreng dan mie. Aku sengaja minta banyak karena di sekolah aku jualin ke teman yang punya duit, kalau ga punya duit ya aku kasih. Dulu karena tinggal sama orang tua kalau beli peralatan sekolah selalu banyak misalnya pensil satu pack, buku satu pack, aku langsung bawa semuanya, dan teman-temanku pada suka ya udah beli.

Lalu, SMP juga sama. SMA pernah usaha jasa untuk mading (majalah dinding). Jadi teman-teman yang masuk ke ekstrakurikuler mading itu ga bisa bikin mading, sering banget kebingungan bikin kliping. Itu peluang. Aku bikin satu kliping dijual Rp 5.000. Pernah jualan siomai ambil dari warung siomai depan SMP dulu. Aku beli Rp 2.000, repack pakai plastik mika dan dijual Rp 2.500. Ga ngitung biaya wira- wiri, mika, asal laku ya udah.

Pernah jadi koordinator kelas. Jadi kalau dies natalis pesan kaos ke aku. Aku juga pernah jualan pulsa. Pernah bisnis rental mobil, dari jadi agen doang nyari yang butuh mobil sampai punya mobil sendiri direntalin. Tapi akhirnya bisnis itu tutup karena risiko gede banget, mobil aku pernah hilang tujuh mobil dan ga kembali.

Saat mahasiswa, aku bekerja sama dengan temen bikin bisnis clothing dan tas handmade. Modal Rp 2 juta dari aku dan Rp 2 juta dari temenku. Aku bagian pembelanjaan, aku tahu supplier termurah di mana, pasarnya siapa, mau dijual ke siapa. Suatu waktu aku lagi ga bisa belanja, temanku yang datang ke supplier, akhirnya dia tahu supplier-nya siapa. Terus aku juga ga bisa ngirimin, lalu dia yang ngirimin alhasil dia juga jadi tahu siapa aja pasarnya.

Akhirnya dia kembalikan modal dan keuntunganku lalu dia jalanin sendiri usahanya. Semenjak itu aku ngga mau lagi bisnis yang sistemnya partnership tanpa perjanjian yang jelas.

Bisnis-bisnisku selain kuliner ga ada yang sukses mungkin karena ngejalaninnya hanya sekedar have fun. Tahun 2011, bikin kafe di kampung Inggris. Tapi ga didukung orang tua. Akhirnya jual barang-barang yang kupunya. Bisnisnya bangkrut dengan total utang Rp 50 juta. Aku berusaha survive karena aku punya tanggung jawab yang besar. Waktu itu aku punya lima orang pegawai. Mereka sampai bilang rela ga digaji asalkan tetap kerja sama saya. Dari situ saya memilih bertahan dengan konsep gerobakan. Bikin gerobak es cokelat.

Awalnya ga jalan mulus. Banyak orang yang ga mau menyewakan halaman tokonya karena takut kotor, takut ramai banget, takut privasi terganggu. Susah cari lahan dan cari pegawai. Pegawaiku yang di kafe ga mau bantu karena mereka malu jualan di gerobak. Dari situ aku simpulkan sebagai pengusaha tuh ga bisa menggantungkan mimpi-mimpi kita sama tim karena untuk mengukir mimpi yang sama di orang yang berbeda itu sangat susah.

Waktu itu aku masih kuliah di Malang, kalau bolak-balik Kediri-Malang pulang pergi sangat melelahkan. Maka diputuskan membawa gerobak itu ke Malang dan jualan di depan kampus. Tahun 2012 belum hits entrepreneurship jadi orang ngelihat kita yang berusaha gini kayak nganggepnya miskin banget sampai aku ga punya temen karena mereka malu lihat aku yang jualan di gerobak.

Baca juga: Dari Hobi, Kini Bersepeda jadi Bisnis

Apa yang kamu lakukan saat bisnis yang dijalankan gagal dan ga sesuai rencana?

Mencoba dan terus mencoba karena aku otodidak dan ga punya mentor. Rencanaku dijalanin. Jika berhasil alhamdulillah, jika ngga ya dicoba lagi.

Pernah punya pengalaman kurang menyenangkan selama berbisnis?

Pernah punya tim yang menyalahgunakan wewenang sampai dia dipenjara, rombongku pernah dibakar orang, rombongku kecolongan, ditipu konsultan, ditipu calo, mitra tiba-tiba bikin sendiri dan pasarnya digantiin dia.

Kenapa kemudian memilih bisnis minuman cokelat?

Coklat Klasik dimulai tanggal 6 Oktober 2012 di Jalan MT Haryono Malang di depan Fakultas Ilmu Administrasi Publik Universitas Brawijaya.

Kenapa bisnis minuman cokelat? Karena es cokelat adalah salah satu menu di kafeku yang bangkrut dan menu paling laris. Pernah nyebar kuesioner dan tanya kenapa suka minuman cokelat itu. Mereka bilang karena ini beneran real dark chocolate.

Kenapa diberi nama Coklat Klasik?

Karena bisnis kuliner harus to the point. Namanya jangan dibikin sulit misalnya dengan kebarat-baratan atau kejepang-jepangan karena orang ga akan ngerti itu apaan. Ketika namanya coklat orang akan paham, oh kamu jualan cokelat. Tinggal cokelat yang seperti apa, baru kita jelasin di tagline. Kalau brand aku Coklat Klasik, tagline-nya It’s real ice or hot chocolate.

Jadi di tagline itu aku jelasin kalau aku jualan minuman bukan cokelat batangan. Kafeku yang dulu namanya Cafe Klasik. Aku pengen kafeku sebagai sumber kebahagiaan orang. Orang yang mampir ke kafeku happy, terpenuhi kebutuhannya. Klasik singkatan dari Kedai Lala Asik.

Bagaimana potensi pasar minuman cokelat di Indonesia?

Potensinya masih gede banget. Aku bermimpi cokelat Indonesia jadi kayak kopi indonesia saat ini. Aku pengen orang teredukasi tentang cokelat bahwa cokelat yang baik itu adalah cokelat yang tidak pakai gula dan lain-lain. Visi Coklat Klasik adalah menduniakan cokelat Indonesia. Kita menggunakan bahan-bahan baku asli Indonesia. Kita pengin menunjukkan kepada dunia bahwa cokelat Indonesia itu sangat bangus dan layak untuk dinikmati dan dibanggakan masyarakat kita.

Berapa modal yang dibutuhkan untuk membangun bisnis minuman cokelat?

Konsepku bisnis kemitraan. Modalnya Rp 15 juta. Kalau bentuknya kafe modalnya mulai dari Rp 165 juta.

Pengembangan bisnis dengan ikut kompetisi dari program mahasiwa wirausaha. Pernah jadi winner Wirausaha Baru Bank Indonesia, winnerIndonesian Brand Everywhere, runner up Wirausaha Muda Mandiri. Dari situ bisa bantu permodalan tapi tetap masih punya utang untuk pengembangan usaha.

Apa saran bagi milenial yang ingin berbisnis tapi terkendala modal?

Pertama, bisnis selain passion juga butuh keberanian mengambil keputusan. Yang tahu seberapa keberanianmu ya kamu sendiri. Yang bisa memutuskan juga kamu sendiri. Selama kamu penuh dengan keragu-raguan kamu ga akan jalan. Apakah kamu berani ngambil keputusan dengan risiko yang besar? Harus siap dari awal kalau ga siap bakal stres.

Kedua, tetep harus cari modal karena ga ada bisnis yang tanpa modal misalnya dari nabung. Bikin perencanaan bisnis lalu dipresentasikan ke orang tua, keluarga dan teman

Bisnis di bidang makanan dan minuman memiliki tingkat persaingan yang sangat tinggi. Bagaimana cara bersaing dengan pengusaha lain yang bergerak di bidang yang sama?

Terus berinovasi, terus mengenalkan produk ke konsumen karena konsumen terus bergerak, jadi harus terus promosi.

Apa target dan rencana pengembangan Coklat Klasik ke depan?

Targetnya cabang harus banyak makanya kita bikin konsep kemitraan.

Menurutmu apa kunci sukses dalam berbisnis?

Ketulusan. Jalani semuanya setulus mungkin karena jika kita tulus maka banyak dampak yang Allah ciptakan untuk kita, serta terus berdoa.

Bagaimana tanggapanmu tentang investasi?  Investasi apa yang kamu lakukan?

Investasi penting banget. Aku investasi properti dan mulai nyicil emas.