Simak! Ini Strategi Saat Investasi Reksadana Turun Terus

376
reksadana turun terus

Pasar modal dalam negeri tengah terpuruk terutama akibat hantaman isu virus Corona (Covid-19). Sejumlah instrumen investasi, seperti reksadana turun terus. Dalam situasi sulit, investor harus jeli dalam menetapkan strategi investasinya di reksadana. 

Sebulan terakhir kinerja reksadana terus merosot. Ini bisa terlihat dari kinerja rata-rata reksadana saham yang tercermin dalam Infovesta Equity Fund Index per tanggal 19 Maret 2020 yang minus 26,16% dalam satu bulan terakhir. Demikian juga dengan rata-rata kinerja reksadana campuran atau Infovesta Balance Fund Index yang minus 17,50% dalam sebulan.

Lalu imbal hasil rata-rata reksadana pendapatan tetap atau Infovesta Fixed Income Fund Index mencatat penurunan yang lebih kecil yakni minus 4,85% dalam sebulan. Sedangkan rata-rata reksadana pasar uang atau Infovesta Money Market Fund Index masih mampu mencatat return 0,33% sebulan terakhir.

Kinerja reksadana saham dan reksadana campuran yang anjlok tidak lepas dari penurunan tajam pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat gempuran isu wabah virus Corona Covid-19. Per tanggal 19 Maret 2020, IHSG telah terpangkas 30,75% dalam sebulan. Tak heran jika jenis reksadana saham dan reksadana campuran yang banyak menempatkan dana kelolaan di aset saham ikut terpukul (lihat tabel).

reksadana turun terus

Wawan Hendrayana, Head of Investment Research Infovesta Utama mengatakan, pada dasarnya naik atau turunnya nilai aktiva bersih (NAB) reksadana disebabkan oleh pergerakan harga asetnya. Untuk reksadana saham, misalnya, pergerakan NAB dipegaruhi oleh kinerja emiten dan kondisi makro ekonomi.

Tapi di sisi lain, menurut Wawan, ada sentimen-sentimen lain seperti yang sedang terjadi saat ini yakni virus Corona (Covid-19). “Itu sebenarnya belum langsung berimbas ke pendapatan emiten, tapi ada fear bagi investor. Jadi daripada kenapa-kenapa, investor pilih pegang cash dulu dan menjual aset sehingga harganya turun,” ungkap Wawan.

Apakah harus cut loss?

reksadana turun terus

Jika sudah memiliki reksadana, maka pikirkan terlebih dahulu apakah dana yang disimpan tersebut untuk membiayai kebutuhan mendesak. Apabila pada saat ini dana investasi benar-benar dibutuhkan, maka terpaksa harus dijual meski pasar reksadana turun terus. Bagi pemilik reksadana saham, cut loss atau jual pada posisi rugi kemungkinan tidak bisa dihindari.

Baca juga: Tetap Semangat Investasi Saat Corona, Ini Pilihan Terbaik

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Wawan mengatakan, setiap orang memiliki toleransi untung dan rugi berbeda-beda. Ketika harga saham tertekan, seperti yang terjadi sekarang ini, imbal hasil reksadana saham mungkin minus. Jika investor hanya memiliki reksadana saham dan harus menjualnya untuk kebutuhan mendesak, maka cut loss tidak bisa dihindari.

Namun, jika tidak ada kebutuhan mendesak, Wawan menyarankan untuk menahan diri terlebih dulu untuk tidak menjual produknya. Sebab, secara historis, pasar saham tidak selalu tertekan. Ada kalanya (IHSG) akan kembali bangkit setelah mengalami pelemahan.

Jangka waktu investasi saat reksadana turun terus

Di tengah ketidakpastian ini, bagaimana mengatur investasi reksadana agar hasilnya maksimal?

Berkaca pada kondisi akhir 2019 hingga awal 2020 ini, pasar saham dalam negeri mengalami tekanan seiring dengan anjloknya saham global. Wabah virus Corona yang sudah ditetapkan sebagai pandemik global memicu tingginya ketidakpastian pasar.

Menghadapi hal tersebut, Wawan menyarankan investor untuk kembali pada time frame alias jangka waktu investasi. Investor bisa memilah tujuan investasi, apakah untuk jangka pendek, jangka menengah, atau jangka panjang.

Baca juga: Tiga Blunder Fatal Investor Sukses yang Bisa Kita Pelajari

Investasi jangka pendek bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kurang dari satu tahun. Jangka menengah jika investasi dilakukan dalam jangka waktu satu tahun hingga lima tahun, sedangkan jangka panjang di atas lima tahun.

Diversifikasi investasi

reksadana turun terus

Jika ingin menghindari risiko cut loss, maka diversifikasi menjadi strategi paling mumpuni. Strategi diversifikasi ini juga harus dilakukan berdasarkan time frame masing-masing investor.

Jika jangka waktu investasi jangka panjang, maka investasi lebih besar bisa diletakkan pada produk reksadana saham. Sementara untuk jangka waktu pendek, letakkan lebih banyak investasi pada reksadana pasar uang. Lalu jika jangka waktu menengah, maka instrumen paling besar ada pada reksadana pendapatan tetap.

Misalnya saja untuk kondisi tahun ini. Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) telah memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 0-0,25%. Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) juga menurunkan suku bunga acuan, BI 7-day (reverse) repo rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,5%.

Dengan kondisi ini, maka deposito kurang menarik lantaran penurunan suku bunga acuan bisa menyeret bunga deposito bank. “Saya pikir obligasi akan sangat diuntungkan dengan kondisi seperti ini,” papar Wawan.

Maka, investor bisa menempatkan 50% dana investasinya pada reksadana berbasis obligasi, yakni reksadana pendapatan tetap. Di sisi lain, investor tetap perlu menjaga likuiditas sehingga Wawan menyarankan 30% investasi masuk pada instrumen reksadana pasar uang. Sisanya, yakni 20% bisa dimasukkan pada reksadana saham untuk investasi jangka panjang.

“Tetapi jika tujuan investasi untuk jangka menengah atau jangka pendek, tidak bijak jika saat ini masuk ke reksadana saham. Mungkin bisa menempatkan lebih besar dana ke reksadana pasar uang atau pendapatan tetap,” imbuhnya.

Baca juga: Reksadana Terproteksi: Alternatif Investasi di Masa Pandemi Corona

Strategi diversifikasi sebenarnya bisa juga dilakukan dengan memilih instrument investasi lain di luar reksadana, misalnya obligasi, deposito, emas, hingga saham. Hanya saja, untuk soal kemudahan, baik untuk pembelian maupun penjualan, instrumen reksadana masih lebih unggul.

Memang, ada beberapa kasus gagal bayar pada reksadana, seperti yang terjadi pada PT Narada Aset Manajemen dan PT Minna Padi Aset Manajemen. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah membubarkan enam produk reksadana Minna Padi dan memberikan sanksi suspensi pada penjualan produk Narada.

“Dengan kasus ini, investor harus memahami bagaimana reksadana dijual, yakni tidak boleh memberi jaminan imbal hasil, kecuali memang produk terproteksi,” lanjut Wawan.

Prediksi return reksadana

Tahun ini, Wawan optimistis rata-rata imbal hasil produk reksadana pendapatan tetap akan mencapai 7%-8%. Lalu untuk reksadana pasar uang di kisaran 4%-5%. Sementara untuk saham, ada beberapa skenario.

Ketika belum ada penyebaran virus korona Covid-19, Wawan cukup optimistis rata-rata imbal hasil reksadana saham tahun ini bisa mencapai 9%-10%. Namun nyatanya, Covid-19 membuat kondisi pasar saham reksadana turun terus di seluruh dunia, tak terkecuali IHSG. Dengan skenario pesimis, dia memprediksi IHSG sampai akhir tahun kembali ke 6.300. Dengan demikian, rata-rata imbal hasil reksadana saham bisa sekitar 1%.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu