6 Langkah Mudah Diet Finansial Demi Keuangan Sehat

85

Siapa bilang diet hanya dibutuhkan oleh tubuh supaya kualitas kesehatan senantiasa terjaga? Layaknya sebuah tubuh yang perlu senantiasa dirawat agar sehat dan bugar, kondisi keuangan pun perlu perawatan supaya keuangan sehat. Pada beberapa kondisi, keuangan pribadi juga perlu diet finansial sebagaimana diet tubuh agar masalah bisa diselesaikan dan keuangan sehat kembali.

Baca juga: Cek Kesehatan keuangan dengan cara ini

Nah, setelah menempuh evaluasi keuangan di akhir tahun, mungkin kamu akhirnya menemukan permasalahan finansial cukup pelik dan membutuhkan penanganan segera. Salah satu jalan keluar yang bisa kamu tempuh untuk menangani masalah keuangan adalah dengan melakukan diet finansial agar keuangan sehat. Bagaimana diet finansial yang bisa dijalankan? Yuk, simak langkah-langkahnya berikut ini:

Sebelum menentukan langkah diet finansial yang tepat, sudah selayaknya kamu mengecek lebih dulu kondisi keuangan melalui evaluasi alias financial check-up. Pemeriksaan kesehatan keuangan idealnya memang dilakukan di akhir tahun. Tapi, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Bila di akhir tahun lalu kamu belum sempat menggelar evaluasi keuangan, mumpung masih bulan Februari, jangan tunda lagi menempuh financial check up. Langkah ini penting supaya kamu bisa mengetahui kondisi keuangan yang sebenarnya.

Nah, apa saja yang perlu dicek ketika menggelar financial check-up? Ada banyak rasio keuangan yang perlu diperiksa saat financial check-up. Namun, paling tidak kamu fokus dahulu pada 3 daftar berikut ini:

  • Periksa beban utang

Keuangan yang ideal adalah keuangan yang tidak menanggung beban utang terlalu besar. Utang ibarat kolesterol jahat yang bisa membahayakan kelangsungan kinerja tubuh. Bila beban utang seseorang terlalu banyak, bahkan menggerogoti sebagian besar pendapatan yang ia hasilkan, bisa dipastikan kondisi keuangannya terbilang rentan atau mudah terjatuh dalam kondisi bangkrut.

Maka itu, cobalah hitung rasio utang kamu sekarang. Caranya, daftarlah semua beban cicilan utang yang harus kamu bayar setiap bulan. Lalu, bagilah jumlahnya dengan total pendapatan kamu selama satu bulan. Angka maksimal debt service ratio adalah 30%. Jangan sampai lebih dari itu, ya.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Baca juga: 8 Cara Cerdas Mengelola Keuangan

  • Kecukupan dana darurat untuk keuangan sehat

Dalam kamus perencanaan keuangan, ada yang dinamakan rasio likuiditas. Itu adalah ukuran untuk melihat kemampuan keuangan seseorang dalam mengubah aset yang dimiliki menjadi uang tunai secara cepat. Tingkat likuiditas ibarat darah yang mengalir di tubuh. Ketika menghadapi kondisi darurat tapi ternyata aset yang kamu miliki sulit diubah menjadi dana tunai, maka bisa terjadi situasi “kurang darah” dan berisiko menjebak keuangan kamu dalam jeratan utang.

Semakin memadai dana darurat seseorang, bisa dipastikan rasio likuiditasnya juga sehat. Cara mengukurnya mudah yaitu jumlahkan semua nilai aset likuid yang kamu miliki mulai dari uang tunai, tabungan, deposito, reksa dana pasar uang, emas; lalu, bagilah dengan total pengeluaran kamu selama satu bulan. Kecukupan dana darurat idealnya minimal sebesar 6 kali besar pengeluaran bulanan. Jadi, bila pengeluaran bulanan kamu Rp10 juta, maka minimal dana darurat yang harus kamu miliki adalah Rp60 juta.

  • Lihat saldo tabungan

Sudah idealkah rasio tabungan kamu? Keuangan sehat idealnya memiliki rasio tabungan minimal sebesar 10%. Cara mengetahui rasio tabungan adalah dengan menjumlahkan total tabungan yang kamu miliki saat ini dan bagilah dengan total pendapatan. Contoh, setiap bulan kamu menghasilkan pendapatan Rp12 juta. Dari jumlah itu, kamu mampu menyisihkan Rp3 juta setiap bulan. Berarti, rasio tabungan kamu mencapai 25% atau terbilang sehat.

