Cara Menghitung Keuntungan Bunga Deposito

208
deposito

Deposito biasanya dikaitkan dengan bunga. Besaran bunga merupakan daya tarik agar orang mau menyimpan dananya di salah satu produk perbankan ini. Nasabah yang menyimpan dananya dalam bentuk ini dijanjikan suku bunga tetap dengan jangka waktu tertentu oleh bank yang menerbitkannya. Sementara itu, dalam jangka waktu tertentu pemilik sepakat untuk tidak menarik atau mengakses uangnya yang ditabungkan.

Jangka waktu atau tenor penyimpanan yang ditawarkan oleh bank bervariasi, mulai dari 1, 3, 6, 12, atau 24 bulan dengan suku bunga kompetitif yang ditawarkan masing-masing bank kepada nasabahnya.

Baca juga: Langkah Tepat Memilih Deposito yang Menguntungkan

Karena jangka waktu dan suku bunga yang tetap, nasabah bisa dengan mudah menghitung jumlah bunga yang akan diterima pada akhir periode investasi. Oleh karena itu, nasabah perlu mengetahui cara menghitung bunga deposito dengan benar.

Peraturan umum

Biasanya minimal dana yang bisa ditempatkan adalah sebesar Rp8-10 juta, Namun karena kebijakan di setiap bank berbeda-beda, maka ada juga bank yang menetapkan setoran minimal hanya Rp1 juta.

Tenor yang ditawarkan untuk penyimpanan di setiap perbankan hampir sama, mulai dari 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan sampai 24 bulan. Semakin lama jangka waktu simpanan, maka bunga yang diberikan relatif lebih tinggi secara proporsional.

Banyak yang menganggap jenis investasi ini memiliki risiko paling rendah karena bunganya tetap dan dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Namun LPS mensyaratkan jumlah uang maksimum yang disimpan dalam tabungan dan deposito suatu bank tidak melebihi batas jaminan LPS yaitu Rp2 miliar dan bunga deposito tidak boleh melebihi suku bunga penjaminan dari LPS. Jika ada bank yang menawarkan bunga di atas bunga penjaminan maka patut dicurigai dana nasabah tidak dilindungi LPS.

Jenis-jenis deposito

  • Berjangka, bentuk yang umum dikenal masyarakat, adalah jenis tabungan berjangka yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu. Deposito berjangka bisa diterbitkan┬ádengan nama perorangan maupun lembaga. Uang yang disimpan hanya bisa diambil ketika jatuh tempo oleh pihak yang tertera pada bilyetnya.
  • Sertifikat Deposito, diterbitkan dalam bentuk sertifikat. Sertifikat tersebut tidak mengacu pada nama seseorang atau lembaga tertentu sehingga dapat dipindahtangankan dan sangat mungkin untuk diperjualbelikan.
  • On Call, yaitu tabungan berjangka dengan waktu penyimpanan yang relatif singkat, minimal 7 hari dan paling lama hanya kurang dari 1 bulan. Deposito ini dikhususkan untuk penyimpanan dana dalam jumlah yang besar.

Cara menghitung bunga

Sesuai Peraturan Pemerintah (PP) nomor 131 Tahun 2000 deposito merupakan objek pajak, sehingga bunga yang akan kamu terima terlebih dahulu dipotong pajak. Hal ini dikarenakan bunga dianggap sebagai penghasilan sehingga pajak yang dikenakan adalah Pajak Penghasilan (PPh). Pajak sebesar 20% ini dikenakan pada jenis investasi ini yang nilainya lebih dari atau sama dengan Rp7.500.000. Untuk tabungan yang kurang dari Rp7.500.000 tidak dikenakan pajak. Pajak tersebut akan mengurangi nilai suku bunga yang didapatkan oleh nasabah.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Karena Bank Indonesia rajin menurunkan bunga acuan di tahun lalu dan dua kali di tahun 2020 maka bunga pun semakin rendah.

