Lulus kuliah dari Universitas Bina Nusantara jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV), Putri Sampaghita Trisnawinny Santoso (27), pendiri Kopi Tuli, mengaku sudah melamar sana sini. Dari 500 lamaran yang dia kirim, hanya satu kali Putri lolos tes hingga interview.

Baca juga: Yola Agatha: Manisnya Buah Perjuangan Membangun Bisnis Salad Nyoo 

“Tetapi belakangan perusahaan itu menolak karena katanya lowongannya sudah terisi,” kenang Putri seperti dikutip Kompas.com.

Putri menduga kegagalannya itu disebabkan dia selalu menulis keterangan “disabilitas tuli” pada surat lamarannya.

Hal inilah yang kemudian menginspirasi Putri dan kedua sahabatnya sejak kecil yang juga tuli, M. Adhika Prakoso dan Erwin Syah Putra, untuk berbuat sesuatu.

“Saya mengusulkan untuk berjualan kopi, kebetulan saya juga suka kopi,” kata Adhika sebagaimana dikutip Jawa Pos.

Dari situlah asal muasal Kopi Tuli yang belakangan kondang disebut Koptul lahir.

Identitas bisnis

Baik Putri, Adhika, dan Erwin sudah bertekad menjadikan kekurangan mereka sebagai identitas bisnis gerai kopi mereka.

Tentu saja jalan bisnis Koptul tidak langsung mulus seperti yang dibayangkan orang. Trio pendiri Koptul ini harus berusaha berjuang bersaing dengan gerai kopi lain yang  sudah memiliki nama.

Menurut Adhika, setelah membuka gerai Koptul pertama di kawasan Depok pada Mei 2018,  mereka sama sekali belum punya sistem dan mekanisme melayani pembeli terutama untuk konsumen yang bisa mendengar dan biasa mereka sebut “teman dengar” .

“Kami memutuskan untuk menulis menunya, tetapi tetap tidak efektif,” kata pemuda tersebut.

Baca juga: Rizki Adventus: Pengusaha Muda Sukses Kelola Bisnis Pakaian Olahraga

Tantangan tersebut akhirnya justru memunculkan konsep unik yang tidak dimiliki gerai kopi lain yaitu pembeli kopi yang teman dengar bisa memesan kopi dengan sedikit belajar menggunakan bahasa isyarat.

Menu Koptul juga mencantumkan simbol bahasa isyarat yang mewakili nama menu sehingga konsumen dapat membuat bahasa isyarat atau menunjuk gambar menu saat memesan.

“Menunya sengaja kami bikin besar biar bisa langsung ditunjuk,” jelas Adhika lagi.

Pada dasarnya menunjuk menu hanya solusi terakhir karena staf di Koptul rata-rata bisa membaca gerak bibir pembeli, selama ucapannya tidak terlalu cepat. Selain itu rata-rata mereka juga bisa menanggapi permintaan konsumen secara lisan.

Pemberdayaan teman tuli

Gerai Koptul di Depok dalam sehari mampu menjual hingga 100 gelas. Mereka yang menjadi pelanggan menurut Putri bervariasi, yaitu 60 persen teman tuli dan 40 persen teman dengar.

Usaha yang ditekuni dengan serius dan menggunakan konsep yang lain daripada yang lain memang  sering berhasil. Terbukti pada November 2018, Putri dan kawan-kawan membuka kedai Koptul kedua di Duren Tiga.

Berbeda dengan Koptul Depok yang diperuntukkan untuk penikmat kopi yang ingin mengobrol santai, Koptul Duren Tiga justru mengusung tema yang lebih serius yaitu sebagai rumah belajar untuk pemberdayaan teman tuli.

Selain menjadi tempat untuk pertemuan dan diskusi, Koptul juga akan menjadi wadah bagi mereka yang ingin belajar bahasa isyarat.

“Saat ini sedang dikonsep bersama Pusbisindo (Pusat Bahasa Isyarat Indonesia – Red.),” kata Adhika.

Menu unik untuk interaksi

Koptul memiliki 12 menu kopi dan minuman lain dengan nama yang tidak biasa. Misalnya Kosu Koso, Daun Susu, Marmer Hitam, hingga Kopi Awan.

Ternyata ada sesuatu di balik pemberian nama kopi yang tidak lazim tersebut.

“Ini mendorong adanya interaksi antara pembeli dan teman tuli karena akan ada pertanyaan,” kata Putri seperti dikutip dari Kompas.com.

Baca juga: Faizal Hidayat, Jadi Miliarder Berkat Susu Murni 

Harga kopi yang ditawarkan cukup terjangkau yaitu antara Rp10.000- Rp20.000.

Koptul juga sengaja tidak memasang wifi dalam gerainya untuk lebih mendorong pengunjung saling berinteraksi.

Saat ini Koptul sudah mempekerjakan 16 orang staf yang semuanya merupakan kaum disabilitas. Mereka dilatih bagaimana membuat kopi dan juga melayani pelanggan.

“Karena Koptul itu untuk memberdayakan teman-teman yang tuli. Supaya teman-teman bisa mandiri secara ekonomi,” kata Putri sebagaimana dikutip oleh Tempo.co.

Setelah setahun berdiri,  Koptul menangguk pendapatan kotor sebanyak Rp100 juta setiap gerainya per bulan.

Ketiga pengusaha muda ini mempunyai mimpi mendirikan 1.000 gerai kopi di Tanah Air atau dengan kata lain bisa mempekerjakan 4.000 penyandang disabilitas.

“Kopi Tuli merupakan jawaban kekecewaan kami, karena kami selalu ditolak karena penyandang disabilitas,” ucap Adhika