Bila ternyata angkanya di bawah 10% berarti kamu belum cukup menyisihkan pendapatan untuk ditabung. Itu bisa menjadi masalah di masa mendatang saat kebutuhan semakin banyak.

  • Keuangan sehat = Kecukupan aset dibanding utang

Merasa sudah pantas disebut sebagai orang kaya? Cek dulu kualitas kekayaan kamu dengan mengevaluasi kecukupan aset dibanding utang. Jangan-jangan kekayaan atau aset yang kamu miliki saat ini mayoritas dibiayai oleh utang? Itulah mengapa dalam financial check-up, penting untuk menghitung rasio utang dibanding aset. Caranya mudah, jumlahkan nilai total aset ya

ng kamu miliki, mulai dari aset likuid, aset guna, aset investasi dan sebagainya; lalu bagilah dengan total utang. Angka ideal adalah di bawah 50%. Semakin kecil angkanya berarti keuangan kamu semakin sehat.

Contoh, total aset yang kamu miliki mencapai Rp2 miliar. Adapun total utang adalah sebesar Rp1,1 miliar. Berarti, rasio utang dibanding aset mencapai 55%. Ini tidak sehat karena artinya 55% kekayaan kamu sejatinya dibiayai oleh utang.

Baca juga: Tips Kelola keuangan untuk Pasangan Muda

#1 Identifikasi “penyakit” keuangan

Setelah menggelar financial check-up, kini kamu lebih tahu kondisi keuangan kamu yang sebenarnya. Cobalah mengidentifikasi secara runut apa saja “penyakit keuangan” yang kamu derita. Misalnya, dari hasil pemeriksaan keuangan, ternyata terlihat rasio utang kamu sangat tidak sehat.

Hitung punya hitung, beban cicilan utang kamu setiap bulan memakan 40% dari total pendapatan rutin. Ini jauh di atas angka maksimal rasio utang yang idealnya tidak boleh melebihi 30%. Kasus lain, ternyata hasil evaluasi menunjukkan dana darurat kamu sangat minim karena sering terpakai untuk hal-hal konsumtif yang sebenarnya bisa ditunda. Misalnya, memakai dana darurat untuk berbelanja diskon akhir tahun. Identifikasi “penyakit-penyakit” keuangan tersebut dan lanjutlah ke langkah berikut. 

#2 Tentukan prioritas diet

Seperti diet makanan, melakukan diet finansial juga perlu prioritas. Menyelesaikan masalah keuangan sekaligus seringkali agak sulit dilakukan karena setiap “penyakit” kadangkala membutuhkan pendekatan yang berbeda-beda dan perlu mempertimbangkan kondisi keuangan kamu saat ini.

Sebagai contoh, dari hasil financial check-up, terbukti ada dua masalah keuangan. Masalah pertama adalah rasio utang kamu kurang sehat. Hampir setengah pendapatan rutin kamu tersedot untuk membayar cicilan utang. Setelah ditelisik lebih jauh, rupanya ada beberapa jenis cicilan yang kamu tanggung setiap bulan. Yaitu, cicilan kredit pemilikan rumah (KPR) dan cicilan atau tagihan kartu kredit.

Tagihan kartu kredit sering melampaui budget yang sudah kamu tentukan sehingga saat tagihan datang, pendapatan kamu akhirnya ikut terkuras untuk melunasi kartu kredit agar terhindar dari biaya bunga. Alhasil, rasio utang pun jadi besar. Masalah kedua, nilai dana darurat yang kamu miliki juga tidak memadai. Hanya sejumlah 3 kali nilai pengeluaran bulanan.

Nah, dari dua masalah tersebut mana yang lebih prioritas diobati? Tentu saja masalah rasio utang lebih mendesak diselesaikan. Dalam konteks masalah di atas, maka langkah diet finansial yang perlu segera kamu tempuh adalah mengurangi bahkan berhenti dulu memakai kartu kredit hingga rasio utang kamu sehat. Setelah rasio utang sehat, barulah kamu kembali fokus mengisi saldo dana darurat hingga angkanya ideal yaitu minimal sebesar 6 kali nilai pengeluaran rutin.

Baca juga: 5 Tips Mempertahankan Rencana Keuangan

#3 Tetapkan target diet

Ketika kamu melakukan diet kesehatan tentu lumrah bila menetapkan target secara kuantitatif. Misalnya, ingin langsing di tahun 2020 dengan cara menurunkan berat badan sebesar 10 kilogram. Semakin spesifik target, semakin besar kemungkinan tercapai. Sama halnya dengan langkah diet finansial. Tetapkan target yang ingin kamu capai dan tulislah secara spesifik.

Sebagai contoh, tahun ini kamu ingin mengurangi beban utang konsumtif, mengejar kecukupan dana darurat hingga ideal, menambah proteksi asuransi, menambah portofolio aset dengan reksa dana juga saham, dan sebagainya.

Dari masing-masing target itu, perincilah lagi dengan langkah konkret yang akan kamu ambil. Misalnya begini, aset investasi yang kamu miliki ternyata masih minim. Selain itu, kebanyakan isi portofolio kamu didominasi oleh produk investasi yang konservatif seperti deposito dan reksa dana pasar uang. Padahal, beberapa tujuan keuangan sulit dicapai bila hanya mengandalkan produk investasi konservatif. Hal yang perlu kamu lakukan adalah menambah portofolio investasi dengan produk yang lebih agresif.

Tentukan langkah konkret untuk mewujudkannya yaitu dengan menambah alokasi penghasilan yang kamu gunakan untuk investasi. Misalnya, dari semula cuma menyisihkan 10% pendapatan, kamu bisa menaikkannya bertahap menjadi 15% lalu 20% hingga 30% dari pendapatan untuk berinvestasi. Sebutkan juga pilihan produknya sesuai tujuan keuangan. Contoh, kamu akan menambah keranjang investasi dengan berinvestasi di reksa dana saham, saham dan sebagian di obligasi negara ritel.

Contoh lain, masalah keuangan yang kamu dapati adalah kecukupan proteksi yang belum ideal. Sejauh ini kamu hanya mengandalkan fasilitas layanan kesehatan dasar dari BPJS Kesehatan untuk proteksi kesehatan. Padahal kamu bertindak juga sebagai pencari nafkah keluarga sehingga seharusnya juga memiliki asuransi jiwa. Kendaraan pribadi yang kamu miliki juga belum diasuransikan. Bila demikian, yang perlu ditempuh adalah memastikan pendapatan kamu memiliki alokasi untuk membeli asuransi jiwa sebagai prioritas utama. Lalu, susulkan untuk melengkapi asuransi kendaraan pribadi.

Bagaimana bila pendapatan tidak memadai untuk alokasi pembelian asuransi? Nah, di situlah pentingnya diet finansial sebagai langkah praktis. Cara diet yang bisa ditempuh adalah menekan pengeluaran tersier atau konsumtif sehingga pendapatan kamu masih bisa dialokasikan untuk membeli asuransi.

#4 Jalankan diet yang realistis

Seringkali seseorang bersemangat melakukan diet dengan memasang target-target yang banyak dan agak kurang realistis. Ujung-ujungnya dietnya gagal. Begitu juga dengan diet finansial. Supaya lebih mungkin dijalani, miliki rencana diet yang realistis yang lebih mungkin kamu jalankan dari hari ke hari.

Contoh, bila biasanya kamu jajan kopi dan camilan hingga Rp100.000 setiap hari, kurangilah menjadi Rp75.000 atau bila memungkinkan jadi Rp50.000 saja setiap hari. Langkah mengurangi perlahan atau bertahap adalah lebih realistis daripada langsung berhenti jajan sama sekali. 

Cara lain diet finansial supaya penghasilan bisa dialokasikan untuk pos lebih penting adalah dengan menyisir pengeluaran entertainment. Misalnya, pengeluaran pos berlangganan tv kabel atau streaming yang sebenarnya jarang juga kamu tonton, pengeluaran keanggotaan gym di mana kamu sering bolos karena mager, atau pengeluaran langganan katering yang sebenarnya bisa kamu ganti dengan memasak sendiri bekal makan siang, dan lain sebagainya.

Baca juga: Produk Keuangan yang Wajib Dimiliki Setelah Menikah

#5 Evaluasi langkah diet untuk keuangan sehat

Langkah terakhir adalah mengevaluasi sejauh mana efektivitas atau keberhasilan diet finansial yang kamu jalankan dalam membantu masalah keuangan. Dari situ kamu bisa melihat apakah masalah keuangan yang membebani kesehatan finansial bisa diselesaikan satu per satu. Bila memang ada cara diet yang kurang efektif, kamu bisa menimbang strategi diet lain yang lebih tepat.

Itulah 6 langkah mudah melakukan diet finansial agar keuangan pribadi senantiasa terjaga kualitas dan kesehatannya. Tidak sulit, bukan? Yuk, jaga keuangan sehat dengan diet finansial!

 

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu