TaniHub: Dari Distribusi Hingga Permodalan untuk Petani

203
tanihub

Berangkat dari keprihatinan atas nasib petani, empat orang pemuda memutuskan membuat marketplace untuk memasarkan hasil pertanian. 

Pertengahan Agustus 2015, sebuah foto viral di Facebook. Foto itu memperlihatkan banyak tomat berserakan dibuang di selokan pinggir jalan raya Cikajang, Garut, Jawa Barat. Ternyata yang membuang adalah petani tomat yang kesal hasil panennya hanya dihargai Rp200 per kilogram, tetapi di pasar harga tomat bisa mencapai Rp4.500 per kilogram. 

Hal itu menjadi perhatian Michael Jovan Sugianto, William Setiawan, Miftahul Choiri, Ivan Arie, Sustiawan, dan Pamitra Wineka, para pendiri TaniHub, aplikasi e-commerce untuk produk pertanian.

Baca juga: Inovasi Bisnis Angkringan Ala Muhammad Helmi Rakhman

Mereka melihat dua penyebab harga tomat anjlok. Pertama, tidak ada manajemen usaha tani sehingga petani menanam dan panen tomat di waktu bersamaan sehingga suplai melimpah.

Kedua, persoalan rantai distribusi produk pertanian yang panjang, yang melibatkan tengkulak. Jovan menyebutkan hasil panen petani harus melewati 6-7 lapis distribusi sebelum sampai ke konsumen atau end user.

Mereka kemudian  berinisiatif mendirikan TaniHub, sebuah startup e-commerce yang membantu petani menjual produknya secara langsung  ke konsumen individu maupun konsumen korporasi, sehingga melepaskan mereka dari tengkulak. 

Sebagai daya tarik agar petani lepas dari tengkulak, TaniHub bersedia membeli hasil panen petani dengan harga 10% lebih tinggi dari harga yang ditawarkan tengkulak. Syarat bergabung dengan TaniHub sangat mudah karena semua petani yang punya produk tinggal mendaftar melalui aplikasi TaniHub Vendor. Sementara  konsumen bisa memesan lewat aplikasi TaniHub. Produk yang bisa dipesan beragam, mulai dari beras, sayuran, buah, daging, hingga telur.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

“Kami tidak ada batasan skala usahanya harus minimal berapa. Semuanya boleh bergabung dengan kami, syarat utamanya mereka mampu memenuhi standar kualitas dan kontinuitas,” jelas Jovan, dikutip dari swa.co.id. 

Syarat kualitas juga tidak susah, karena TaniHub mengharuskan panen di umur yang tepat dan menjaga penampilan produk agar tetap bersih dan menarik. Kedua, petani harus siap menjaga stok ketersediaannya agar terus ada. TaniHub melibatkan ahli dari IPB, yang menangani soal standar kualitas mulai dari hulu hingga pascapanen.

Dampak sosial

tanihub

Pada tahun 2020 ini TaniHub berhasil merangkul 30.000 petani di Tanah Air untuk bergabung, dari awalnya hanya 24 petani di 2016. Dampak sosial yang diciptakan untuk para petani sangat signifikan. 

Baca juga: Menyejahterakan Pengerajin Bambu Ala Alain Bunjamin

Produksi petani naik 30%, pendapatan petani rata-rata melonjak sekitar 50%. Sementara varian produk yang dikelola TaniHub sudah mencapai 500 SKU (stock keeping unit). Sedangkan jumlah karyawan sekitar 100 orang.

Terus berkembang

tanihub

Sejak berdiri empat tahun lalu, TaniHub berkembang menjadi grup usaha TaniHub Group dan membawahi TaniHub (platform e-commerce), TaniFund (p2p lending), dan TaniSupply (supply chain). Ketiganya bergerak di bidang yang berbeda dengan regulator yang berbeda pula, namun dengan satu visi mempercepat dampak positif dalam pertanian.

TaniSupply berdiri di bawah payung kementerian yang berbeda dengan TaniFund (OJK) dan TaniHub (Kemenkominfo). TaniFund sebagai penyalur kredit untuk para petani karena petani sangat membutuhkan modal.

Tengkulak yang tersingkir dengan adanya TaniHub juga dirangkul Jovan. Para tengkulak bisa menjadi investor di TaniFund dan  tidak akan putus hubungan dengan petani, fokus mereka nantinya hanya untuk soal permodalan untuk petani.

TaniSupply fokus pada penguatan rantai distribusi. TaniSupply mengurusi pembelian dari petani untuk kemudian disimpan di gudang milik TaniHub. Di gudang akan ada proses grading, quality control, packing hingga delivery ke konsumen.

Saat ini gudang perusahaan diinstalasi dengan pendingin berstandar khusus untuk menjaga produk agar tidak mengalami penurunan kualitas. Gudang juga bisa dipakai, dalam artian sewa, oleh pihak lain untuk menyimpan produk makanan untuk jangka waktu tertentu.

Mereka juga berencana akan menambah gudang di Balikpapan (Kalimantan) dan Sulawesi. Penyebaran lokasi gudang TaniSupply akan difokuskan ke luar Pulau Jawa guna memperkuat ekosistem pertanian agar semakin terintegrasi di Grup TaniHub.

Baca juga: Sanjung Sari: Menyebarluaskan Indonesia lewat Sancraft

Berbagai pengembangan yang dilakukan TaniHub ini mencerminkan keseriusan mereka mewujudkan visi meningkatkan kesejahteraan petani. Karena bagaimanapun juga, kesejahteraan petani hanya akan dapat tercapai dengan perubahan di berbagai sisi.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu