Pinjaman pendidikan bisa jadi solusi untuk mereka yang mengalami kesulitan biaya pendidikan. Agar tidak sampai putus kuliah dan cita-cita tetap terjaga, mereka membutuhkan dukungan dana untuk melanjutkan pendidikannya di kampus. Salah satu langkah yang bisa ditempuh adalah meminjam uang ke lembaga keuangan seperti financial technology (fintech).

Kehadiran fintech menjadi alternatif bagi para mahasiswa yang kesulitan mendapatkan kredit atau pembiayaan pendidikan dari perbankan. Sebab, sangat jarang mahasiswa yang memiliki pendapatan tetap. Kebanyakan mahasiswa masih mengandalkan kiriman uang dari orang tuanya.

Dengan kondisi keuangan yang belum stabil tentu saja perbankan akan sangat berhati-hati dalam mengucurkan kredit pendidikan ke para mahasiswa. Bank cenderung memilih menghindari risiko agar kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) tidak melonjak.

Beruntung saat ini sudah ada beberapa perusahaan financial technologyyang menawarkan pinjaman dana pendidikan bagi mahasiswa. Meski tetap menjaga prinsip kehati-hatian atau prudential principle, namun fintech memberikan kemudahan dan kelonggaran bagi mahasiswa untuk mendapatkan pinjaman pendidikan.

Kapan pinjaman pendidikan diperlukan?

Tak bisa dipungkiri biaya kuliah terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Kenaikan biaya pendidikan ini jauh melebihi pertumbuhan pendapatan di masyarakat.

Apalagi biaya yang harus ditanggung bukan hanya biaya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP), tapi juga biaya penulisan skripsi, biaya seminar, sertifikasi, dan lain-lain. Bukan hanya itu, biaya hidup bagi para mahasiswa yang harus tinggal jauh dengan orang tuanya juga terus meningkat.

Idealnya, mahalnya biaya pendidikan sudah diantisipasi oleh seseorang sejak belum masuk ke bangku kuliah. Namun ketika kondisi keuangan tak sesuai rencana, gangguan keuangan akan terjadi di tengah jalan saat mahasiswa tengah menjalani masa kuliahnya.

Baca juga: 4 Hal Wajib Dalam Menyiapkan Dana Pendidikan Anak

Cita-cita yang tinggi harus tetap digantungkan. Jangan sampai kesulitan biaya pendidikan ini, membuat pendidikan tinggi yang tengah dijalani terhenti. Solusi persoalan keuangan harus bisa ditemukan sampai mahasiswa bisa menyelesaikan kuliahnya.

Pembiayaan pendidikan yang ditawarkan oleh fintech bisa menjadi salah satu alternatif yang bisa diambil. Tapi harus dicamkan betul-betul bahwa pinjaman ini bukan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif misalnya membeli laptop atau handphone baru yang lebih bagus dari yang dimiliki sekarang. Padahal laptop dan handphone tersebut masih bisa dipergunakan dan memenuhi kebutuhan.

Selain itu keputusan untuk meminjam dana pendidikan seharusnya juga dilakukan bila memang dalam keadaan benar-benar membutuhkan. Jangan sampai meminjam uang hanya karena adanya kesempatan untuk meminjam.

Pastikan permohonan pinjaman pendidikan yang akan diajukan ke perusahaan fintech benar-benar untuk kebutuhan produktif, yakni untuk membayar biaya kuliah dan kebutuhan ikutannya.

Pilih fintech yang terdaftar di OJK

Tawaran pinjaman online mudah sekali kita temukan di internet dan media sosial. Selain itu, pinjaman uang online juga menawarkan jasanya lewat aplikasi mobile. Dengan banyaknya tawaran pinjaman online yang ada, kita harus berhati-hati dalam memilih perusahaan fintech yang tepat.

Baca juga: Dana Kuliah Mahal? Ini 5 Solusi Mengatasinya

Pilihlah perusahaan fintech yang resmi dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar terjamin keamanannya. Per 7 Agustus 2019, total jumlah penyelenggara fintech terdaftar dan berizin di OJK mencapai 127 perusahaan.

Jika nama perusahaan fintech tersebut tidak tercantum, maka bisa dipastikan perusahaan tersebut ilegal. Kerugian dari meminjam uang dari fintech ilegal di antaranya adalah adanya potensi data pribadi bocor, penipuan, hinggga penagihan yang tidak manusiawi.

Dengan meminjam uang ke perusahaan fintech legal, maka kita akan mendapatkan jaminan keamanan karena kegiatan tersebut diawasi oleh OJK. Jadi jika kegiatan usahanya melenceng atau ada permasalahan dengan nasabah, OJK akan turun tangan.

