Mayoritas saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi favorit para investor, baik lokal maupun asing. Saham-saham BUMN ini masuk dalam kategori saham blue chip, yaitu saham yang likuid dan kapitalisasi pasarnya besar sekali. Emiten pelat merah yang melantai di BEI menguasai 26% kapitalisasi pasar modal di dalam negeri pada 2018.

Baca juga: Bingung Beli Saham Apa? Yuk Cek Di sini!

Kira-kira mengapa demikian, ya? Berikut ini beberapa alasan kuat para investor membeli saham-saham BUMN:

Tingkat keamanan tinggi

Berinvestasi di saham-saham BUMN memiliki tingkat keamanan yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan swasta nonpemerintah. Sebabnya, pemilik BUMN adalah pemerintah sendiri sehingga dianggap perusahaan BUMN tidak akan bangkrut karena disokong pihak yang kuat.

Sebagai contoh, di 2015 saat rupiah rontok dan terjadi aksi jual masif saham di BEI, pemerintah mengeluarkan dana hingga Rp10 triliun untuk melakukan aksi buyback menyelamatkan harga saham BUMN yang tercatat di BEI.

Demikian pula saat perusahaan BUMN menerbitkan surat utang, rating yang disematkan oleh lembaga rating umumnya di atas investment grade sehingga pembeli surat utang diyakinkan akan pembayaran kupon dan pokok utang saat jatuh tempo.

Pemodalan kuat

Pemerintah kerap menyuntikkan dana ke BUMN berupa Penyertaan Modal Negara (PMN) agar bisa melaksanakan proyek yang bernilai raksasa.

Keistimewaan seperti ini tidak diterima perusahaan swasta, sekalipun itu perusahaan besar dan ternama di Indonesia.

Diawasi pemerintah

Saham emiten BUMN selalu dalam pengawasan pemerintah. Ketika emiten BUMN ingin melakukan aksi korporasi, pengawasan yang dilakukan pemerintah jauh lebih kuat. Bahkan jika ada emiten BUMN bermasalah, akan ada upaya pemerintah menyelamatkannya demi kepentingan negara bukan kepentingan individu, seperti halnya perusahaan swasta.

Ketika ada emiten BUMN yang bermasalah, pemerintah selaku pemegang saham mayoritas bertindak karena berhubungan dengan citra pemerintah.

Baca juga: Tips Memilih Saham IPO untuk Pemula

Kemudahan mendapat proyek

Pada program pembangunan infrastruktur pemerintah, BUMN jasa konstruksi mendapat prioritas untuk menggarap proyek tersebut, seperti PT Wijaya Karya yang bersama kontraktor asal Jepang menggarap MRT. Begitu pula PT Adhi Karya yang membangun konstruksi jalur LRT beserta stasiun dan TOD-nya.

Meskipun demikian, tidak semua saham BUMN menjadi favorit investor karena kinerjanya yang tidak stabil dan belum menghasilkan laba besar, seperti maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) yang masih sering merugi. Harga saham Garuda Indonesia saat penulisan artikel ini berada di Rp468 , jauh di bawah harga IPO yang senilai Rp750 per saham.

Karena itu sebelum membeli saham BUMN kamu harus memperhatikan hal-hal berikut:

  1. Kebijakan pemerintah

Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla mencanangkan pembangunan infrastruktur besar-besaran. Dampak positif ada pada pendapatan PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) selaku BUMN operator jalan tol.

PT Jasa Marga mengantongi kenaikan pendapatan tol sebesar 9,2 persen menjadi Rp4,74 triliun pada semester I 2019. Kontribusi pendapatan tol di ruas-ruas anak perusahaan tercatat sebesar 17,2 persen tumbuh dibandingkan kontribusi periode yang sama tahun 2018 sebesar 12,9 persen. Kenaikan kontribusi tersebut merupakan dampak dari pengoperasian jalan tol baru.

Sebaliknya, kebijakan pemerintah yang membatasi kenaikan harga semen memberi dampak negatif ke BUMN yang merupakan produsen semen seperti PT Semen Indonesia Tbk.

Pada awal 2015, Presiden Jokowi mengumumkan penurunan harga semen produksi BUMN antara lain PT Semen Padang, PT Semen Gresik, PT Semen Tonasa, dan lainnya.

  1. Kenaikan relatif lambat

Saham-saham BUMN yang masuk kategori blue chip memiliki ketahanan yang tinggi jika terjadi aksi jual masif karena kejadian besar seperti jatuhnya nilai rupiah atau daya beli yang menurun. Namun, harga sahamnya juga relatif lambat saat merangkak naik. Apalagi jika kenaikannya dibandingkan dengan saham kapitalisasi menengah dan kecil.

Baca juga: Trading Forex dan Saham Apa Perbedaannya

Karena itu, sebaiknya berinvestasi di saham BUMN harus dalam jangka panjang, tidak bisa hanya satu atau dua tahun. Yang tak kalah penting, lakukan analisis fundamental dan teknikal yang memadai sebelum berinvestasi saham untuk mengelola risikonya.