“Hari gini belum punya investasi? Ke mana aja?!”

Bagi kamu mungkin celetukan itu semakin sering kamu dengar belakangan ini. Pemahaman investasi untuk pemula penting dilakukan karena memiliki investasi zaman sekarang sudah setara dengan keharusan memiliki tabungan di era sebelumnya. Berinvestasi atau menempatkan dana di instrumen yang mampu tumbuh melampaui inflasi, perlu ditempuh agar laju penurunan uang di masa depan tidak turut menurunkan kesejahteraan hidup seseorang. 

Baca juga: Jenis Investasi Bisa jadi Modal Pegangan Sehari-hari!

Kesadaran tentang pentingnya investasi untuk pemula di Indonesia perlahan tapi pasti terus meningkat. Ini bisa terlihat dari tren kenaikan jumlah investor di pasar modal yang terus meningkat. Mengutip Kompas.com (Juni 2019), jumlah investor pasar modal hingga Mei 2019 mencapai 1,9 juta investor. Memang, angka itu masih sangat kecil bila dibandingkan total populasi Indonesia. Namun, tren kenaikannya cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kehadiran jasa finansial teknologi dan aplikasi investasi banyak menyumbang peningkatan tersebut.

Namun, di tengah tren yang positif tersebut, tidak sedikit kalangan yang masih ragu saat hendak memulai langkah investasi pertama. Ketakutan yang umum terdengar biasanya adalah khawatir merugi, tidak tahu hendak berinvestasi di instrumen apa, bingung bagaimana memulai, dan berbagai bentuk ketakutan lain. Bila kamu sudah memantapkan hati ingin berinvestasi tapi masih gamang, jangan terlalu lama galau. Kamu bisa ikuti panduan investasi untuk pemula di sini.

Langkah 1: Pahami konsep investasi

Apa, sih, investasi itu? Mengapa penting berinvestasi untuk pemulai? Investasi pada dasarnya adalah mengembangbiakkan dana atau uang agar nilainya terus meningkat atau bisa melampaui inflasi. Mengutip data Badan Pusat Statistik, dalam rentang 10 tahun terakhir (2008-2018), rata-rata inflasi tahunan mencapai 5,87%. Selama rentang itu, tingkat inflasi tertinggi terjadi pada September 2008 saat inflasi menembus 12,14%.

Tingkat inflasi yang tinggi menunjukkan terjadinya kenaikan harga barang yang bisa menggerus nilai uang kamu. Lima tahun lalu, uang Rp100 ribu bisa digunakan untuk membeli lebih banyak barang dibanding hari ini. Hal itu karena terjadi penurunan nilai uang akibat inflasi. Tanpa berinvestasi, bisa-bisa kamu bertambah miskin karena uang yang kamu miliki nilainya terus menurun tidak bisa mengejar laju kenaikan harga barang dan jasa.

Apakah menabung di produk bank saja tidak cukup? Saat ini rata-rata produk tabungan di bank memberikan bunga 1%-2% per tahun. Sedang bunga deposito terus menurun dan kini rata-rata sebesar 4,9% per tahun. Itu berarti, ketika kamu menyimpan uang di produk deposito, katakan sebesar Rp10 juta dengan bunga 4,9% dan tingkat inflasi 6% per tahun, maka uang kamu tumbuh minus 1,1% per tahun. Di tahun ke-5, nilai uang kamu hanya setara Rp9,49 juta akibat tergerus inflasi. Jadi, menabung saja tidaklah cukup. Satu-satunya cara melawan inflasi adalah memastikan uang kamu berkembang di atas tingkat inflasi yaitu dengan berinvestasi di instrumen atau produk investasi yang mampu tumbuh tinggi.