Syarat pinjaman pendidikan

Sejumlah perusahaan fintech menawarkan pinjaman pendidikan bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi maupun yang sudah kuliah tapi kesulitan biaya di tengah masa pendidikannya. Fintech bisa memberikan pinjaman biaya pendidikan hingga akhir masa studi. 

Untuk mendapatkan pinjaman dana pendidikan tersebut, mereka menerapkan sejumlah persyaratan. Salah satu syarat utamanya adalah peminjam harus sudah terdaftar di perguruan tinggi yang terakreditasi. Untuk itu, bagi mereka yang belum diterima kuliah di perguruan tinggi yang terakreditasi tidak bisa mengajukan pinjaman dana pendidikan.

Selain itu, perusahaan fintech juga mengharuskan adanya penjamin seperti orang tua, kerabat dekat dari mahasiswa yang mengajukan pinjaman dana pendidikan. Dalam hal ini, penjamin tersebut harus memiliki pendapatan yang tetap.

Lampiran dokumen admistratif data diri lengkap beserta data penanggung atau penjamin dapat diunggah secara online baik lewat aplikasi mobile maupun website perusahaan fintech tersebut. Kemudahan pengajuan pinjaman seperti ini mungkin tidak akan diperoleh jika kita mengajukan kredit perbankan.

Tenor dan bunga pinjaman

Masing-masing perusahaan fintech memberikan tenor pinjaman pendidikan yang berbeda-beda. Namun rata-rata tenor yang diberikan untuk pinjaman pendidikan maksimal hingga sepuluh tahun, lebih panjang dibandingkan rata-rata kredit tanpa agunan (KTA) dari perbankan. Dengan tenor yang panjang, maka cicilan yang harus dibayarkan per bulan akan semakin ringan.

Suku bunga pinjaman pendidikan dari perusahaan fintech juga bervariasi. Suku bunga yang diberikan bisa jadi lebih tinggi dari KTA. Jadi pilihlah pinjaman pendidikan dengan suku bunga yang sesuai kemampuan finansial.

Kemampuan mengembalikan dana

Dalam mengajukan pinjaman pendidikan dari perusahaan fintech,mahasiswa harus mempertimbangkan kemampuan untuk membayar kembali atau melunasi dana pinjaman yang telah dipakai. Untuk itu, pinjamlah uang sesuai kebutuhan dan kemampuan membayar agar nanti tidak kesulitan dalam melunasi pinjamannya.

Baca juga: Belum Punya Resolusi Keuangan? Cek Tipsnya Di Sini

Untuk menghitung kemampuan dalam melunasi pinjaman, sebaiknya cicilan per bulan tidak boleh lebih dari 30% dari total penghasilan yang diperoleh. Dengan perhitungan tersebut, cicilan pinjaman pendidikan bisa dibayar secara lancar dan biaya kebutuhan hidup juga tetap terpenuhi.

Pertimbangkan juga sumber dana untuk membayar cicilan utang tersebut. Dana untuk membayar pinjaman dana pendidikan bisa berasal dari kiriman uang dari orang tua, penghasilan dari gaji atau usaha. Dengan mempertimbangkan sumber dana untuk membayar cicilan, kita bisa lebih bijak dalam menentukan besaran pinjaman dan cicilan bulanannya agar tidak membebani keuangan ke depan.

Selanjutnya, bayarlah cicilan bulanan tepat waktu. Jangan sampai menunggak cicilan atau bahkan gagal bayar. Kelolalah utang dengan baik agar tidak menimbulkan masalah keuangan baru yang lebih rumit. 

Bijak dalam meminjam uang

Perusahaan fintech memberikan kemudahan orang dalam mendapatkan pinjaman uang termasuk untuk biaya pendidikan. Kita dimudahkan dengan pengajuan pinjaman yang bisa dilakukan secara online lewat aplikasi atau website perusahaan. Selain itu, proses pencairan dananya juga bisa lebih cepat dari pinjaman perbankan.

Kelebihan lain yang dimiliki oleh pinjaman pendidikan dari perusahaan fintech adalah tenor yang lebih panjang dibandingkan dengan KTA. Ini bisa meringankan beban cicilan yang dibayar tiap bulan.

Namun di balik kemudahan yang diberikan, sejumlah perusahaan fintechmemberikan bunga yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bunga kredit perbankan. Risiko bunga yang tinggi ini harus diketahui peminjam uang dari perusahaan fintech sejak awal. 

Pendidikan adalah sebuah investasi yang akan menghasilkan sesuatu yang produktif di masa depan. Jadi jika dimanfaatkan dengan baik, pinjaman pendidikan dari fintech akan menjadi penolong bagi mereka yang tengah kesulitan biaya untuk melanjutkan pendidikan kuliahnya.  

Semoga setelah membaca artikel ini kamu bisa mengambil keputusan yang bijak dalam mencari sumber pembiayaan pendidikan yang tepat.