Beberapa tahun belakangan urban farming atau pertanian perkotaan meningkat di masyarakat. Dengan lahan yang terbatas, orang juga dapat berkebun memanfaatkan pot dan media tanam. Tren ini dilihat sebagai sebuah peluang usaha kreatif oleh Ni Wayan Purnami Rusadi dan mendirikan Potme Farm, penyedia paket bercocok tanam yang praktis untuk kebutuhan urban farming.

Baca juga: Bisnis Coklat Klasik Martalinda Basuki

Riset setahun

Ide bisnis itu muncul tahun 2016, saat Emik – sapaan akrabnya, masih menjadi mahasiswi jurusan agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Dia melihat masyarakat yang ingin mencoba urban farming masih terkendala dengan penyediaan pot, media tanam, pupuk, serta benih. Kebanyakan orang juga belum memahami cara bercocok tanam sehingga bingung saat hendak memulainya.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Emik bersama seorang temannya kemudian mengembangkan paket bercocok tanam yang mereka namakan grow kit dan menjadikannya sebuah usaha mahasiswa.

Grow kit adalah paket berkebun berbentuk pot yang di dalamnya sudah ada media tanam, pupuk, benih, dan cara menanamnya. Jadi dengan produk ini semoga bisa menjadi solusi untuk mempermudah memulai berkebun di perkotaan,” jelas Emik melalui email.

Sebelum resmi meluncurkan Potme Farm, Emik melakukan riset produk dan riset pasar terlebih dahulu. Proses riset kurang lebih dijalankan selama setahun. Dari riset tersebut Emik memperoleh insight mengenai target pasar dan perbaikan yang masih diperlukan untuk produknya. Pemetaan target pasar dilakukan dengan uji coba mengenalkan dan menjual produk Potme Farm melalui berbagai pameran.

“Dari situ kami bisa melihat langsung siapa yang beli, ibu-ibu atau remaja. Ada juga keluhan dari konsumen benihnya tidak tumbuh, jadi kami riset lagi untuk packaging supaya benih bisa awet sampai dua tahun sehingga kualitas benih lebih terjaga,” kata Emik.

Edukasi melalui workshop

Setelah melalui proses riset, Potme Farm berfokus pada penjualan dua macam produk yakni grow kit dan benih tanaman. Untuk grow kit Potme Farm menyediakan paket tanaman tomat, cabai, serta berbagai jenis bunga mulai dari bunga matahari hingga bunga kenikir; sedangkan untuk benih konsumen dapat memilih beragam benih tanaman sayur dan buah.

Target pasar kedua jenis produk ini juga sedikit berbeda. Produk grow kit menyasar perempuan usia 25 -35 tahun (remaja dewasa – ibu muda) dengan pendapatan menengah ke atas, sedangkan target pasar benih adalah laki-laki dan perempuan usia 25 – 45 tahun, dengan pendapatan menengah ke bawah. Saat ini Potme Farm memiliki 34 varian produk dengan kisaran harga Rp20.000-Rp60.000.

Untuk menjangkau target pasar tersebut, Emik bersama temannya menjalankan strategi marketing online dan offline. Selain melalui website potmefarm.com, pemasaran juga dilakukan via media sosial seperti Instagram, Facebook, dan Twitter. Promosi online pun dijalankan dengan mengikuti flashsale di marketplace yang digunakan sebagai salah satu kanal penjualan produk Potme Farm.

Pemasaran secara offline dilakukan dengan menyelenggarakan workshop berkebun secara rutin setiap dua minggu sekali, bekerja sama dengan toko-toko organik maupun pertanian yang ada di Bali. Langkah ini sekaligus menjadi media edukasi bagi target pasar Potme Farm, karena pengenalan produk usaha kreatif ini masih menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Emik dan Potme Farm.

“Sebagian besar produk kami bertujuan mengedukasi pengguna untuk berkebun, tapi banyak orang yang belum tahu cara menggunakannya. Jadi solusinya dengan melakukan workshop,” tutur perempuan kelahiran Denpasar, 21 Desember 1991 ini.

Bekerja sama dengan tempat wisata

Potme Farm dapat dikategorikan sebagai wirausaha modal kecil karena di awal pendiriannya Emik bersama temannya hanya menggunakan modal sebesar Rp3 juta. Modal penyediaan benih dapat ditekan karena mereka bekerja sama dengan petani dan tempat wisata alam di Singaraja, Bali.

“Jadi sistemnya kami membeli produk yang mereka tidak gunakan yaitu berupa benih kasar yang belum diolah. Karena di Bali banyak wisata alam taman selfie, yang mereka perlukan hanya bunga yang masih mekar. Setelah bunga layu dan tua, biasanya ditebang untuk dibuang,” papar Emik.

Bunga yang layu dan tua sudah menghasilkan biji yang kemudian dapat diolah kembali menjadi benih atau bibit tanaman. Biji dipisahkan dari bunga kering dengan cara dibenturkan pada kayu. Kemudian biji atau benih yang sudah terkumpul dibawa ke Denpasar untuk diuji kualitasnya di rumah produksi Potme Farm.

Benih yang dinilai berkualitas baik kemudian dikemas dalam produk grow kit atau dijual kembali dalam bentuk benih. Semua produk diberi label masa kadaluarsa dan siap dikirimkan ke konsumen. Di samping dijual langsung ke konsumen, produk Potme Farm juga dijual melalui toko-toko makanan organik, toko pertanian, toko hobi berkebun, serta toko pernak-pernik rumah yang ada di Bali.

Membuat pelanggan bahagia

Konsep memadukan edukasi berkebun melalui cara yang menyenangkan pun membuat Potme Farm meraih beberapa penghargaan kompetisi wirausaha seperti Top 20 The Big Start Indonesia Season 1 by Blibli (2016), Top 20 Makerfest Indonesia by Tokopedia (2018), dan pemenang penghargaan kategori green dari Citi Micropreneur Award (2019). Dari sisi pengembangan bisnis, Potme Farm yang saat ini beromzet rata-rata Rp6 juta per bulan sudah bisa menambah tim menjadi tiga orang.

Baca juga: Bisnis Laundry Online

Ke depannya, Emik berkeinginan Potme Farm menyediakan lebih banyak produk lagi yang dibutuhkan masyarakat, khususnya di bidang pertanian. Sambil merintis fasilitas research and development sendiri, Emik bersama rekan-rekannya sedang berupaya menjalin kerja sama dengan Universitas Udayana agar dapat memanfaatkan fasilitas laboratorium di Fakultas Pertanian guna penelitian dan pengembangan produk baru.

Apresiasi pelanggan menjadi penyemangat tersendiri bagi Emik untuk terus menjalankan bisnis dan menghadapi setiap tantangannya.

“Yang paling sering buat berkesan itu saat pelanggan minta produk Potme akan dijadikan hadiah misalnya untuk ulang tahun atau anniversary. Umumnya pelanggan pasti minta ditulisin kata-kata yang indah untuk si penerima. Seneng banget rasanya saat produk sudah sampai. Produk kami jadi bisa buat mereka happy,” cetus Emik.

Menarik, ya, inspirasi kisah Emik ini. Apakah kamu juga punya ide usaha kreatif seperti Emik? Mulai wujudkan, yuk, dari sekarang!