  • Risiko-risiko investasi

“High risk, high return”, adalah hukum investasi yang perlu kamu ketahui. Berinvestasi bisa membantu kamu mengembangkan dana sehingga tumbuh di atas inflasi. Namun, semakin tinggi kemungkinan pertumbuhan, semakin tinggi pula risiko kerugian. Ini berbeda dengan produk bank yang memiliki penjaminan sehingga risiko kehilangan modal relatif kecil. Inilah beberapa jenis risiko investasi yang perlu kamu tahu untuk memulai investasi untuk pemula:

Pertama, risiko penurunan nilai investasi. Risiko ini paling ditakuti oleh pemula yang masih gamang berinvestasi. “Bagaimana bila uang saya malah turun atau bahkan habis, rugi, dong, jadinya?” Wajar bila kamu khawatir dana investasi berkurang atau bahkan habis. Investasi yang kamu lakukan akan dipengaruhi oleh fluktuasi pasar, naik turun suku bunga, dan berbagai sentimen lain yang berisiko menurunkan nilai investasi. Risiko penurunan nilai investasi tidak bisa dihilangkan sama sekali.

Baca juga: Trik Berinvestasi di Tengah Perang Dagang

Namun, risiko ini bisa kamu minimalisasi dengan menerapkan strategi diversifikasi investasi yaitu menyebar investasi di berbagai instrumen yang memiliki tingkat risiko beragam. Cara lain adalah dengan menetapkan standar, seberapa jauh penurunan modal yang bisa kamu toleransi. Contoh, bila kamu hanya bisa menoleransi penurunan sebesar 10%, maka saat investasi menurun sebesar itu, kamu perlu memiliki rencana cadangan apakah dengan menghentikan kerugian (cutloss) atau mengalihkan investasi ke instrumen lain yang lebih aman.

Kedua, risiko likuiditas. Banyak orang gamang berinvestasi karena ragu apakah kelak saat hendak mencairkan investasinya, dia tidak akan kesulitan. Contoh, berinvestasi di properti bisa memberikan imbal hasil cukup tinggi, tapi menjual properti tersebut agar keuntungan bisa dinikmati membutuhkan waktu yang lama. Ini berarti investasi properti sifatnya kurang likuid. Cara memperkecil risiko likuiditas adalah dengan memilih instrumen investasi yang memiliki tingkat likuiditas beragam. Investasi saham, reksa dana ataupun emas, sejauh ini relatif kecil risiko likuiditasnya.

Ketiga, risiko gagal bayar. Yaitu ketika penerbit investasi, misalnya, seperti surat utang atau obligasi, tidak mampu membayarkan pinjaman yang diberikan si pembeli obligasi.

  • Jenis dan pilihan produk investasi untuk pemula

Ada berbagai macam pilihan produk investasi yang bisa kamu pertimbangkan, berikut di antaranya:

  1. Saham. Ini adalah surat berharga yang merupakan alat bukti kepemilikan kita atas sebuah perusahaan atau badan usaha. Ketika kamu membeli saham ABCD, itu berarti kamu tercatat sebagai pemilik perusahaan ABCD. Saham termasuk instrumen investasi favorit karena bisa menghasilkan return yang tinggi jauh di atas inflasi. Seturut dengan itu, investasi saham juga memiliki risiko tinggi. Dengan strategi yang tepat, saham cocok untuk mendukung pencapaian tujuan keuangan jangka panjang.
  2. Reksa dana. Nama lain reksa dana adalah kontrak investasi kolektif. Sederhananya, reksa dana merupakan sebuah wadah yang berisi himpunan dana dari sejumlah investor di mana dana tersebut dikelola oleh manajer investasi dan diputar ke aset-aset dasar (underlying asset) mulai dari saham, obligasi hingga sertifikat deposito dan sebagainya. Reksa dana ada berbagai macam bergantung pada jenis aset dasarnya antara lain reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana pasar uang, reksa dana campuran, dan lain-lain.
  3. Obligasi ritel (ORI). Ini adalah instrumen surat utang yang diterbitkan oleh negara Republik Indonesia. Dengan berinvestasi atau membeli ORI, berarti kamu bertindak sebagai kreditur atau pemberi pinjaman pada negara. Dana yang kamu investasikan digunakan oleh pemerintah sebagai sumber dana pembangunan. Sebagai imbalan, kamu mendapatkan imbal hasil tetap setiap bulan selama periode investasi. Versi syariah dari ORI adalah Sukuk Ritel yang juga diterbitkan oleh negara RI. ORI dan Sukuk Ritel cocok bagi kamu yang mencari investasi dengan risiko rendah tetapi memberikan imbal hasil lumayan. Tenor investasi ORI dan Sukuk Ritel umumnya tiga tahun.
  4. Saving Bond Ritel (SBR). Satu lagi instrumen investasi pendapatan tetap yang bisa jadi pertimbangan yaitu saving bond ritel. Diterbitkan oleh negara RI, SBR memberikan imbal hasil yang lebih tinggi ketimbang deposito. Karakteristiknya mirip dengan ORI, bedanya hanya tenor investasinya cuma dua tahun dan memiliki fitur early redemption. Selain itu, imbal hasil SBR juga lebih fluktuatif mengikuti pergerakan suku bunga, tapi tetap memiliki acuan bunga terendah(floating with floor) yang biasanya ditetapkan di atas bunga deposito.
  5. Emas. Ini adalah investasi favorit orang Indonesia karena emas mudah diuangkan lagi (likuid) dengan pertumbuhan harga yang cukup stabil terutama dalam jangka panjang. Investasi emas bisa dilakukan konvensional dengan membeli emas fisik, atau secara online dengan membeli emas digital.
  6. Properti. Termasuk kategori investasi riil yang membutuhkan modal tidak sedikit. Investasi properti dipercaya memberikan keuntungan besar dalam jangka panjang. Namun, kekurangan investasi properti sifatnya tidak likuid. Menjual rumah atau tanah tidak semudah menjual emas atau saham.
  7. Produk bursa berjangka (futures trading). Yang diperdagangkan di sini antara lain kontrak komoditi seperti emas, kopi, kakao, crude palm oil (CPO) juga kontrak indeks dan valas (forex). Sebagai gambaran, di bursa berjangka kamu bisa bertransaksi komoditi seperti emas, tapi yang diperdagangkan bukanlah emas secara fisik melainkan kontrak emas semata (derivatif). Risiko perdagangan derivatif relatif lebih tinggi dibandingkan pasar keuangan konvensional. Setara dengan itu, peluang keuntungan dari investasi berjangka juga lebih tinggi. Untuk menerjuni investasi berjangka, kamu perlu membekali pengetahuan yang memadai tentang investasi derivatif karena investasi ini termasuk high risk. Selain itu, investasi berjangka membutuhkan modal yang relatif lebih besar ketimbang berinvestasi di pasar saham biasa. 

Baca juga: Software Trading bagi yang Pemula Berinvestasi

Langkah 2: Memulai investasi untuk pemula

Kini, setelah memahami konsep investasi dan pilihan-pilihan instrumennya, saatnya bagi kamu memulai investasi. Mulai dari mana? Pertama, ketahui lebih dulu profil risiko kamu. Profil risiko dibutuhkan untuk mengetahui preferensi dan sejauh mana toleransi kamu terhadap risiko-risiko investasi. Setiap orang memiliki profil risiko berbeda-beda bergantung pada kondisi finansial, jumlah tanggungan dan tingkat toleransinya menghadapi fluktuasi pasar. Kamu bisa mengetahui profil risiko dengan menjawab kuis yang tersedia di manajer investasi atau sekuritas dan dari hasil pemeriksaan keuangan.

Kedua, tentukan tujuan keuangan. Berinvestasi akan kurang maksimal hasilnya bila dilakukan tanpa tujuan jelas. Supaya keberhasilan investasi lebih besar, pastikan kamu memiliki tujuan di awal. Misalnya, berinvestasi untuk mengumpulkan dana pensiun kelak, investasi untuk kebutuhan dana pendidikan anak, investasi untuk biaya berlibur, dan lain sebagainya.

Ketiga, pilih instrumen investasi yang tepat. Memilih instrumen investasi yang tepat bisa memperbesar keberhasilan pencapaian tujuan keuangan. Sebagai contoh, kamu ingin mengumpulkan dana pensiun untuk target pensiun 30 tahun lagi. Karena target pemakaian dana masih lama dan agar risiko inflasi bisa diperkecil, instrumen yang cocok dipilih adalah instrumen investasi dengan tingkat imbal hasil tinggi (agresif) seperti saham atau reksa dana saham. Adapun untuk tujuan keuangan jangka pendek di bawah lima tahun, instrumen investasi seperti obligasi ritel atau reksa dana pendapatan tetap, lebih cocok.

