Saham-saham yang akan menjadi “penghuni” baru bursa saham atau saham IPO (initial public offering) sering menjadi incaran investor. Penyebabnya, harga saham IPO biasanya akan naik drastis di hari pertama perdagangan dan hari-hari berikutnya.

Baca juga: Pelajari Kiat Membeli Saham IPO Ini

Namun, tidak sedikit pula banyak investor yang kecewa setelah membeli saham IPO karena harganya langsung anjlok di minggu berikutnya dan hari-hari perdagangan selanjutnya disebabkan berakhirnya euforia pasar dan pengumuman pendapatan perusahaan yang tidak baik (fundamental perusahaan memang tidak bagus).

Karena itu, sebelum membeli saham IPO, ada baiknya kamu melakukan hal-hal berikut ini sebagai pertimbangan 

1.Valuasi Perusahaan

Vice President of Investment Banking Valbury Sekuritas Indonesia Nizar mengatakan patokan valuasi saham IPO adalah Price to Earning Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV).

Penilaian apakah sebuah saham IPO terlalu mahal atau tidak adalah nilai saham perusahaan yang didapat dengan membagi harga saham yang ditawarkan perusahaan ke publik dengan laba bersih per satu saham (earning per share) perusahaan.

Laba bersih yang dijadikan penilaian adalah laba tahun lalu sebelum perusahaan IPO. Setelah didapat nilai PER saham IPO tersebut, lalu bandingkan dengan PER saham perusahaan di sektor yang sama.

Misalkan ada perusahaan tambang batu bara yang IPO, maka bandingkan dengan saham perusahaan batu bara yang sudah melantai lebih dahulu di Bursa Efek Indonesia seperti Adaro, PT Bukit Asam, dan lain-lain. Jika PER saham IPO lebih rendah daripada PER saham Adaro atau PER saham Bukit Asam, saham tersebut layak dibeli.

2.Keberlanjutan Usaha

Nizar mengatakan, PER dan PBV adalah salah satu patokan valuasi. Hanya saja, keberlanjutan pertumbuhan bisnis perseroan tersebut  juga harus ditinjau dari nature of business-nya, bagaimana tren bisnisnya ke depan, serta rencana dan/atau strategi bisnis perseroannya.

Ada sejumlah industri yang masa depannya suram karena banyak pembatasan dari pemerintah seperti industri rokok dan minuman beralkohol. Oleh karena itu, jika ada perusahaan di sektor ini yang akan IPO sebaiknya dihindari.

Baca juga: Karyawan Bisa Juga Punya Saham!

3.Manajemen Risiko

Keputusan membeli saham IPO tentu harus memperhatikan pula manajemen risiko terhadap penggunaan modal investasi. Terlalu berisiko jika menggunakan seluruh modal kita untuk membeli saham IPO. Alasannya, saham IPO adalah saham yang baru diperdagangkan di bursa sehingga kita tidak tahu pola pergerakannya di masa depan seperti halnya saham-saham yang sudah lebih dulu diperdagangkan di bursa. 

Nizar menjelaskan, sebetulnya ini adalah strategi masing-masing investor. Namun, investor juga harus memperhatikan manajemen risiko. “Sebanyak-banyaknya persentase investasi (saham IPO) yang akan dijalankan diharapkan tidak melebihi separuh total dana investasi (50%),” ujarnya.

4.Membaca Prospektus Perusahaan

Nizar menyarankan investor yang akan membeli saham IPO untuk membaca prospektus calon emiten. Prospektus merupakan rangkuman informasi perseroan yang berisi profil perseroan, manajemennya, sejarah pertumbuhan kinerja, hingga proyeksi pertumbuhannya ke depan (3-5 tahun).

Dari histori pendapatan, laba, rugi, dan utang di masa lampau bisa didapat gambaran mengenai perusahaan tersebut sehingga kamu bisa memutuskan untuk membeli sahamnya atau tidak. Prospektus ini bisa didapat saat acara Due Diligence ke publik.

5.Pilih Saham-saham Favorit Investor

Ada sejumlah saham yang menjadi incaran para investor di pasar modal seperti saham sektor consumer goods dan rumah sakit. Saat ini kebutuhan masyarakat akan rumah sakit sangat besar yang ditunjukkan tingkat keterisian tempat tidur yang tinggi.

Sementara consumer goods merupakan kebutuhan utama manusia yaitu makanan sehingga pendapatan perusahaan-perusahaan di sektor ini cenderung stabil.

“Sederhananya, ketika perusahaan mempunyai kemampuan menghasilkan pendapatan yang jelas terlihat, dengan sendirinya investor akan menjadikan saham tersebut sebagai incaran. Dengan prospek pendapatan yang jelas, (dengan manajemen yang baik) maka prospek keuntungan juga akan lebih jelas,” urai Nizar.

Perusahaan yang dikelola dengan baik pada akhirnya akan menciptakan laba bersih dan valuasi saham yang baik sehingga dapat meningkatkan nilai dan harga saham juga dengan sendirinya.

Saham-saham sektor favorit ini saat IPO umumnya mengalami kelebihan permintaan yang tinggi, hingga puluhan kali. Dengan kondisi over subscribed (kelebihan permintaan) maka otomatis diberlakukan penjatahan secara proporsional yang berakibat banyak investor tidak kebagian saham IPO yang diincarnya.

Baca juga: Inilah Investasi Terbaik Sepanjang Sejarah

Namun, jika kamu tidak kebagian saham favorit saat IPO jangan berkecil hati. Nizar menjelaskan, sepanjang harga saham-saham tersebut di pasar sekunder masih mempunyai potensi kenaikan lebih lanjut, tidak ada salahnya untuk membelinya selepas IPO.

Bagaimana, siap mencoba berinvestasi di saham IPO?