Muhammad Helmi Rakhman dan Inovasi Bisnis Angkringan

127
helmi rakhman

Menjelang lulus dari jurusan Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada, Helmi dilanda keresahan. Pemuda asal Yogya itu bimbang bila harus merantau meninggalkan kedua orang tuanya untuk mencari pekerjaan. Ayahnya terkena stroke, sedangkan ibunya penyandang tuna netra. Oleh karena itu, bungsu dari empat bersaudara ini kemudian mencari ide usaha kecil-kecilan yang dapat dijalankan sambil tetap merawat kedua orang tua.

Baca juga: Kerajinan Bambu Ala Alain Bunjamin

Kemudian tahun 2011 Helmi mulai berjualan jagung bakar di kawasan Jalan Kusumanegara Yogyakarta. Di samping lapak jagungnya, ada sebuah angkringan. Saat menunggu pesanan jagung bakar, konsumen Helmi banyak yang memesan minuman dan nasi kucing di angkringan tersebut. Lama-lama, Helmi melihat bisnis angkringan bisa mendatangkan keuntungan lebih dibandingkan berjualan jagung bakar. Inilah awal mula Helmi mendirikan Angkring Jogja.

Memberdayakan warga

Kebetulan, Helmi yang mahasiswa berprestasi masih memiliki tabungan Rp11 juta dari beasiswa kuliahnya. Setelah memperoleh izin dari kedua orang tuanya, Helmi menggunakan tabungan tersebut untuk membuat enam gerobak angkringan dan menghabiskan dana Rp10 juta.

Semula Helmi berniat mengoperasikan keenam gerobak angkringan itu, tapi dia kebingungan memperoleh modal tambahan untuk membeli bahan baku menu angkringan. Untungnya ada seorang kenalan Helmi yang menganjurkan dia menjual beberapa gerobak angkringan untuk mendapatkan modal. Helmi pun menjual dua gerobaknya dan memperoleh dana Rp3,5 juta. Uang itu lalu dipakainya membeli bahan baku menu di angkringan.

Dalam menjalankan usahanya, Helmi memberdayakan warga kampungnya di Tahunan, Umbulharjo, Yogyakarta. Ibu-ibu yang pintar memasak diajak bekerja sama menyediakan masakan angkringan, sementara para pemuda dan bapak-bapak yang belum punya pekerjaan dipekerjakan sebagai penjaga angkringannya.

“Tapi yang saya berdayakan hanya kalangan yang mau bekerja. Melihat tidak semua mau, walaupun dia tidak mampu sekalipun. Rata-rata yang tidak mau karena malu,” kata Helmi pada Tribun Jogja.

Kelurahan Tahunan yang diapit beberapa kampus swasta seperti Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa, Universitas Ahmad Dahlan, dan Universitas Teknologi Yogyakarta membuat wilayah tersebut diramaikan kos-kosan serta beberapa asrama mahasiswa. Dengan harga menu yang terjangkau oleh mahasiswa, angkringan Helmi tak pernah sepi pembeli. Menu favorit yang laris dibeli para mahasiswa misalnya nasi kucing dan gorengan.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Sebagai pembeda dari angkringan lainnya, Helmi memanfaatkan ruang kosong pada gerobak untuk dijadikan rak majalah dan buku. Selain itu, setiap akhir pekan para penjaga angkringan memakai surjan, lurik, dan blangkon untuk menunjukkan ciri khas Angkring Jogja.

Baca juga: Cinderamata Sancraft Ala Sanjung Sari

Tiga konsep

Helmi Rakhman

Berkat konsistensi dan kegigihannya, lelaki kelahiran Yogyakarta, 6 Maret 1989 ini pun perlahan-lahan mampu meluaskan lokasi armada angkringannya hingga ke seluruh provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Saat ini armadanya telah mencapai 67 gerobak angkringan dengan omzet lebih dari seratus juta rupiah per bulan. Seiring dengan perkembangan usahanya, Helmi juga melakukan inovasi produk. Dia membuat tiga konsep angkringan yaitu angkringan tradisional, angkringan kontemporer, dan kafe angkringan.

Angkring Jogja tradisional seperti angkringan pada umumnya yang ada di pinggir jalan dan didominasi pembeli bapak-bapak. Angkring Jogja konsep kontemporer desainnya lebih kekinian, meski tetap terbuka di pinggir jalan. Angkring Jogja kontemporer menyasar anak muda yang ingin nongkrong di tempat nyaman, layak selfie, namun memiliki menu makanan terjangkau. Sementara itu, angkringan kafe sama dengan konsep kafe kebanyakan, dengan menyajikan menu-menu angkringan sebagai hidangan utama. Menu dan harga makanan di angkringan kontemporer serta kafe angkringan sedikit berbeda dengan angkringan tradisional, sambil tetap mengusung kekhasan menu-menu angkringan.

Di samping itu, Angkring Jogja juga memiliki berbagai jenis usaha lain seperti penjualan dan penyewaaan gerobak angkringan, franchise angkringan, katering angkringan untuk event, hingga investasi permodalan Angkring Jogja. Masyarakat yang tertarik dengan bisnis angkringan namun tidak punya waktu mengurusi langsung bisa menjadi investor dengan membeli saham Angkring Jogja dan memperoleh keuntungan bulanan atau tahunan.

Inovasi produk

Helmi pun menyadari inovasi produk mutlak dilakukan demi kelangsungan usaha serta perluasan pasar. Hal ini antara lain diterapkannya dengan mengenalkan menu baru yakni sego singo sambel paus yang berarti ‘nasi singa sambal paus’. Menu ini menjadi nama brand pengganti nasi kucing sambal teri yang lazim jadi menu favorit di angkringan pada umumnya.

Selain itu, Helmi juga sedang mengembangkan menu Nasi Kepal dan Nasi Kaleng dalam kemasan. “Biar wisatawan yang pulang ke daerah masing-masing bisa membawa makanan khas angkringan di Yogya,” tutur Helmi seperti dikutip fisipol.ugm.ac.id.

Baca juga: Jadi Mompreneur Sukses? Contek Kiat dari Tanya Larasati

Menengok pencapaiannya, Helmi yang sempat meraih gelar Pemuda Pelopor Jogja 2014 merasakan semua keberhasilannya tidak akan dicapai tanpa restu kedua orang tuanya. “Semua yang saya dapat, semuanya berkat orang tua,” pungkas Helmi seperti dikutip Tribun Jogja.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu