Hidup di Indonesia berarti harus selalu siap sedia menghadapi bencana, untuk itu penting memiliki asuransi bencana.  Maklum, lokasi geografis Indonesia terletak di lintasan cincin api, sehingga rawan dengan ragam bencana semisal letusan gunung berapi, gempa, dan tsunami.

Baca juga: Tips Memilih Asuransi Kendaraan Terbaik 

Selain bencana yang disebabkan alam, penduduk Indonesia juga harus berdamai dengan bencana yang disebabkan ulah tangan manusia seperti banjir, longsor, dan kebakaran. Kedua bencana itu malah yang paling sering dilaporkan di media secara silih berganti, tergantung musimnya.

Sayangnya, Indonesia termasuk negara yang memiliki kesadaran rendah soal mitigasi bencana. Berdasarkan laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2019, Indonesia berada di urutan kedua dengan korban jiwa terbesar saat bencana tsunami di Aceh tahun 2004 lalu, yaitu 160.000 jiwa.

Fakta memilukan itu hanya bisa disaingi Haiti, yang kehilangan 200.000 jiwa karena gempa tahun 2010 lalu. Mitigasi bencana memang penting karena bisa meminimalkan korban. Persiapan menyelamatkan diri ke tempat yang aman dan mempersiapkan mental saat bencana datang adalah sebuah keniscayaan, sebagaimana pentingnya juga melindungi jiwa dan harta benda saat bencana datang.

Saat itulah kamu membutuhkan asuransi bencana.

Asuransi?

Betul. Meskipun penting,  sayangnya asuransi bencana terkesan kurang populer, bahkan dianggap tidak sekelas jenis asuransi lainnya. Nah, berikut beberapa hal yang perlu kamu tahu soal asuransi untuk bencana. Siapa tahu kamu terinspirasi memproteksi diri dari kemungkinan bencana di masa depan.

Masih sedikit peminat 

Meskipun hidup di kawasan rawan bencana, masyarakat Indonesia ternyata belum paham betul pentingnya asuransi bencana. Menurut Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), masih sedikit warga di Indonesia yang memiliki asuransi bencana. Meskipun demikian kesadaran memiliki asuransi sudah mulai tumbuh di kalangan masyarakat yang tinggal di kawasan yang pernah dilanda bencana seperti Aceh dan Padang.

Pihak yang lebih menyadari pentingnya asuransi bencana umumnya perusahaan yang memiliki beragam properti semisal hotel, kantor, restoran, dan lain-lain. Kebanyakan dari mereka proaktif mengasuransikan aset mereka.

Jenis asuransi bencana

Saat ini banyak asuransi bencana yang ditawarkan. Hanya kurang begitu populer karena “tersembunyi” dalam fasilitas asuransi lainnya yang lebih menonjol. Ambil contoh asuransi properti dan asuransi jiwa, keduanya bisa memiliki fasilitas yang berkenaan dengan bencana.

Asuransi jiwa dianggap masuk dalam asuransi bencana karena bila terjadi kematian, baik karena hal normal atau bencana, ahli waris tertanggung akan terlindungi. Sementara asuransi properti masuk ke dalam asuransi bencana karena memiliki manfaat yang diperluas seperti perlindungan dari bencana banjir, kebakaran, gempa bumi, dan huru hara. Tetapi ada juga asuransi yang menawarkan perlindungan gempa bumi tanpa harus membeli asuransi properti sebagai induknya.

Asuransi khusus gempa bumi ini digagas oleh perusahaan asuransi Wahana Tata (Aswata). Selain gempa bumi, dengan membeli polisnya, kamu juga terlindungi dari letusan gunung berapi, kebakaran karena gempa atau gunung berapi, dan tsunami.

Asuransi Zurich juga menawarkan hal yang hampir sama dengan Aswata, yaitu perlindungan dari gempa, gunung meletus,longsor, tsunami, atau perlindungan lainnya yang kamu minta. Sementara Asuransi Jasindo juga menawarkan asuransi kebakaran dan banjir dalam satu paket. 

Mau yang spesifik gempa bumi? Mungkin bisa mencari infomasi ke lembaga ini: PT Asuransi Central Asia, PT Chubb General Insurance, PT Lippo General Insurance Tbk, PT Asuransi Tokio Marine Indonesia,PT Asuransi Allianz Utama Indonesia, dan lain sebagainya.

Aset yang bisa diasuransikan dan biaya premi

Asuransi bencana biasanya melindungi jenis bangunan dan/atau isi bangunan sesuai dengan gunanya. Misalnya kamu punya rumah dan perabotannya, pihak tertanggung dalam asuransi ini bila bencana datang adalah pemilik rumah tersebut yaitu kamu.

Biaya premi setiap asuransi bencana biasanya berbeda-beda, tergantung apakah lokasi aset yang diasuransikan rawan bencana. Seandainya rumah kamu di tepi pantai yang sering mengalami gempa bumi, maka bisa jadi premi yang dikenakan akan lebih tinggi dibanding rumah yang berada di atas perbukitan yang aman dari banjir. Selain lokasi, kontruksi bangunan dan kegunaan bangunan juga jadi pertimbangan perusahaan asuransi menentukan besaran premi. Toko atau tempat usaha biasanya harus membayar premi lebih mahal ketimbang rumah hunian biasa.

Mencontoh Jepang

Jepang rawan bencana gempa dan tsunami. Tetapi mitigasi bencana mereka termasuk paling kuat sehingga bisa meminimalkan korban. Banyak masyarakat Jepang yang memiliki asuransi bencana karena mereka sadar pentingnya asuransi tersebut. Asuransi bencana pertama yang dimiliki Jepang adalah asuransi gempa bumi yaitu pada 1966.

Asuransi nonjiwa itu menekan kerugian yang diderita Jepang dalam gempa bumi dahsyat pada 2016 lalu. Korban gempa mengantongi ganti rugi hingga Rp1,3 miliar per orang. Asuransi bencana di tahun 2016 itu mengganti 19 persen dari total kerugian yang ditanggung Jepang.

Baca juga: Cermat Memilih Asuransi sesuai Kebutuhan

Indonesia mulai terapkan asuransi bencana

Pada 2018 lalu, pemerintah sudah mengisyaratkan mengasuransikan aset milik negara dari bencana. Rencana tersebut dimulai tahun 2019 ini dengan mengasuransikan semua bangunan milik pemerintah dari bencana.

Ke depannya Indonesia akan mengasuransikan sektor pertanian, dan sektor nelayan. Indonesia sebenarnya sudah ketinggalan dibanding negara lain yang telah menerapkan asuransi bencana untuk asetnya. Misalnya saja Selandia Baru sudah memiliki asuransi bencana sejak 1944, disusul Prancis pada 1946, Amerika Serikat pada 1996, dan Turki pada 2000.

Nah, tunggu apa lagi? Segera proteksi dirimu dengan asuransi bencana dan jangan menunggu bencana terlebih dahulu.