Mengepit Untung dari Penurunan Outlook Surat Utang Negara

160
surat utang negara

Akhir April lalu lembaga pemeringkat utang global Standard & Poor (S&P) mempertahankan peringkat utang Indonesia di BBB, tetapi menurunkan outlook-nya menjadi negatif dari sebelumnya, stabil.

Baca juga: Jenis Surat Utang Negara yang Wajib Kamu Tau

Outlook negatif diberikan karena adanya indikator memburuknya keuangan negara yaitu defisit yang membesar akibat besarnya belanja pemerintah dalam menangani wabah Covid-19. Sementara itu, pendapatan negara menurun karena pendapatan pajak akan menurun akibat aktivitas ekonomi yang tersendat karena tutupnya banyak usaha selama pandemi.

Namun, penurunan outlook ini tidak serta merta membuat prospek investasi surat berharga negara (SBN) Indonesia jadi terpuruk.

Budi Hikmat, Chief Investment Strategist & Direktur PT Bahana TCW Investment Management mengatakan ekonomi di seluruh negara di dunia juga sedang terpuruk, tidak hanya Indonesia. Meski begitu di tengah keterpurukan ekonomi global, S&P masih mempertahankan rating Indonesia tetap ‘BBB’ dalam jangka panjang dan jangka pendek di ‘A-2’.

Menurut S&P, peringkat ini mencerminkan pengaturan kelembagaan negara yang stabil, prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat, dan pengaturan kebijakan fiskal yang bijaksana secara historis.

surat utang negara

Data Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menunjukkan, investor asing telah mencatat jual bersih sepanjang tahun berjalan (year to date) hingga 28 April 2020 dengan nilai outflow mencapai Rp139,58 triliun.

Kepemilikan asing telah menurun 7,7 persen dalam setahun terakhir, menjadi 30,6 persen dari outstanding SBN.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Di pasar obligasi negara, investor juga telah melepas kepemilikan SBN dengan tenor yang lebih pendek untuk mengurangi risiko. Akibatnya, yield (imbal hasil) surat utang negara (SUN) terpantau naik 55,8 bps secara YTD. Sebagai informasi, yield berbanding terbalik dengan harga obligasi di pasar, sehingga peningkatan yield mengindikasikan harga turun akibat berkurangnya permintaan.

“Investasi SBN justru menarik di tengah pandemi karena memiliki risiko yang kecil, terlebih lagi pokok dan bunga (kupon) sudah dijamin oleh negara,” ujar Budi.

Baca juga: Ini Penyebab Investor Asing Koleksi Surat Utang Negara

Budi mengutarakan investor diuntungkan karena jika membeli sekarang maka investor sudah membeli SBN di harga murah, sehingga ketika investor asing akan kembali ke pasar obligasi, harga akan meningkat.

Selain itu investor yang membeli SBN sekarang akan menikmati yield atau imbal hasil yang lumayan tinggi, lebih besar daripada yang ditawarkan oleh deposito perbankan. Sebagai contoh, FR0081 tenor 5 tahun saat ini memberikan yield 7,41%, demikian juga Sukuk Ritel 012 (SR012) yang diterbitkan Maret lalu menawarkan kupon 6,3% per tahun yang dibayarkan secara bulanan. Sementara itu, deposito perbankan memberikan bunga 4%-5%.

Pandemic bond

surat utang negara

Pada tanggal 6 April 2020, Pemerintah Republik Indonesia telah sukses melakukan transaksi penjualan tiga seri Surat Utang Negara dalam denominasi US Dollar (USD Bonds) dengan total nominal sebesar USD4,3 miliar yang terdiri dari masing-masing USD1,65 miliar untuk tenor 10,5 tahun; USD1,65 miliar untuk tenor 30,5 tahun; dan USD1 miliar untuk tenor 50 tahun. Hal ini disampaikan oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani dalam media briefing yang dilakukan (07/04/2020) melalui video conference.

Budi menyambut baik penerbitan pandemic bond ini, di mana dana hasil penerbitannya akan digunakan pemerintah untuk mengatasi dampak pandemi Covid-19. Menurutnya, penerbitan surat utang yang sering dipersepsikan sebagai hal negatif ini justru bisa digunakan oleh masyarakat sebagai sarana investasi.

Baca juga: Reksadana Di Tengah Ketidak Pastian Pasar

Dengan berinvestasi di SBN maka masyarakat bisa membantu pemerintah dalam mengatasi wabah pandemi ini sehingga bisa cepat berakhir.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu