Surat utang negara (SUN) atau obligasi pemerintah Indonesia menjadi favorit bagi investor asing. Di tiap lelang yang diadakan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, mereka antusias membeli SUN. Demikian juga di pasar sekunder, investor asing aktif membeli SUN, terutama saat berita positif tentang kondisi makroekonomi Indonesia muncul.  

Baca juga: Jenis Surat Utang Negara yang Wajib Kamu Tau

Hingga di awal tahun 2020 investor asing menguasai sekitar 39,1% surat utang pemerintah, angka ini merupakan terbesar di antara investor domestik. Dilihat dari nominalnya mencapai Rp1.078,6 triliun.

Melihat antusiasme investor asing memiliki SUN, menarik juga untuk mencermati faktor-faktor pendorongnya. Berikut ini adalah alasan investor asing memiliki surat utang pemerintah Indonesia:

Yield besar

SUN menjadi primadona di antara surat utang negara-negara berkembang lainnya karena menawarkan yield atau imbal hasil yang besar. Untuk surat utang pemerintah tenor 10 tahun, yield obligasi pemerintah mencapai 6,866% dengan spread sekitar 5% (503.4 bps) di atas obligasi  US Treasury untuk tenor yang sama. US Treasury adalah surat utang pemerintah Amerika Serikat yang menjadi acuan investor global.

Spread tersebut merupakan yang tertinggi di antara sejumlah negara berkembang lainnya,” ujar Ahmad Nasruddin, analis Fixed Income PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo.

Rating investment grade

Sejak tahun 2011 Indonesia sudah memperoleh rating investment grade oleh lembaga pemeringkat internasional yaitu Fitch, dilanjutkan oleh Moody’s di tahun berikutnya. Standard and Poor’s merupakan lembaga terakhir yang menyematkan rating investment grade di tahun 2017. 

Rating investment grade merupakan acuan bagi investor asing dalam menanamkan modal di surat utang sebuah negara. Investment grade adalah kategori bahwa suatu perusahaan atau negara dianggap memiliki kemampuan yang cukup dalam melunasi utang-utangnya. Investor yang mencari investasi aman akan memilih surat utang negara yang mendapat rating investment grade.  

Menurut Ahmad, ada beberapa alasan S&P menaikkan peringkat surat utang  Indonesia:

  • Ekonomi Indonesia secara konsisten mengungguli negara-negara emerging market lainnya pada tingkat pendapatan yang serupa.
  • Prospek pertumbuhan Indonesia tetap kuat di tahun-tahun mendatang dibandingkan dengan negara-negara emerging market lainnya.
  • Kebijakan Indonesia yang stabil dan pengaturan fiskal yang hati-hati. Lingkungan kebijakan di Indonesia relatif konstruktif untuk mendukung prospek pertumbuhannya di tahun-tahun mendatang.

Inflasi stabil

Selain investment grade, Ahmad menyebutkan tingkat inflasi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir juga relatif rendah, sehingga secara riil, yield juga cukup prospektif.

Ia menambahkan, tantangan memang ada pada nilai tukar rupiah yang masih volatil terhadap dolar AS. Hal ini disebabkan neraca perdagangan Indonesia masih fluktuatif, sehingga membuat rupiah relatif volatil.

Risiko lebih rendah

Surat utang negara memiliki risiko lebih rendah dibandingkan saham dan surat utang yang diterbitkan perusahaan swasta. Risiko gagal bayarnya lebih rendah sehingga asing memilih berinvestasi di surat utang negara. Selain emas, surat utang negara merupakan aset safe haven.

Saat perlambatan ekonomi, seperti yang terjadi di tahun lalu, laba perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia tumbuh lebih rendah atau malah stagnan sehingga akan menekan harga sahamnya. Hal ini membuat investor lebih menyukai surat utang negara yang stabil harganya.

Baca juga: ORI, Pilihan Berinvestasi Sambil Berkontribusi untuk Negara

Tidak ada batasan dari pemerintah

Tidak ada kebijakan pemerintah untuk membatasi kepemilikan asing pada surat utang negara. Indonesia menganut sistem devisa bebas sehingga dana asing masuk dan keluar dengan bebas, hal ini menarik investor asing untuk menanamkan uangnya.

Risiko besar menghantui

Kendati minat investor asing terhadap surat utang pemerintah membuat kita bangga, namun ada bahaya jika kepemilikan mereka semakin besar hingga melewati 50% dari total surat utang negara yang diterbitkan Kementerian Keuangan. 

Bila terjadi kepanikan pasar dan mereka menjual SUN secara serempak, rupiah dapat jatuh terdepresiasi sangat dalam dan terjadi krisis moneter. Untuk mengantisipasi hal tersebut, investor lokal harus mengimbangi dengan membeli lebih banyak surat utang negara. 

Baca juga: Berinvestasi di Tengah Perang Dagang

Nah, kamu bisa juga berperan dengan membeli surat utang negara retail seperti ORI. Cukup dengan dana Rp1 juta kamu sudah bisa membeli ORI, baik saat peluncurannya atau di pasar sekunder. 

Selamat berinvestasi!