Harga saham turun dan naik merupakan hal lumrah dan menjadi dinamika di pasar modal. Saat harga saham turun tajam dan harga tak kunjung membaik, sebagian trader, terutama trader pemula atau newbie biasanya panik.

Baca juga: Ingin Mulai Trading Saham? Kenali Dulu Cara Menilai Harga Sahamnya!

Tapi ada juga sebagian investor yang mempertahankan saham mereka, kendati harganya terus turun hingga lebih dari 10% dari saat pembelian. Mereka bertekad menjual jika harganya sudah lebih tinggi dari harga pembelian. Padahal kapan saat itu tiba, tidak ada yang tahu.

Agar semangat trading terus terjaga di saat kondisi harga saham turun tajam, diperlukan langkah-langkah efektif seperti berikut ini:

1. Cut loss

Menurut Lucky Bayu Purnomo, ekonom dan penulis buku Rahasia di Balik Pergerakan Harga Saham , cut loss atau jual saham sesegera mungkin merupakan tindakan baik karena berguna untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

Ambil contoh seperti ini: Ahmad membeli saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) pada 29 Juli 2019 di harga Rp4260 dengan volume 117 lot atau hampir Rp50 juta. Ahmad mengira harga tersebut sudah bagus, karena jauh di bawah rekor harga Rp4560, yang terjadi dua minggu sebelumnya.

Namun ternyata selang seminggu kemudian, saham BBRI mengalami penurunan dan terus turun hingga pertengahan Oktober. Saat harga menyentuh Rp4000 pada Agustus, nilai saham BBRI milik Ahmad telah berkurang Rp3,2 juta. Harganya terus melemah hingga Rp3810 pada 3 Oktober lalu dan Ahmad memutuskan menjual seluruh saham BBRI miliknya dengan kerugian sebesar Rp5,5 juta.

Melihat kondisi tersebut, bukankah lebih baik Ahmad menjual sahamnya atau melakukan cut loss saat harga Rp4000 karena kerugiannya tidak terlalu besar? Jika meniru saran investor kawakan Warren Buffet, memang sebaiknya kita menahan saham dengan fundamental bagus seperti BBRI, namun untuk trader jangka pendek, hal tersebut mustahil karena mereka butuh modal untuk melanjutkan aktivitas trading.

“Kita tentukan dulu risk tolerance cut loss pada saham tersebut. Batas toleransi ini melekat pada sifat saham,” jelas Lucky.

Untuk saham yang volatilitasnya tinggi, kita dapat menentukan batas cut loss di kisaran 7%-9%. Untuk saham yang defensif, kuat bertahan,  atau fluktuasinya rendah, batas toleransinya sekitar 5%-6%. Saham yang defensif biasanya saham dengan kapitalisasi besar sementara saham dengan volatilitas tinggi biasanya saham kapitalisasi kecil dan menengah.

Lucky menerangkan, sebenarnya trader bisa mengantisipasi kerugian. Caranya dengan melihat kinerja sektor terlebih dahulu. Trader bisa memilih saham pada sektor yang masih mampu berada di atas IHSG. Walau IHSG turun tajam tapi sektor tersebut mampu bertahan dibanding sektor lain.

Baca juga: Apa itu Saham Free Float? 

2. Cek rencana trading

Rencana trading sangat penting karena menjadi salah satu strategi untuk mengoptimalkan transaksi. Rencana trading sebaiknya berisi target harga untuk Taking Profit (TP) atau Stop Loss (SL). Ada rencana trading jangka pendek, menengah, dan panjang di mana besaran TP dan SL semakin besar untuk jangka menengah dan panjang.

“Dalam menyusun trading plan saat market sedang turun tajam maka sebaiknya tidak memasang target profit yang terlalu tinggi, di kisaran 9%-12% saja. Untuk cut loss, pasang cut loss 5%-6%,” saran Lucky.

3. Menyiapkan dana cadangan

Seorang trader sebaiknya selalu menyiapkan dana cadangan untuk trading. Apabila pasar sedang terkoreksi tajam, hal ini akan menjadi peluang untuk memborong saham-saham dengan fundamental bagus yang telah terdiskon harganya.

Tahun 2008 saat krisis ekonomi di AS, harga saham Citigroup yang sebelumnya US$50 menjadi hanya US$5 dan hal itu dimanfaatkan traderuntuk memborong saham tersebut. Melakukan aksi beli saat pasar terkoreksi dengan ekspektasi bisa meraih keuntungan, maka keuntungan tersebut bisa menutupi kerugan akibat aksi cut loss.

“Idealnya dana cadangan yang disisihkan sebesar 40% dari keseluruhan modal trading,” papar Lucky.

Baca juga: Jasa Manager Investasi untuk Cegah Kerugian

4. Jangan melawan market

Ketika harga saham turun tajam, satu prinsip lagi yang harus dipegang trader adalah tidak melawan market. Tindakan cut loss sudah memenuhi prinsip ini. Dengan cut loss, investor akan punya uang tunai untuk membeli kembali saham yang sudah dilepas saat harga saham tersebut sudah menyentuh bottom.

Sebaliknya, saat pasar berada dalam tren menguat dan menguntungkan tradertrader harus berani bertahan di posisi tersebut. Aksi beli dan mempertahankan saham bisa terus dilakukan.

Semoga dengan 4 tips di atas, kamu sebagai investor newbie dapat lebih tenang menghadapi gejolak pasar, termasuk harga saham turun, dan mengantisipasi kerugian. Selamat mencoba!