Skema ponzi dipergunakan oleh para pelaku kejahatan investasi untuk mengeruk dana investor yang tergiur dengan iming-iming keuntungan besar dalam waktu singkat. Dari sejumlah kasus investasi bodong yang telah terungkap, pelaku menggunakan skema ini untuk mengelabui para korbannya. Banyak orang rela mengambil risiko tinggi dalam berinvestasi karena terdorong keinginan untuk cepat kaya. Hal tersebut kerap dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan investasi yang menawarkan money game dengan skema ponzi. Waspadai tawaran investasi dengan skema ponzi agar tak merugi di kemudian hari.

Penggunaan skema ponzi dikemas menyerupai bisnis riil sehingga orang tidak sadar bahwa bisnis yang dijalankan sebenarnya hanya mengandalkan perputaran uang dari para investornya. Sementara itu, ada sebagian orang yang sadar bahwa investasi yang ditawarkan adalah penipuan, namun memanfaatkannya untuk mendapatkan keuntungan sesaat dan keluar sebelum penipuan ini terbongkar dan pemiliknya kabur. Langkah ini sangat berisiko dan sebaiknya tidak dilakukan. 

Baca juga: Investasi Buntung ala Money Game

Kasus investasi dengan skema ponzi yang masih cukup hangat di antaranya adalah Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa. Dengan menggunakan kedok koperasi, Pandawa bisa menipu ribuan korban hingga total kerugiannya mencapai Rp3,8 triliun.

Selanjutnya kasus First Travel yang menawarkan biaya umroh murah dan bonus besar bagi mereka yang bisa merekrut jemaah lain. Dana nasabah yang nyangkut di First Travel mencapai Rp800 miliar. Lalu tawaran investasi Dream For Freedom (D4F) dengan kerugian investor mencapai Rp3,5 triliun. Yang paling fenomenal adalah PT Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS) yang berhasil mengeruk uang dari ribuan investor hingga Rp45 triliun pada 2012 silam.

Dengan kemudahan transaksi lewat internet, tawaran investasi bodong dengan skema ponzi semakin membesar. Meskipun Satuan Tugas Waspada Investasi yang dibentuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menutup ribuan website investasi bodong yang beredar di masyarakat, namun tawaran investasi bodong yang baru masih terus bermunculan.

Sebagian besar tawaran investasi bodong yang beredar menggunakan skema ponzi, kenali ciri-cirinya agar kamu terhindar dari risiko rugi.

Apa itu skema ponzi?

Skema penipuan investasi ini pertama kali diusung oleh Charles Ponzi di Amerika Serikat pada tahun 1920. Ponzi menawarkan kupon investasi internasional dengan janji keuntungan bersih lebih dari 400%. Namun setelah berhasil memperoleh jutaan dolar Amerika Serikat, praktik penipuan dengan skema ini terbongkar. Charles Ponzi pun ditangkap dan dipenjara.

Secara umum, mekanisme investasi dengan skema ponzi selalu menawarkan imbal hasil yang sangat tinggi. Namun yang dilakukan pengelola sebenarnya hanya melakukan perputaran uang dari para anggotanya. Dana yang dipergunakan untuk membayar imbal hasil investasi diperoleh dari investor yang baru masuk.

Skema investasi ini mewajibkan seseorang untuk merekrut anggota baru. Dana dari investor baru akan dipergunakan untuk membayar imbal hasil investor lama, begitu seterusnya. Investor yang masuk di tahap awal biasanya masih bisa menikmati imbal hasil yang dijanjikan. 

Namun perputaran uang akan terhenti jika perekrutan anggota baru semakin berkurang. Investor yang sudah terlanjur masuk tidak akan bisa mencairkan pokok investasi dan imbal hasilnya. Saat itulah investor baru menyadari adanya penipuan. Sayangnya, kesadaran tersebut selalu datang terlambat. Pengelola investasi biasanya sudah kabur dan perusahaan telah ditutup oleh pihak yang berwajib.

Tawaran keuntungan tetap dalam jumlah besar

Salah satu ciri utama dari skema ponzi adalah adanya tawaran keuntungan investasi yang tak wajar. Agar masyarakat tertarik menyerahkan uangnya, pengelola investasi memberikan iming-iming keuntungan yang sangat besar dalam waktu cepat.

Pelaku kejahatan investasi ini menawarkan sesuatu yang sebenarnya too good to be true. Sebuah produk investasi biasanya akan memberikan returnyang fluktuatif sesuai dengan kondisi pasar atau bisnis yang dijalankan. Sedangkan investasi dengan skema ponzi menawarkan pendapatan tetap dalam jumlah besar apapun kondisi yang sedang terjadi di pasar.

Baca juga:  Tiga Resep Hindari Investasi Emas Digital Abal-abal

Sebagai contoh, instrumen investasi pendapatan tetap seperti deposito menawarkan keuntungan sebesar 6% per tahun. Sedangkan investasi Pandawa menawarkan keuntungan 10% per bulan kepada investornya. 

Bonus sangat tinggi dan berjenjang

Skema ponzi akan mengandalkan dana yang masuk dari investor baru. Untuk itu, setiap investor diwajibkan merekrut anggota baru untuk masuk dalam jaringan mereka. Jika berhasil merekrut anggota baru, mereka akan mendapatkan bonus yang sangat tinggi. Koperasi Pandawa misalnya, menawarkan bonus 20% dari uang yang disetor investor baru yang berhasil direkrut.

Dalam skema ponzi, bonus yang diperoleh akan semakin besar jika jaringannya semakin berkembang dan membentuk piramida. Bonus yang diterima berjenjang hingga ke dasar piramida. Idealnya, jika perekrutan anggota terus berlangsung dan dana mengalir, bonus yang diperoleh akan membuat seseorang menjadi cepat kaya.

Tapi pada praktiknya tidak semudah itu merekrut anggota baru yang mau menyerahkan uangnya. Lama-lama perekrutan anggota terhenti dan tidak ada uang yang mengalir. Ini akan menjadi tanda-tanda akhir dari penipuan investasi dengan skema ponzi.

Tidak memiliki produk dan jasa yang dijual

Bisnis multi level marketing (MLM) juga mengandalkan perekrutan anggota baru. Tapi bedanya dengan skema ponzi, bisnis MLM yang murni memiliki produk dapat yang dijual ke konsumen sehingga ada keuntungan yang bisa diperoleh untuk membayar bonus. Sedangkan pada skema ponzi sama sekali tidak ada produk yang dijual, murni perputaran uang.

Baca juga: Hati-Hati, Ini Jenis Investasi Bodong yang Paling Sering Ditawarkan

Namun kamu juga harus berhati-hati dengan penipuan berkedok MLM yang menggunakan skema ponzi. MLM ini biasanya menjual produk tapi dengan harga yang sangat mahal dibandingkan dengan harga produk sejenis di pasaran. Dengan demikian, anggota hampir tidak mungkin bisa menjual produk tersebut ke masyarakat. Namun anggota diberi iming-iming bonus yang juga sangat besar jika berhasil merekrut anggota baru.

Tidak memiliki izin resmi

Sebuah produk investasi semestinya memiliki izin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sedangkan investasi bodong dengan skema ponzi tidak memiliki badan usaha dan izin untuk menawarkan investasi. Seandainya punya izin, biasanya izin yang berbeda seperti izin usaha perdagangan dan lain-lain.

Untuk itu, calon investor harus jeli jika mendapatkan tawaran investasi dengan iming-iming imbal hasil yang menggiurkan. Cek dahulu perizinan investasinya. Jika tidak memiliki izin resmi sebaiknya urungkan niat untuk berinvestasi di produk tersebut karena risiko kerugiannya jauh lebih besar dari janji keuntungan yang akan diperoleh.

Kemasan baru skema ponzi

Seiring waktu, masyarakat mulai mengenali ciri-ciri penipuan investasi dengan skema ponzi. Namun para pelaku kejahatan selalu memiliki cara untuk mengemas dengan bungkus yang berbeda agar bisa mengelabui para korbannya.

Agar orang percaya dan mau menyerahkan uangnya, pengelola menjanjikan dana akan diputar di bisnis riil seperti pertambangan, perdagangan, ekspor impor, trading saham, trading forex, trading emas dan lain-lain. Mereka juga kerap menggunakan kedok MLM dan koperasi. Namun ketika ditelisik lebih dalam, pengelola investasi ini sebenarnya tidak memiliki bisnis, produk, atau jasa yang dijual.

Penipuan investasi dengan skema ponzi akan terus bermunculan dengan kemasan yang berbeda. Semoga setelah mengenali ciri-cirinya, kamu bisa terhindar dari penipuan investasi ini.