Hati-hati! Jangan Asal Beli Saham Murah di Pasar Saham

164
beli saham murah

Efek pandemi Corona COVID-19 menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Selama tiga bulan terakhir, IHSG terus melorot hingga sempat mencapai 3.937,63 atau level terendah sejak 2013 . Harga saham-saham berjatuhan. Saat itulah muncul peluang beli saham murah atau biasa disebut dengan strategi catching the falling knife atau menangkap pisau jatuh di pasar saham.

Keyakinan pelaku pasar

beli saham murah

Strategi menangkap pisau jatuh berangkat dari adanya keyakinan investor bahwa pasar yang sudah jatuh pasti akan berbalik arah lagi atau rebound menuju puncak tertingginya. Hal tersebut didukung dengan data historis di pasar modal pasca terjadi krisis ekonomi. Koreksi harga saham yang sangat cepat biasanya juga diikuti dengan rebound yang cepat juga.

“Pelaku pasar saat melihat grafik pasar saham yang turun meyakini pasar pasti akan naik kembali. Siklus itu diyakini akan kembali terjadi,” kata pengamat pasar modal Marolop Alfred Nainggolan.

Dia mencontohkan, krisis ekonomi global tahun 2008 telah menyebabkan IHSG jatuh hingga ke level 1.146,28 pada 16 Oktober 2008.  Padahal di bulan Januari tahun yang sama, IHSG baru saja menyentuh level puncak tertinggi kala itu di level 2.830,26. Setelah jatuh di Oktober 2008, IHSG terbukti mampu bangkit lagi hingga kembali menyentuh puncak tertinggi yang pernah dicapai pada Februari 2010.

Baca juga: Harga Saham Rontok, Siapkan Dana Darurat untuk Memborong

“Setelah turun, pelaku pasar yakin pasar pasti akan mengalami perbaikan dan menyentuh level tertingginya lagi tinggal bagaimana mencari saham yang kalau pasar naik, dia bisa naik cepat dan bisa naik lebih tinggi,” kata Marolop.

Fokus kurangi risiko

beli saham murah

Dengan keyakinan bahwa pasar modal akan bangkit lagi, keberadaan saham-saham murah akan sangat menarik untuk dibeli. Namun Marolop mengingatkan, strategi menangkap pisau jatuh sejatinya berbicara soal probabilitas di pasar saham.

Artinya dengan analisis dan perhitungan yang dilakukan, ada kemungkinan harga saham yang dibeli akan naik kembali tapi bisa juga sebaliknya harga saham turun semakin dalam. Jika skenario terburuk yang terjadi, maka investor akan merugi.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Pada dasarnya, Marolop mengatakan tidak ada garansi bahwa jurus atau strategi menangkap pisau jatuh yang diterapkan akan tepat dan benar sehingga bisa menghasilkan return yang besar. Untuk itu, fokus utama yang harus dilakukan dari strategi ini adalah mengurangi risiko jika skenario yang diharapkan tidak terjadi.

“Strategi menangkap pisau jatuh itu bagaimana kita beli saham murah yang risikonya paling kecil jika nanti terjadi kesalahan,” tutur Marolop.

Strategi beli saham murah

Untuk memanfaatkan peluang dari pasar saham yang sudah turun sangat dalam, investor harus sangat cermat dalam memilih saham-saham yang akan dibeli. Berikut ini strategi dalam memilih saham-saham yang harganya sedang jatuh.  

1. Likuiditas jadi pertimbangan utama

Hal pertama yang harus diperhatikan oleh investor saat memilih saham-saham di pasar yang sedang bergejolak adalah likuiditas. Pastikan bahwa saham-saham tersebut memiliki likuiditas yang bagus atau ramai diperdagangkan di pasar saham.

“Dalam kondisi pasar yang mengalami turbulensi dengan tingkat volatilitas yang tinggi, likuiditas sangat penting sehingga memudahkan kita untuk bermanuver,” jelas Marolop.

Strategi menangkap pisau jatuh dalam jangka pendek membutuhkan tindakan yang harus cepat dilakukan jika pergerakan harga saham dibeli tidak sesuai harapan. Untuk itu, pemilihan saham yang likuid menjadi sangat penting.

2. Pilih saham dengan fundamental bagus

Tidak hanya likuiditas, saham-saham yang akan dibeli juga harus memiliki fundamental yang bagus. Pastikan bahwa emiten saham tersebut mampu menyajikan laporan keuangan yang bagus dari sisi pendapatan dan laba bersih. 

Baca juga: Langkah Bijak Atur Investasi Saat Pandemi

Dalam situasi krisis ekonomi, Marolop mengatakan, kinerja emiten mungkin tidak mampu tumbuh, tapi setidaknya pilih emiten yang kinerjanya tidak jatuh terlalu dalam.  “Bukan berarti likuiditas bagus, fundamental jelek tidak masalah. Likuiditas dan fundamental harus jadi satu paket,” kata Marolop.

Pandemi yang terjadi saat ini telah menghambat pertumbuhan ekonomi. Alhasil, hampir semua sektor saham terkena dampaknya. Tapi Marolop melihat ada sektor-sektor saham yang masih berpeluang tumbuh yakni telekomunikasi, farmasi, dan barang konsumsi.

3. Spread valuasi saham 

Untuk mendapatkan saham yang potensial, kita harus melakukan valuasi saham untuk mengetahui harga wajar saham tersebut. Jika harga wajarnya sudah diketahui, maka kita bisa menentukan harga saham saat ini masuk dalam kategori murah atau mahal.

Ada banyak metode yang biasa dilakukan oleh investor untuk melakukan valuasi saham. Salah satunya yang paling sering digunakan adalah Price to Earning Ratio (PER) atau perbandingan antara harga saham dengan laba bersih per saham atau Earning Per Share (EPS).

Marolop menyarankan, agar investor memilih saham yang memiliki spread valuasi atau selisih antara harga saat ini dan harga wajar yang cukup besar. “Jika ada beberapa emiten punya fundamental cukup bagus, lihat mana yang memiliki spread valuasinya cukup besar. Itu yang akan menentukan pilihan kita,” jelas Marolop.

4. Sentimen penopang persepsi

Jika ada saham yang memiliki sentimen yang kuat, hal tersebut bisa menjadi pendukung rebound harga saham tersebut. Namun Marolop mengakui, sulit untuk menemukan sentimen positif di tengah kondisi ekonomi yang sedang krisis.

Baca juga: Tetap Semangat Investasi Saat Corona, Ini Pilihan Terbaik

Salah satu contoh sentimen positif yang bisa mendukung harga saham adalah emiten tersebut mempunyai komponen obat COVID-19. Dengan demikian, pelaku pasar akan memiliki persepsi bahwa kinerja emiten tersebut tidak akan tertekan oleh pandemi, tapi sebaliknya berpotensi untuk tumbuh.

5. Siap cut loss dan bermanuver

Strategi menangkap pisau jatuh memiliki risiko yang tinggi. Jika berhasil memilih saham yang tepat pada momentum yang tepat, harga saham akan rebound dan melejit sehingga bisa memberikan keuntungan yang besar. Sebaliknya, jika salah pilih saham dan momentumnya tidak tepat, harga saham yang dibeli akan turun semakin dalam dan menimbulkan kerugian yang besar pula. 

Dalam kondisi pasar dengan volatilitas yang tinggi, Marolop mengatakan manuver menjadi sebuah keharusan. Jadi investor tidak harus memegang terus saham yang dibeli. Jika ternyata pergerakannya lambat atau bahkan terus menurun, investor harus cepat cut loss atau memotong kerugian dan beralih ke saham lain yang lebih potensial. 

Namun untuk melakukan manuver seperti itu dibutuhkan investor aktif yang  memiliki pemahaman fundamental dan teknikal cukup kuat. Jika pun manuvernya salah, ketika saham yang dipilih memiliki fundamental dan likuiditas yang bagus, maka risikonya jauh lebih kecil.

Potensi rebound pasca pandemi

Setelah jatuh hingga ke level 3.937,63 pada 24 Maret 2020, IHSG sempat bangkit ke 4.811,83. Namun pada 24 April 2020, IHSG kembali tergerus ke 4.496,06. Dengan demikian, posisi IHSG saat ini masih jauh dari puncak tertinggi yang pernah dicapai di 6.660,62 yang dicapai pada 26 Januari 2018. Jika mengacu pada siklus pasar, rebound pasar saham domestik masih akan terjadi. 

Jika ingin mendapatkan cuan dari rebound pasar saham, kamu bisa menerapkan strategi beli saham murah seperti yang telah diulas di atas. Semoga investasi sahamnya terus untung!

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu