Melakukan sesuatu yang sangat disukai dan mendatangkan keuntungan finansial menjadi mimpi banyak orang. Kris Samuel (30 tahun) termasuk orang yang dapat menikmati kelebihan itu dengan Uttara Indonesia, brand perlengkapan bepergian (leisure gear) yang dibangunnya sejak tahun 2016. Saat itu alumnus Jurusan Psikologi Universitas Maranatha, Bandung, ini membuat jasa penyelenggara open trip untuk memenuhi kebutuhan biaya hobinya sebagai pencinta alam.

Baca juga: Bisnis Seni E-Commerce Ala Katiana Selopranoto

Pengalaman tidur di alam bebas ketika menjadi tour guide memantik inspirasi dalam diri Kris untuk membuat hammock (tempat tidur seperti ayunan yang digantung kedua ujungnya) sendiri dan menjualnya ke komunitas pencinta alam. Ide tersebut menjadi cikal bakal Uttara Indonesia, yang kini telah berkembang menjadi sebuah bisnis dengan rata-rata omzet Rp100 juta per bulan. Uttara Indonesia juga mampu menyabet juara kompetisi The Big Start Blibli.com 2017 serta pemenang kategori industri jasa dan perdagangan Wirausaha Mandiri 2019.

Simak perbincangan Satu Tumbuh Seribu dengan Kris Samuel mengenai perjalanannya membangun Uttara Indonesia berikut ini.

Dari mana awal inspirasi mendirikan Uttara?

Jadi ceritanya setelah kuliah, untuk memenuhi kebutuhan biaya hobi saya traveling, naik gunung, dan main di pantai, saya memutuskan membuat provider open trip. Di salah satu trip ke Pahawang, Lampung, kebetulan pesertanya cukup banyak, jadi saya sebagai tour leader enggak dapat tempat tidur di ruangan. Biasanya saya mendirikan tenda di pantai saat kondisi begini. Tapi waktu itu terpikir kalau tidurnya di tempat tidur gantung di antara dua pohon kelapa kayaknya asyik. Jadi sebelum trip saya mulai keliling cari bahan dan saya buatlah sebuah hammock untuk tempat tidur saya. Saat trip saya pakai dan ternyata enak, ditambah peserta tripantusias sama hammock itu, “Bikin di mana, beli di mana?” Saya jawab, “Beli di saya aja.” Ini cikal bakal Uttara.

Apa makna di balik nama Uttara?

Di awal 2016 saya mulai memberanikan diri membuat brand Uttara, nama ini diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya arah mata angin Utara. Seperti kompas yang selalu menunjuk ke Utara, Uttara ingin menjadi arahan dan pilihan gear para traveler.

Baca juga: Bisnis Coklat Klasik Martalinda Basuki

Apa produk pertama Uttara? Bisa diceritakan apa tantangan dalam produksi dan pemasarannya waktu itu dan bagaimana mengatasinya?

Produk pertama kami itu hammock dan karena sudah punya pasar yang awalnya peserta tour travel saya, saya coba dengan sistem PO (pre order). Dengan sistem ini bisa dibilang modal awal saya nol, mungkin modal awalnya keluar biaya untuk bikin barang buat diri sendiri saja.

Siapa target pasar Uttara dan apakah ada survei pasar sebelumnya?

Target marketnya traveler, penikmat alam. Saya enggak melakukan survei, tapi lebih ke mendekatkan diri ke komunitas, cari inspirasi, dan masukan untuk produk-produk Uttara dari komunitas.

Apa yang dilakukan di awal Uttara berdiri untuk merebut kepercayaan target pasar?

Untuk merebut kepercayaan pasar, kita jaga kualitas barang kita, produksinya in-house semua di konfeksi rumahan punya sendiri dan kita kasih garansi untuk setiap produk Uttara. Seluruh bahan baku juga didapat dari pabrik internasional di Purwakarta, yang sudah terjamin kualitasnya.

Apa saja channel pemasaran dan penjualan Uttara? Apakah Uttara sudah dijual di luar Indonesia?

Untuk pemasaran fisik, sudah tersedia di berbagai toko outdoor traveling mulai dari ujung Medan sampai Sorong, juga ada tiga toko di Malaysia. Kalau online kami menjual produk Uttara di marketplace seperti Blibli, Tokopedia, dan lain-lain. Untuk promosi onlinenya lewat akun Instagram @uttara_ind.

Apa yang dilakukan dalam hal inovasi produk dan menjaga loyalitas konsumen?

Uttara mencoba menambah satu produk tiap bulannya dan tiap produk Uttara memiliki fitur unik. Misalnya jaketnya bisa dilipat ke kantongnya sendiri, matras anginnya bisa dikembungkan dalam empat kali tiup, tas kecilnya bisa jadi backpack, slingbag dan hipbag, torso tas besarnya bisa diatur dari hip belt-nya, tendanya bisa berdiri dengan trekking pole, dan lain-lain. Harapannya dengan fitur unik yang memang berguna, Uttara bisa jadi pilihan konsumen.

Saat ini Uttara dapat memproduksi berapa item per bulan dan berapa rata-rata omzet Uttara per bulannya?

Sekarang sudah ada lebih dari 24 jenis produk, harganya mulai dari Rp60.000 hingga Rp1.150.000. Seluruh produk Uttara dibuat secara in-house untuk menjamin kualitas dan secara kapasitas Uttara mampu membuat 600-800 barang per bulan dengan omzet rata-rata Rp100 juta per bulan.

Baca juga: Eksport Ikan Hias Ala Nicholas Kurniawan

Apa harapan dan rencana pengembangan Uttara ke depan?

Harapannya dengan produk Uttara yang ringan, ringkas, dan berkualitas tinggi, bisa mengubah cara orang untuk bepergian. Dengan memakai produk Uttara, bepergian bisa jadi semakin mudah dan semakin menyenangkan.

Terakhir bicara soal investasi, apakah Anda sudah melakukan investasi? Mengapa menurut Anda investasi itu penting bagi anak muda?

Investasi yang sudah saya lakukan yaitu menabung saham dan mencicil properti. Saya rasa membuat Uttara ini termasuk investasi juga. Semakin cepat punya investasi semakin baik, karena nilai uang nanti akan semakin kecil karena inflasi. Kalau cuma ditabung pasti akan kalah, karena bunga bank pasti lebih kecil dari investasi.