Langkah Bijak Atur Investasi Saat Pandemi

157
investasi saat pandemi

Wabah virus corona telah membuat pasar saham anjlok ditandai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun ke level 4000 dari level 6000. Apa yang harus dilakukan untuk investasi saat pandemi, apakah memindahkan dana di pasar saham ke aset lebih aman atau membeli safe haven seperti emas, deposito, serta dolar AS?

Baca juga: Jebakan Boros Saat Work From Home

 Jangan panik

Ayyi Achmad Hidayah, Founder dan CEO Ranesia Investment mengatakan, selama kita yakin telah melakukan segala sesuatunya dengan benar, tidak ada alasan untuk panik. Namun kewaspadaan tetap harus dijaga semaksimal mungkin. Segera lakukan financial check up untuk mengetahui kondisi keuangan kamu, cari tahu apa saja yang perlu diperbaiki. Pastikan kebutuhan likuiditas kamu tercukupi, dan lakukan investasi sesuai toleransi risiko serta kemampuan keuangan yang dimiliki.

Tidak mengubah tujuan investasi saat pandemi

investasi saat pandemi

Jika kamu memiliki tujuan investasi jangka panjang, jangan lepas saham yang kamu miliki walaupun harga saham saat ini sangat anjlok. Berinvestasi di saham harus memiliki horizon investasi jangka panjang, lebih dari 5 tahun karena fluktuasi harga yang tinggi. Jika kamu telah memegang posisi (memiliki saham) selama itu merupakan saham bluechip sebaiknya ditahan (hold) saja. Kalau kamu masih memiliki ‘amunisi’ atau uang tunai cukup, lakukan averaging down (menambah kepemilikan secara bertahap) agar ketika IHSG telah berbalik arah menguat, keuntungan yang kamu dapat akan berlipat. 

Namun jika kamu belum memegang posisi, saat ini adalah saat yang tepat untuk masuk ke saham-saham unggulan yang telah mengalami koreksi antara 10% hingga 70%. Tiga saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI dan BMRI misalnya, masing-masing mengalami penurunan 18%, 33,4% dan 33,9% antara 28 Desember 2019 – 1 April 2020. Kondisi seperti ini tentunya merupakan diskon yang jarang terjadi. Jika tidak dimanfaatkan dengan baik, sangat disayangkan sekali.

Bagaimana kalau nanti turun lebih dalam? Oleh karena itu masuklah secara bertahap, karena kita tidak akan pernah tahu seberapa dalam mereka akan turun. Setidaknya dengan prinsip dollar cost averaging kita bisa mendapatkan harga yang lebih baik. Jika pun turun lebih dalam lagi kita tidak perlu terlalu khawatir. 

Baca juga: Strategi Atur Keuangan Saat Rupiah Turun

“Saya percaya kondisi perekonomian Indonesia masih cukup baik ke depannya. Penurunan ini lebih karena sentimen mewabahnya virus Covid-19 yang melanda seluruh dunia, dan menyerang sendi-sendi kehidupan termasuk sektor keuangan. Jika sudah pulih, tentu trennya akan membaik, dan saham-saham bluechip ini yang akan berbalik arah pertama kali. Maka dari itu pemilihan saham menjadi sangat penting,” demikian Ayyi memberi kiat. 

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Jaga likuiditas

Dalam kondisi darurat seperti ini kita juga harus menjaga likuiditas, karena kebutuhan akan dana tunai menjadi lebih besar dari biasanya. Idealnya kamu menyisihkan minimal 10% dari penghasilan untuk investasi, dan saham menjadi salah satu instrumen yang menarik secara jangka menengah dan panjang. Jika kamu memiliki kelonggaran likuiditas, maksimal 30% dana dari pendapatan bisa kamu tempatkan di investasi saat pandemi. 

Lakukan diversifikasi

Karena aset berisiko seperti saham sedang tidak baik kinerjanya, ada baiknya kita melakukan  diversifikasi aset untuk mengelola risiko. Kamu bisa menempatkan sebagian dana (50%) yang dimiliki ke instrumen reksa dana pasar uang atau pendapatan tetap, juga deposito demi menjaga likuiditas keuanganmu secara jangka pendek. Sebab, di saat kondisi darurat dan krisis kita akan memerlukan banyak dana tunai untuk berjaga-jaga.

Cairkan sebagian aset

investasi saat pandemi

Jika kamu mengalami kesulitan likuiditas, tidak ada salahnya mencairkan sebagian aset investasi yang dimiliki. Mana yang harus dicairkan, pertama adalah yang sudah membukukan keuntungan. Karena jika masih rugi tentu akan sangat disayangkan. Dengan catatan, saham yang merugi namun tetap layak dipertahankan adalah saham dengan fundamental bagus. Jika saham yang kinerjanya jelek memang tidak baik fundamentalnya, sebaiknya dijual saja untuk meminimalkan kerugian.

Kedua, jika posisinya tidak ada yang menunjukkan untung, maka cairkan terlebih dahulu yang memiliki potensi kerugian paling kecil. Ketiga, cari aset investasi yang paling likuid untuk dicairkan. Selain lebih cepat mendapatkan dana, umumnya aset setara kas seperti deposito dan reksa dana pasar uang lebih minim risiko, sehingga potensi kerugian yang kamu alami juga akan semakin kecil. Keempat, jika tidak ada pilihan lain maka kamu bisa mencairkan aset berisiko tinggi. Kelima, cairkan sesuai dengan kebutuhan dana sehingga kamu tidak menjadi konsumtif.

Baca juga: Alternatif Investasi di Masa Pandemi

Dengan langkah-langkah di atas, kamu tetap dapat investasi saat pandemi ini.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu