Dalam bisnis karya seni, umumnya karya-karya seniman dijual melalui galeri seni. Berkat kemajuan teknologi, saat ini karya seni juga bisa dibeli melalui ­e-commerce. Kolektor seni dapat memilih karya seni yang diminatinya dan bertransaksi secara online, sama seperti transaksi pada ­e-commerce lainnya. Melalui sarana ini, masyarakat dapat lebih mudah mengakses karya seni dan melihat langsung harga karya seni secara terbuka sehingga bisa menyesuaikan karya seni yang diminati dengan anggaran pribadi.

Baca juga: Kisah Kedai Cokelat Martalinda Basuki

Untuk menyelami peluang dan tantangan bisnis karya seni di era digital, Satu Tumbuh Seribu berbincang dengan Katiana Selopranoto, co-founder e-commerce seni isaartanddesign.com. Simak percakapannya berikut ini.

Sejak kapan terjun ke bisnis karya seni?

Lulus kuliah entrepreneurship di Bobson College, Boston, saya belajar bahasa di Shanghai, Cina. Saat itu saya magang di ShanghART Gallery, belajar mengenai seni kontemporer Cina dan melakukan market research terhadap kolektor seni di Shanghai, apa yang jadi pertimbangan mereka dalam membeli sebuah benda seni. Saat magang itu saya juga diajak mengurus event ShanghART di event Art Stage Singapore. Dari situ saya mulai jatuh cinta pada seni dan memutuskan untuk mulai mengoleksi karya seni.

Tahun 2013, saya pulang ke Indonesia dan bekerja selama 3,5 tahun di sebuah bank asing. Kemudian saya diajak berpartner dengan Deborah Iskandar untuk mengelola website isaartanddesign.com. Beliau ini berpengalaman 25 tahun menjadi representatif rumah lelang Sotheby’s dan Christie’s di Indonesia. Website isaartanddesign.com sendiri merupakan rebranding dari website indonesianluxury.com dan ISA Art Advisory, mulai diluncurkan sejak akhir tahun 2017.

Apa yang ingin dicapai melalui isaartanddesign.com?

Kami ingin mengedukasi orang bahwa art itu bukan hanya dekoratif, tapi untuk di-appreciate juga. Kami ingin menyampaikan ke orang, art bukan sekadar itu. Orang biasanya berpikir seni itu mahal. Bisa sampai ratusan juta. Tapi enggak semua karya seni yang bagus itu mahal. Ada juga seni kontemporer dari seniman-seniman muda yang harganya di kisaran 20-40 juta rupiah. Cukup affordable untuk pasangan muda, misalnya.

Selain itu kami ingin menunjukkan bahwa seni bisa bergandengan tangan dengan desain interior. Kebanyakan orang spend a lot of money di interior tapi art work-nya baru belakangan. Mereka akhirnya membeli karya seni yang murah sebagai dekoratif. ISA berkolaborasi dengan toko-toko furniture seperti LAFLO dan Moie, menampilkan karya seni di displayinterior mereka sehingga konsumen mendapat inspirasi bagaimana memasukkan karya seni dalam desain rumah atau kantor.

Siapa target pasar isaartanddesign.com?

Target pasarnya orang dengan penghasilan mid-high income, pasangan muda ke atas. Setiap orang punya budget untuk art work yang berbeda. Besar pembelanjaan juga beda-beda. Karena itu kami menyediakan beragam benda seni untuk kelompok usia yang berbeda. Jadi di website kami bisa dilihat harga benda seninya beragam, ada yang dari jutaan hingga ratusan juta rupiah.

ISA sendiri fokus ke karya seni kontemporer dari para seniman muda Indonesia. Tapi kami juga melayani secondary market art untuk mengakomodir kolektor yang ingin menjual karya seni. Untuk secondary market art ini karya seninya tidak terbatas dari seni kontemporer saja. Tapibiasanya prosesnya cukup selektif, kami harus kenal kolektornya terlebih dahulu. Karya seninya juga yang ada potensi pasarnya.

Seperti apa strategi marketing isaartanddesign.com?

Secara online lewat Instagram di @isaart.id dan Facebook ISA Art Advisory. Untuk offline kami banyak bekerja sama dengan toko furniture seperti LAFLO dan Moie. Selain itu kami juga mengikuti art fair dan events seperti Art Jakarta, Art Moments, dan lain-lain.

Apa tantangan dalam menjalankan e-commerce seni ini?

Tantangannya adalah mengedukasi pasar, bagaimana mengubah pikiran orang untuk membeli secara online. Selama ini klien masih lebih banyak yang membeli karya seni secara offline dengan datang ke pameran atau galeri seni kita. Sekarang kita lebih encourage mereka untuk beli online. Di Indonesia baru kami yang bikin e-commerce karya seni. Jadi memang tantangannya masih cukup besar. Selain itu kekurangannya di website kami payment gateway yang kami sediakan belum bisa program cicilan. Jadi selain secara online lewat e-commerce, kami juga masih menjalankan galeri seni fisik. Baik online maupun offline masih dijalankan dua-duanya.

Bagaimana prospek bisnis karya seni di Indonesia ke depannya?

Prospek bisnis seni di Indonesia makin baik. Saya bersyukur karena ada inisiatif dan events seperti Museum MACAN, Art Jakarta, dan lain-lain. Tiga tahun lalu sebelum ada event-event itu orang Indonesia kurang bisa appreciate seniman Indonesia. Tapi dengan adanya events itu, banyak anak muda yang makin terbuka pandangannya, melihat bagusnya seniman Indonesia. Orang sudah makin teredukasi. ISA sendiri punya misi mendukung seni Indonesia. Jadi karya seni yang kami sediakan merupakan karya seniman Indonesia dan seniman luar Indonesia yang karyanya ada di Indonesia. Misalnya banyak juga seniman asing tinggal di Indonesia dan banyak menghasilkan art work yang terinspirasi Indonesia.

Apa rencana pengembangan isaartanddesign.com?

Saat ini kami masih fokus mengembangkan kerja sama dengan galeri-galeri seni lain di Jakarta. Tapi ke depannya kami ingin menjangkau galeri seni di luar Jakarta dan Indonesia. Harapannya selain meluaskan pasar, kami ingin lebih mengekspos seni dan seniman Indonesia ke luar Indonesia juga.

Bagaimana tips bagi anak muda yang ingin merintis bisnis karya seni?

Dulu sebelum terjun ke bisnis ini saya berpikir mendirikan galeri seni itu mudah, siapapun bisa melakukannya. Tapi ternyata enggak begitu. Kita harus punya pengetahuan seni yang kuat. Kalau belum berpengalaman atau enggak punya background seni, lebih baik berpartner dengan orang yang sudah senior dan punya pengalaman lama di bidang seni.

Seandainya enggak punya background seni, jangan langsung patah semangat. Saya sendiri tadinya di industri banking. Tapi dengan sering datang ke pameran seni, lama-lama kita bisa mengasah taste seni dan membangun networking di dunia seni.

Baca juga: Nicholas Kurniawan, Pengusaha Muda Ekportir Ikan Hias

Karya seni juga bisa menjadi investasi. Bagaimana tips berinvestasi pada karya seni?

Karya seni itu seperti saham juga sebenarnya. Harga sebuah karya seni bisa naik dan turun dipengaruhi berbagai faktor. Suatu karya seni yang kita beli di tahun 2000 belum tentu harganya akan lebih tinggi sekarang. Karena itu untuk kolektor pemula, lebih baik membeli karya seni yang benar-benar disukai. Jadi meskipun harganya turun, kita masih tetap senang melihatnya. Jangan hanya mengikuti nafsu atau rumor dalam membeli sebuah karya seni. Kalau hanya benar-benar memperlakukan karya seni sebagai investasi, bisa banyak sakit hatinya. Sebagai kolektor saya sendiri masih terus belajar sampai sekarang.