Untuk mengetahui berapa bunga yang didapat nasabah, berikut ini ada sebuah contoh bank swasta yang memberi bunga 5,6% untuk tenor 1 bulan; 5,8% untuk tenor 3 bulan; serta 6,3% untuk tenor 6 bulan dan 1 tahun.

Nasabah A menyimpan dana di deposito sebesar Rp5 juta dan nasabah B sebesar Rp10 juta dengan tenor simpanan selama 3 bulan dengan suku bunga 5,8% per tahun.

Maka bunga yang didapat nasabah A, karena nilai di bawah Rp7,5 juta, menggunakan rumus Bunga Deposito = jumlah uang simpanan x bunga per tahun x tenor : 12.

Sementara rumus untuk simpanan dengan dana sama dengan atau lebih dari Rp7,5 juta, maka rumusnya Bunga = jumlah uang simpanan x bunga per tahun x 80% x tenor : 12. Angka 80% didapat karena adanya potongan pajak 20% untuk simpanan di atas Rp7,5 juta.

Apabila bunga yang ditetapkan sebesar 5,8% per tahun, maka secara riil harus dikurangi 20% untuk potongan pajak. Sehingga bunga riil yang diterima untuk dana lebih dari Rp7,5 juta adalah sebesar 4,64% per tahun.

Maka nasabah A akan mendapatkan pendapatan dari bunga sebagai berikut:

Rp5 juta x 5,8 % x 3 : 12 = Rp72.500

Sementara nasabah B mendapatkan penghasilan bunga sebesar:

Rp10 juta x 4,64% x 3 : 12 = Rp116.000

Jika nasabah A dan B ingin mengetahui bunga berdasarkan bunga harian yang diterima mereka maka rumus yang digunakan hampir sama dengan rumus bunga deposito dalam tenor bulanan. Bedanya, jumlah simpanan dikalikan 90 hari dan angka pembaginya adalah jumlah hari dalam setahun yakni 365 hari. Kita lihat rumusnya sebagai berikut:

Bunga deposito = jumlah uang simpanan x bunga per tahun x jumlah hari : 365

Sementara untuk simpanan lebih dari atau sama dengan Rp7,5 juta (masa tenor dalam hari) adalah bunga = jumlah uang simpanan x bunga per tahun x 80% x jumlah hari : 365

Jumlah hari dalam 1 bulan kita asumsikan sama dengan 30 hari dan 1 tahun sama dengan 365 hari, maka penghitungannya adalah:

Penghitungan bunga deposito nasabah A:

Pendapatan bunga = Rp5 juta x 5,8% x 90 : 365 = Rp71.506,75

Penghitungan bunga deposito nasabah B:

Pendapatan bunga = Rp10 juta x 4,64% x 90 : 365 = Rp114.110

Baca juga: Kenali Deposito Valas, Investasi Aman Saat Rupiah Goyang

Frekuensi pembayaran bunga

Secara umum, bunga akan dibayarkan pada saat jatuh tempo atau di akhir jangka waktu yang disepakati untuk deposito berjangka pendek, sementara untuk yang berjangka panjang, bunga dibayarkan setiap tahun. Beberapa pilihan pembayaran bunga antara lain:

  • Pembayaran tahunan, dengan bunga dibayarkan tiap akhir tahun
  • Pembayaran per semester, dengan bunga dibayarkan tiap 6 bulan
  • Pembayaran per kuartal, dengan bunga dibayarkan tiap 4 bulan
  • Pembayaran bulanan, dengan bunga dibayarkan tiap akhir bulan
  • Pembayaran dwi mingguan, dengan bunga dibayarkan tiap 2 minggu
  • Pembayaran mingguan, dengan bunga dibayarkan tiap akhir minggu
  • Pembayaran jatuh tempo, dengan bunga dibayarkan saat deposit jatuh tempo.

Baca juga: Langkah Bijak Atur Investasi Saat Pandemi

Dengan penjelasan di atas, semoga menjadi informasi bermanfaat bagi kamu dalam menentukan langkah investasi, khususnya mengenai produk deposito. Selamat mencoba!

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu