Memilih investasi merupakan kegiatan mengembangkan kekayaan seseorang dengan harapan bisa menjamin kebutuhan di masa depan. Orang berharap imbal hasil investasi melebihi bunga tabungan atau deposito di bank.

Namun, seringkali ekspektasi tinggi terhadap imbal hasil investasi membuat sebagian masyarakat kita menjadi korban investasi bodong dengan tawaran imbal hasil luar biasa yang tidak masuk akal. Mengapa disebut tidak masuk akal? Karena investasi bodong menjanjikan investasi tanpa risiko dan kita tinggal duduk manis, uang berkembang sendiri.

Baca juga: Melihat Beda Produk Investasi

Kalau sudah menjadi korban, barulah orang tersadar bahwa memilih investasi seharusnya tidak sekadar melihat imbal hasil, tetapi juga harus mempertimbangkan berbagai aspek. Aspek-aspek tersebut yaitu:

Keamanan   

Pastikan pengelola dana investasi kita merupakan lembaga yang legal, terdaftar resmi di badan regulator investasi sehingga mereka diawasi oleh institusi yang berwenang seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI), atau Bursa Efek Indonesia (BEI).

Tujuan     

                                                                                               

Sebelum memilih investasi, sebaiknya investor menentukan tujuannya seperti ingin memiliki dana pendidikan untuk anak, dana pensiun, biaya pernikahan, uang muka rumah, dan sebagainya. Tujuan yang berbeda akan menyebabkan pilihan instrumen investasinya juga berbeda-beda.

Untuk tujuan dana pensiun maka produk yang tepat adalah saham karena imbal hasilnya lebih maksimal dalam jangka panjang yaitu hingga masa pensiun tiba. Sedangkan untuk dana pendidikan yang merupakan tujuan keuangan jangka menengah, 3-5 tahun, reksa dana campuran merupakan pilihan tepat karena bisa memberikan return yang cukup tinggi, misalnya 11% hingga 15% per tahun (dengan syarat komposisi saham lebih besar dibandingkan obligasi).

Baca juga: Kenali Jebakan Emosi saat Berinvestasi

Jaminan kestabilan

Bagi yang tidak menginginkan dananya berkurang maka bisa memilih investasi yang risikonya sedang namun tingkat keamanannya tinggi dengan imbal hasil di atas bunga deposito, seperti obligasi pemerintah, baik surat utang negara maupun obligasi retail Indonesia atau ORI. Karena negara yang menerbitkan ORI, lembaga rating seperti PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) pun memberikan rating triple A. 

Kedalaman pengetahuan investasi

Tahukah kamu investor kelas kakap Warren Buffet? Saham-saham koleksinya naik berkali-kali lipat karena kelihaiannya dalam memilih saham. Seperti pilihannya pada saham Coca-Cola di tahun 1988. Selang 27 tahun kemudian, sahamnya naik 16 kali lipat. Dia juga rajin membeli saham Apple Inc, yang kini sangat bernilai tinggi, nilai kapitalisasinya pernah menyentuh US$1 triliun karena penjualan iPhone yang meledak di seluruh dunia.

Uang investor yang dikelola Buffet di perusahaan investasinya Berkshire Hathaway naik 9.000 kali lipat dalam waktu 52 tahun. Selama 52 tahun, uang investor yang dikelola oleh Berkshire ditempatkan pada sejumlah saham di mana beberapa saham juga cukup kita kenal seperti Coca Cola, Procter & Gamble (P&G), dan General Electric.

Hal ini dikarenakan kejelian Buffet dalam menangkap peluang bisnis di masa depan. Buffet memperdalam pengetahuan investasinya dari pengalamannya di pasar modal selama puluhan tahun. Kesalahan memilih saham yang menyebabkan kerugian pernah juga dia alami. Kunci sukses Buffet adalah dia rajin mengoleksi saham yang sedang jatuh harganya, namun saham tersebut memiliki prospek bagus. Dia bersikap sabar karena memiliki kebijakan Beli dan Tahan, prinsipnya dalam berinvestasi jangka panjang.

Baca juga: 4 Investasi Terbaik di Era Pasar Bebas

Nah, semoga dengan mempertimbangkan empat hal di atas, kamu dapat lebih cermat memilih investasi dan tidak hanya “silau” dengan imbal hasil yang ditawarkan.