Harga Saham Rontok, Siapkan Dana Darurat untuk Memborong

219

Dana darurat dibutuhkan karena saat ini sentimen utama wabah virus Corona menjadi pemicu kepanikan pasar saham dan menyebabkan pelaku pasar melakukan aksi jual sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun ke bawah level 4000 sebelum kembali naik tipis ke atas 4000.

Baca juga: Reksadana Terproteksi, Alternatif Investasi di Masa Pandemi

Head of Investment Research PT Infovesta Utama, Wawan Hendrayana mengatakan, secara psikologis, kita wajar untuk takut dan waspada akan sesuatu yang belum diketahui. Dalam hal IHSG adalah seperti apa dampak pandemi Covid-19 dan seberapa dalam ekonomi akan terpengaruh.

Saham bagus sangat murah

Saham kapitalisasi besar di indeks LQ45 telah anjlok cukup dalam sehingga price to earning ratio-nya mengecil. Misalnya saja Sri Rejeki Isman (1,81 kali), PTPP (3,7 kali), PT Wijaya karya (4 kali), Adaro (4,23 kali), dan BBNI (4,41 kali). 

“Saat ini semua saham bluechip ataupun second liner sama-sama murah dan ‘salah harga’,” tegas Wawan.

Wawan menjelaskan, menurut data historis saham-saham ini sudah sangat murah, bahkan nilai kapitalisasi saham BBNI sudah lebih kecil dari cash yang dimiliki. Namun menurut pengalaman 2008 ketika mindset investor sedang tertuju pada krisis, fundamental sudah tidak dilihat, mereka fokus pada kebutuhan akan dana darurat tunai.

Analis saham Guntur Tri Haryanto mengatakan, bila melihat pada indikator PER, emiten-emiten tersebut sudah sangat murah paling tidak bila dibandingkan dengan  PER IHSG saat ini yang masih di kisaran 15 kali.

Untuk investor dengan horizon waktu investasi yang panjang, lebih dari 5 tahun, tentu saham-saham bagus dengan harga diskon besar ini sangat sayang untuk tidak dibeli. Karena sekaranglah waktunya membeli.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

“Investor long term bisa memilih emiten yang sudah jelas jejak kinerjanya. Sebenarnya saat ini belum tepat untuk membeli  kecuali untuk jangka waktu hingga 10 tahun,” imbuh Wawan.

Baca juga: Investasi Terbaik Saat Corona

Lebih lanjut Guntur mengutarakan, sebagian besar investor masih menunggu kapan wabah ini berlalu sebelum kembali ke pasar. 

“Kondisi terburuk penyebaran wabah apakah sudah dilalui atau belum, masih menjadi pertanyaan, meskipun di Cina sudah terjadi perbaikan,” urainya.

Untuk mengatasi kehilangan opportunity cost, investor dapat melakukan aksi beli bertahap atau averaging saham-saham dengan fundamental bagus yang harganya turun karena lebih disebabkan oleh sentimen pasar saat ini.

“Sebenarnya di setiap situasi selalu ada peluang investasi, hanya pemilihan saham yang tepat menjadi tantangan karena membutuhkan riset yang cukup mendalam. Bahkan investor besar pun bisa salah dalam memilih saham,” ungkapnya.

Hindari bank, dekati consumer goods

dana darurat

Lebih jauh Wawan mengungkapkan saham bank diperkirakan akan tertekan pertumbuhan labanya terkait ekonomi melambat.

Hal serupa diungkapkan Guntur  yang menyebut industri perbankan akan terpukul secara signifikan bila terjadi perlambatan pertumbuhan, terutama akibat naiknya non performing loan (NPL) perbankan atau bertambahnya kredit macet. Nasabah bank mengalami kesulitan pembayaran kewajiban bunga dan pokok utang karena mengalami penurunan pendapatan.

Di sisi lain, penyaluran kredit perbankan juga semakin sulit karena kondisi ekonomi yang melemah, sehingga pertumbuhan perbankan dari sisi pendapatan juga jadi melambat.

Untuk sektor consumer goods, Wawan menyebutkan penjualan tahun ini tidak akan sebanyak tahun sebelumnya, walau demikian consumer goods dipandang lebih defensif dari sektor lainnya. 

Dana darurat idle

Selain menambah portofolio di saham, Wawan menyarankan agar investor menyiapkan dana darudat tunai di masa perlambatan ekonomi ini.

Cash juga diperlukan karena kita belum tahu seberapa lama kegiatan ekonomi akan sangat lambat,” imbuhnya.

Senada dengan Wawan, Guntur mengatakan bagi investor yang ingin mengambil posisi memperoleh keuntungan dari kondisi penurunan harga saham seperti saat ini tentunya perlu menggunakan dana idle atau dana di luar kebutuhan sehari-hari karena sangat sulit untuk memprediksi kapan kenaikan harga saham akan terjadi.

Optimis membaik di akhir tahun

dana darurat

Guntur optimistis situasi di akhir tahun akan membaik dengan melihat dan mempertimbangkan langkah-langkah yang telah diambil oleh pemerintah Indonesia maupun pemerintah negara lain. 

Penanganan virus di Cina berangsur sudah terkendali, bahkan kegiatan ekonomi di pusat penyebaran di kota Wuhan sudah mulai terjadi. Di Korea pengendalian penyebaran virus sudah membuahkan hasil yang baik. Ditambah adanya program stimulus dari Pemerintah AS sebesar US$2 triliun yang ditujukan bagi bisnis dan rumah tangga yang terdampak wabah virus Corona.

“IHSG menurut saya, tidak akan ditutup di bawah 4.000 hingga akhir tahun,” tegasnya.

Baca juga: Cara Jitu Atur Keuangan Saat Rupiah Turun

Keberhasilan beberapa negara menanggulangi wabah saat ini dapat menjadi pelajaran negara lain seperti Indonesia, dan pengetahuan masyarakat akan penyebaran virus juga semakin baik. Ekonomi Indonesia sendiri diprediksi masih bisa tumbuh di atas 4,0% dan diharapkan dapat menjaga perkembangan harga saham emiten-emiten.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu