Karena potensi dan risiko reksadana tematik menjadikan bentuk reksadana ini patut diperhitungkan. Dengan racikan portofolio yang unik, reksadana tematik bisa memberikan return atau imbal hasil yang ciamik. Di sisi lain karena keunikannya itu, reksa dana tematik juga memiliki risiko investasi yang tak kalah besar.

Kejelian dalam memilih produk yang tepat menjadi kunci sukses kamu dalam berinvestasi pada jenis reksa dana ini. Sebelum berinvestasi, kamu harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai produk dan aset dasar utama produk reksadana tematik. Sekaligus potensi dan risiko reksadana tematik.

Apa itu reksadana tematik?

Di tengah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang fluktuatif, perusahaan manajer investasi melihat adanya sektor-sektor saham tertentu yang memiliki kinerja dan prospek yang jauh lebih tinggi di bandingkan dengan pergerakan IHSG. Manajer investasi pun berinovasi dengan menciptakan produk investasi berupa reksadana yang membungkus saham-saham pada sektor yang potensial sebagai aset dasarnya.

Baca juga: Langkah Simpel Menghitung Hasil Investasi Reksa Dana

Produk reksadana tersebut sangat tematik karena hanya mengambil saham-saham yang ada pada sektor terpilih. Jadi secara umum, reksadana tematik adalah produk reksadana yang memiliki kebijakan investasi yang hanya fokus pada sektor saham tertentu seperti infrastruktur, konsumsi, agrobisnis, komoditas, dan lain-lain.

Dengan kebijakan investasi tersebut, sebagian orang juga menyebut reksadana tematik sebagai reksadana sektoral. Kebijakan investasi pada reksadana ini umumnya menempatkan investasi dana kelolaan pada efek ekuitas kategori sektor tertentu minimal 80% dan maksimal 100%. Sedangkan sisanya sekitar 20% diinvestasikan pada instrumen pasar uang atau setara kas dengan jatuh tempo kurang dari 1 tahun.

Kinerja sektor saham

Dengan karakteristik reksadana tematik yang hanya fokus berinvestasi pada satu sektor saham, maka imbal hasil reksadana tematik akan bergantung pada kinerja sektor saham yang menjadi aset dasarnya. Untuk itu sebelum membeli reksadana tematik, kamu perlu mencermati tren pergerakan sektor saham tersebut.

Baca juga: Reksa Dana Pendapatan Tetap: Investasi Jangka Menengah yang Cukup Stabil

Informasi umum tentang sektor saham tersebut biasanya sudah tersedia di prospektus dan fund fact sheet produk reksa dana yang akan dibeli. Namun sebaiknya kamu juga mencari informasi tambahan dari sumber lain.Data indeks saham sektoral bisa diperoleh salah satunya dari website resmi Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebagai contoh, per 6 September 2019 secara year to date (YTD), kinerja indeks pertanian -14,24%, indeks pertambangan -4,24%, indeks industri dasar dan kimia 6,33% serta indeks aneka industri -14,31%.

Sedangkan indeks industri barang konsumsi -8,18%, indeks properti, real estat, dan konstruksi bangunan 8,80%, indeks infrastruktur, utilitas, dan transportasi 11,82%, indeks keuangan 6,95%, indeks perdagangan, jasa, dan investasi 3,86% serta indeks manufaktur -5,37%.

Dari data tersebut, kita bisa melihat bahwa saham sektor infrastruktur tumbuh kencang sebesar 11,82% secara year to date (ytd). Dengan demikian, produk reksadana tematik yang fokus pada saham sektor infrastruktur semestinya memberikan imbal hasil yang sepadan juga.

Sebaliknya kinerja saham barang konsumsi minus 8,18% pada periode yang sama. Dengan demikian, produk reksadana tematik yang fokus pada saham sektor konsumsi mungkin tidak memberikan imbal hasil optimal pada periode tersebut.

Namun kinerja sektor saham tidak bisa menjadi satu-satunya acuan imbal hasil reksadana tematik. Sebab, manajer investasi dapat mengatur ulang aset dasar reksa dana sesuai dengan evaluasi indikator ekonomi dan pergerakan saham yang dipilih.

Selain itu, perlu dicatat juga bahwa performa reksa dana di masa lampau tidak mencerminkan imbal hasil yang akan diperoleh di masa depan. Ada banyak faktor yang akan mempengaruhi imbal hasil reksa dana seperti kebijakan ekonomi pemerintah, kebijakan bank sentral, nilai tukar rupiah, harga komoditas di pasar global, perang dagang dan lain-lain.

Potensi imbal hasil

Reksadana tematik berpotensi memberikan imbal hasil melampaui rata-rata kinerja reksa dana saham dan IHSG. Potensi keuntungan tersebut bisa diraih jika dana diinvestasikan pada sektor saham yang tepat dan pada waktu yang tepat.

Sebagai contoh saham sektor pertanian dan pertambangan akan diuntungkan ketika terjadi kenaikan harga komoditas di pasar global. Lalu sektor infrastruktur akan diuntungkan dengan gencarnya pembangunan infrastruktur oleh pemerintah. Sektor perbankan juga akan tumbuh signifikan di tengah rendahnya tingkat suku bunga.

Baca juga: Reksa Dana, Tren Mahar Perkawinan Terkini

Jika bisa membaca peluang sektor saham di masa depan, kamu bisa mengoptimalkan potensi dan risiko reksadana tematik yang sesuai.

Risiko investasi

Kebijakan investasi reksadana tematik yang hanya fokus pada sektor saham tertentu dapat menjadi pedang bermata dua bagi investor. Di satu sisi, potensi keuntungan bisa dioptimalkan ketika sektor saham yang dipilih tengah bullish. Di sisi lain, return reksadana tematik akan jatuh jika kinerja sektor saham tersebut tengah terpuruk.

Fokus investasi pada sektor saham tertentu akan membatasi ruang gerak manajer investasi dalam meracik portofolio investasi reksadana tematik. Ibarat menaruh telur dalam satu keranjang yang sama, jika keranjang jatuh maka seluruh telur akan pecah. Reksa dana ini memiliki risiko investasi yang lebih besar dibandingkan dengan jenis reksa dana nontematik.

Diversifikasi investasi

Pada dasarnya, seorang investor reksa dana tidak harus memiliki keterampilan dan pengetahuan yang mendalam tentang seluk beluk investasi saham. Sebab, pengelolaan dana investasimu akan dilakukan oleh manajer investasi yang ahli dalam bidang tersebut.

Tapi untuk berinvestasi pada reksadana tematik, sebaiknya kamu memiliki pengetahuan yang cukup untuk membaca peluang sektor saham yang akan tumbuh di masa depan. Dengan demikian, kamu bisa memilih produk reksadana tematik yang tepat yang ditawarkan oleh beberapa perusahaan manajer investasi.

Selanjutnya, percayakan pengelolaan dana investasimu pada manajer investasi sambil terus memantau imbal hasil yang diraih. Lalu untuk mengurangi risiko investasi, sebaiknya kamu tidak hanya berinvestasi pada produk reksadana tematik saja.

Lakukan diversifikasi investasi pada jenis reksa dana lain yang memiliki tingkat risiko lebih rendah, seperti reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap. Selain produk reksa dana, kamu juga bisa berinvestasi pada instrumen investasi lain seperti deposito dan obligasi.

Dengan mengenali potensi dan risiko reksadana tematik yang tepat dan diimbangi dengan investasi lainnya, semoga investasi yang kamu lakukan selalu cuan.