Dividen: Dibagikan Atau Tidak Tergantung pada Hal Ini

285

Mendapatkan dividen atau pembagian keuntungan perusahaan menjadi salah satu daya tarik perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia.  Kebijakan dividen adalah pengambilan keputusan dalam menentukan jumlah laba yang diperoleh perusahaan untuk dibagikan/dibayarkan kepada pemegang saham sebagai dividen dan berapa banyak yang harus ditanam kembali (laba ditahan) sebagai pembiayaan investasi di masa datang.

Baca juga: Yuk Kenali Dividen Investasi Saham

Biasanya usai rilis laporan keuangan kuartal keempat ada pengumuman dari perusahaan terbuka kepada pemegang saham, apakah akan ada pembagian dividen dari laba bersih perusahaan. Namun, tidak setiap tahun ada pembagian dividen, karena ada berbagai pertimbangan yang menentukan kebijakan ini. Apa saja pertimbangannya akan dibahas di artikel ini.

Posisi likuiditas perusahaan

Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk membayar utang jangka pendek dengan menggunakan aktiva lancar. Tentu saja posisi likuiditas perusahaan sangat berpengaruh dalam pengambilan kebijakan dividen. Semakin lancar likuiditas perusahaan, semakin besar juga kemampuan perusahaan untuk membagikan dividen.

Apabila perusahaan membagikan dividen di saat keuangan tidak likuid atau di saat tidak banyak dana tersedia, risiko gagal bayar utang atau default akan sangat tinggi. Kreditor bisa mengajukan pailit jika perusahaan gagal bayar utang.

Menurut Head of Investment Research PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana, dividen tidak hanya berupa uang tunai, namun bisa juga berupa saham bonus. Ini bisa dilakukan jika perusahaan mengalami kesulitan likuiditas. 

Kebutuhan dana untuk membayar utang

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) akan memutuskan berbagai hal, termasuk cara pembayaran utang perusahaan. Apabila RUPS menetapkan bahwa pelunasan utang akan diambil dari laba ditahan, berarti perusahaan harus menahan sebagian besar dari laba bersih perusahaaan untuk keperluan tersebut.

Hal ini akan mengakibatkan hanya sebagian kecil saja dari pendapatan yang dapat dibayarkan sebagai dividen kepada para pemegang saham. 

Wawan Hendrayana menyatakan, secara hukum, utang wajib dibayar. Di sisi lain, berdasarkan peraturan Bursa Efek Indonesia, perusahaan yang membukukan profit wajib membagi dividen minimal 3 tahun sekali. Tetapi dalam peraturan tersebut tidak disebutkan berapa besaran dividen yang harus dibagikan. Artinya emiten boleh tidak membagi dividen dua tahun berturut-turut.  

Posisi utang perusahaan akan mempengaruhi porsi keuntungan yang bisa dibagikan sebagai dividen yaitu bisa berkurang.   

Baca juga: Beda Produk Investasi, Beda Pula Pajaknya

Tingkat ekspansi

Perusahaan sedang gencar melakukan ekspansi usaha dengan membuka cabang baru atau meningkatkan produksi melalui pendirian pabrik atau mesin-mesin baru. Modal untuk ekspansi bisa didapat dari utang ke bank atau menerbitkan surat utang.

Namun karena kebutuhan dana yang besar, perusahaan juga mengkombinasikan penggunaan laba perusahaan untuk membiayai ekspansi ini atau dikenal dengan istilah laba ditahan.

Menurut Wawan, dividen umumnya adalah pembagian dari keuntungan periode sebelumnya. Namun bila perusahaan mau ekspansi dan membutuhkan dana bisa saja dividen dikurangi atau bahkan tidak dibagikan.

“Dividen yang tidak dibagi akan menjadi laba ditahan dan menjadi tambahan modal bagi perusahaan,” ujarnya. 

Menghindari risiko finansial

Ada perusahaan yang menganut kebijakan hanya membiayai ekspansinya dengan dana yang berasal dari sumber internal saja. Pilihannya jatuh pada laba perusahaan yang didapat tiap tahun.

Mereka tidak mau berutang atau menerbitkan saham baru. Jika berutang ke pihak eksternal semisal bank atau menerbitkan obligasi akan meningkatkan risiko finansial. Sementara jika menerbitkan saham baru akan ada pemegang saham baru yang bisa mengurangi dominasi kepemilikan saham pendiri perusahaan.

Wawan menegaskan, ekspansi umumnya membutuhkan banyak pendanaan. Jika keuntungan perusahaan cukup memadai, idealnya ekspansi dibiayai secara internal, karena bila dibiayai melalui utang jelas akan mengurangi dividen pada periode setelahnya. Dalam hal ini pemegang saham harus memikirkan konsekuensi ke depannya akan bagaimana. 

Stabilitas laba

Perusahaan yang berhasil mencetak laba dengan stabil akan memudahkan pengaturan pembayaran dividen kepada pemegang sahamnya. Apabila tahun lalu untung besar hingga 50 miliar rupiah namun tahun ini rugi 30 miliar rupiah, dan kejadian ini berulang kali terjadi, maka akan menyulitkan proses pengambilan keputusan terhadap hal apapun menyangkut masa depan perusahaan.

Baca juga: Yuk Jangan Lupa Financial Check Up!

Ternyata cukup banyak faktor yang menentukan emiten membagikan dividen. Oleh karena itu, bila kamu belum memperoleh dividen dari perusahaan tersebut mungkin kamu harus bersabar hingga 1-2 tahun ke depan. 

 

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu