Pernah mendengar istilah investasi syariah? Nah, investasi syariah memang jadi alternatif mereka yang bukan saja berharap keuntungan berinvestasi tetapi juga berkah karena investasi ini menerapkan prinsip syariah Islam.  Begitu juga investasi saham syariah, yang sudah meramaikan kancah investasi di Indonesia sejak 1997 pasca diterbitkannya reksa dana syariah oleh Pasar Modal Syariah. 

Baca juga: Trik Menyiasati Harga Saham Turun Tajam

Sayangnya tidak banyak orang yang paham dengan investasi saham syariah. Padahal saham syariah ini bisa menjadi alternatif untuk mereka yang ingin mencari alternatif pasar modal dengan prinsip syariah Islam.

Nah, berikut beberapa hal yang menarik diketahui tentang saham syariah. Siapa tahu kamu tertarik berinvestasi sambil mencari berkah.

Direstui MUI

Mungkin kamu penasaran, apa itu saham syariah. Menurut Bursa Efek Indonesia, saham syariah adalah saham yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan diperjualbelikan di Pasar Modal.

Prinsip syariah dalam definisi tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta tertuang dalam Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan No. KEP-208/BL/2012 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah.

Ada kriteria penting yang harus dipenuhi saham syariah. Pertama, perusahaan penerbit saham dilarang melakukan kegiatan usaha yang melanggar syariah Islam, misalnya bukan perusahaan yang melakukan perjudian, melakukan transaksi yang mengandung unsur suap, memproduksi barang atau jasa yang merusak moral, memproduksi barang atau jasa yang haram menurut Dewan Syariah Nasional MUI, melakukan perdagangan yang tidak disertai penyerahan barang dan jasa, melakukan jasa keuangan bank yang berbasis bunga, dan sebagainya.

Baca juga: Apa Itu Saham Free Float?

Kriteria kedua, perusahaan penerbit saham harus memenuhi sejumlah rasio keuangan; semisal total utang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total aset tidak lebih dari 45 persen. Selain itu total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal tidak boleh lebih dari 10 persen dibandingkan keseluruhan pendapatan.

Di samping dua kriteria tersebut, perusahaan wajib memiliki Syariah Compliance Officer (SCO) untuk menjelaskan prinsip syariah yang dianutnya

Tidak kenal laba dan bunga

Saham syariah tidak mengenal laba dan bunga sebagaimana saham konvensional, tetapi menggunakan istilah bagi hasil dan risiko antara perusahaan dan investornya. Jadi baik keuntungan dan kerugian ditanggung sama-sama. Hal tersebut dinyatakan dalam akad saham syariah.

Bagi hasil dan risiko sudah disepakati di awal perjanjian. Sebagai investor, kamu sudah tahu dari awal berapa keuntungan yang akan didapat dan risiko apa saja yang akan ditanggung.

Selain itu, dalam sistem syariah, emiten tidak boleh memberikan informasi bohong alias ghahar. Mereka harus menjelaskan secara detail saham yang akan dijual. Sebagai investor kamu akan dimanjakan dengan ragam informasi yang disajikan secara transparan yang mungkin tidak kamu peroleh saat berinvestasi di saham konvensional.

Sementara itu investor juga tidak boleh serakah dengan mengejar keuntungan semata (maysir) tanpa memikirkan apakah keuntungan itu halal atau tidak.

Bagaimana cara membelinya?

Pada hakikatnya, cara investasi saham syariah ini tidak jauh berbeda dengan saham konvensional seperti wajib memiliki rekening saham yang dibuka di perusahaan sekuritas dan memberikan deposit awal.

Setelah itu kamu bisa mencari informasi tentang saham syariah mana yang akan kamu beli dengan mengecek ketiga indeks saham ini: Indeks Saham Syariah Islam (ISSI), Jakarta Islamic Index (JII), dan Jakarta Islamic Index 70 (JII 70).

Selain itu saham syariah juga bisa dicek di Daftar Efek Syariah yang diterbitkan oleh OJK. Ada dua jenis Daftar Efek Syariah yang diterbitkan lembaga ini, yaitu daftar bersifat periodik dan diterbitkan secara berkala pada akhir Mei atau November setiap tahun serta daftar yang bersifat tidak berkala.

Seperti saham konvensional, saham syariah juga memiliki saham blue chip yang minim risiko penurunan harga dan saham yang likuid, alias mudah diperjualbelikan.

Baca juga: Tiru 10 Artis Ini yang Bertambah Kaya dengan Investasi Saham

Investasi saham syariah pada dasarnya tidak jauh beda dengan saham konvensional. Namun, saham syariah menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki saham konvensional yaitu berinvestasi sambil mencari keuntungan yang halal dan membawa berkah.