Baca juga: Cara Mudah Hitung Hasil Investasi Reksa dana-mu

Keempat, buka rekening investasi. Nah, setelah kamu mengantongi rencana investasi yang lengkap, saatnya eksekusi. Pilih tempat kamu berinvestasi di lembaga-lembaga keuangan yang tepat. Contoh, kamu ingin berinvestasi saham, maka langkah awal adalah dengan membuka rekening investasi di perusahaan sekuritas. Begitu juga bila ingin investasi reksa dana, kamu bisa membuka rekening di perusahaan manajer investasi.

Kelima, jalankan strategi investasi yang sesuai. Ada banyak pilihan strategi investasi yang bisa jadi pilihan. Contohnya untuk investasi saham. Bila kamu memiliki keterbatasan waktu untuk memantau pergerakan pasar atau kinerja investasi setiap hari, kamu bisa menjalankan strategi dollar cost averaging (DCA) yang kini diadopsi dengan istilah “menabung saham”. Dengan strategi ini, kamu secara rutin membeli saham tertentu untuk disimpan selama jangka waktu yang sudah ditentukan atau sampai menghasilkan keuntungan sesuai target. Ada juga strategi Value Investing(berinvestasi di saham yang harganya masih murah di bawah harga wajarnya), atau Income Investing (berinvestasi di saham pemberi dividen rutin), dan lain sebagainya.

Langkah 3: Menjalankan investasi

Berinvestasi bukan berarti kamu menanamkan dana di sebuah instrumen, lantas tutup mata dan berharap uang akan berkembang dengan sendirinya. Setelah berinvestasi, kamu memiliki kewajiban untuk terus memantau kinerja investasi agar selalu berjalan sesuai target atau harapan yang sudah ditentukan dalam rencana investasi.

  • Evaluasi kinerja investasi berkala

Untuk mengetahui apakah investasi yang kamu lakukan sudah sesuai harapan, kamu perlu secara berkala mengevaluasi kinerja investasi. Minimal satu tahun sekali. Bagaimana caranya? Bila kamu berinvestasi di saham, periksalah apakah pertumbuhan harga saham yang kamu miliki bisa di atas benchmark atau harga acuannya yakni Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Bila pertumbuhannya ternyata di bawah laju IHSG, boleh jadi kinerja saham kamu terbilang buruk. Dengan mengetahui kinerjanya, kamu bisa menentukan strategi selanjutnya agar tujuan keuangan tetap bisa tercapai.

Sama halnya ketika kamu berinvestasi di reksa dana. Kamu bisa mengecek kinerja investasi kamu dengan membaca fact sheet kinerja yang dikirimkan oleh manajer investasi. Bisa juga dengan membandingkan pertumbuhan reksa dana dengan benchmark yang menjadi aset dasar.

  • Diversifikasi portofolio investasi

Ini adalah salah satu cara mudah memperkecil risiko berinvestasi. Istilah umumnya adalah “don’t put all eggs in one basket”. Sebarlah investasi di berbagai instrumen yang memiliki risiko beragam. Sehingga, ketika terjadi guncangan pasar atau fluktuasi harga yang tajam, portofolio investasi yang kamu miliki masih bertahan atau tidak menurun nilainya secara keseluruhan.

Contoh, dari 100% total dana yang hendak kamu investasikan, bagilah ke beberapa keranjang sesuai dengan tujuan keuangan. Misal, untuk tujuan keuangan jangka panjang, kamu boleh menempatkan 70% dana di instrumen investasi agresif seperti saham, lalu 20% di instrumen berpendapatan tetap seperti ORI dan sisanya di instrumen berisiko rendah seperti reksa dana pasar uang. Dengan demikian, risiko penurunan nilai investasi atau kerugian akibat gejolak pasar atau karena faktor lain, bisa terkelola lebih baik. 

Gampang, kan, berinvestasi? Yuk, jangan tunda lagi!