Strategi Cut Loss Saham untuk Menghindari Kerugian Lebih Besar

278

Saham menjadi salah satu instrumen investasi yang dapat memberikan keuntungan besar dalam jangka waktu cepat. Namun di sisi lain, risiko instrumen investasi ini juga tinggi. Istilahnya, high risk-high return. Pada suatu waktu, kamu juga harus siap memangkas kerugian atau cut loss saham.

Hal ini terkadang tak bisa dihindari. Lihat saja, volatilitas pada indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang tahun ini. IHSG yang masih di atas 6.000 pada bulan Januari lalu bisa tiba-tiba longsor hingga level 3.900 di akhir Maret. IHSG baru mulai naik hingga ke atas 5.000 lagi pada awal Juni.

IHSG merupakan rata-rata harga saham gabungan yang terdapat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Anjloknya IHSG bisa menjadi indikasi bahwa harga-harga saham juga turun. Demikian juga sebaliknya, IHSG yang menguat menjadi indikasi kenaikan harga-harga saham.

Ambil contoh saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Di bulan Januari, saham INDF berada di atas Rp 8.000 per saham. Lalu pada akhir Maret harga saham produsen Indomie itu turun sampai level Rp5.000. Selanjutnya, harga saham kembali naik ke atas Rp6.000 di awal Juni. Dalam dua bulan, saham INDF bisa terkoreksi hingga 37,5%. Lalu dalam dua bulan juga, saham INDF kembali naik 20%.

Baca juga: Investasi Saham di Pasar Modal “Ambyar”? Begini Cara Perbaikinya

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu menjadi salah satu pemegang saham? Kondisi turunnya harga saham tentu membuat perasaan tidak tenang. Uang yang telah diinvestasikan menjadi berkurang. Padahal, tujuan investasi adalah untuk mendapat keuntungan.

Jika harga saham yang dimiliki terus merosot, mau tidak mau kamu harus mengambil strategi ini. Artinya, kamu harus merelakan untuk menjual saham dalam kondisi rugi. Berikut ini sejumlah pertimbangan dan strategi cut loss yang bisa kamu terapkan:

Cegah rugi lebih besar saat potensi terus turun

Harga saham digerakkan oleh dua faktor, yakni fundamental dan teknikal. Faktor teknikal saham ditunjukkan dengan grafik dan pola-pola tertentu yang terbentuk dari pergerakan saham. Sementara faktor fundamental ditunjukkan dengan hasil kinerja perusahaan serta sejumlah indikator, seperti laba bersih per saham atau earning per share (EPS), laba dibanding modal atau return on equity (ROE) dan rasio utang terhadap modal atau debt to equity ratio (DER).

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Bagi seorang trader, grafik teknikal biasanya menjadi pedoman untuk menjual atau membeli saham jangka pendek. Namun bagi investor jangka panjang, kondisi fundamental perusahaan lebih dipertimbangkan. Salah satu indikatornya adalah laba bersih yang turun. Dengan demikian, bisa diketahui apakah pergerakan saham sesuai dengan kondisi fundamentalnya.

Investor sebaiknya melakukan ini jika setelah melakukan analisis, baik teknikal maupun fundamental, mendapat kesimpulan bahwa potensi pergerakan saham akan terus turun.  Jika strategi ini dilakukan secara cepat, kita sudah berhasil mencegah kerugian yang lebih besar.

Tindakan darurat saat saham tidak mengikuti pergerakan pasar

Jika IHSG bergerak naik, artinya rata-rata harga saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga naik. Hanya saja, ada beberapa saham yang pergerakannya tidak mengikuti bursa. Ketika bursa sudah naik, harga saham masih jalan di tempat atau justru cenderung turun.

Baca juga: Hati-hati! Jangan Asal Beli Saham Murah di Pasar Saham

Hal tersebut biasanya dialami oleh saham-saham dengan likuiditas kecil dengan kinerja buruk. Jika terus turun, saham bisa menyentuh level terendah yakni Rp50 per saham.

Investor sebaiknya segera mempertimbangkan untuk hal ini jika saham yang dipilih mengalami penurunan saat IHSG naik. Apalagi, jika penurunan terjadi secara terus menerus sehingga menyentuh beberapa level support.

Jangan sampai terlambat melakukan cut loss karena bisa membuat kerugian semakin besar. Keterlambatan juga bisa membuat kamu kehilangan momentum. Jangan sampai kamu salah melakukan hal ini ketika saham akan mulai berbalik naik.

Membatasi risiko kerugian yang dapat ditanggung

Mengingat investasi saham berisiko tinggi, investor memang sebaiknya menentukan batas kerugian yang bisa ditanggung. Misalnya, batas kerugian ditetapkan 5%-10% dari modal awal. Jika kerugian sudah mencapai level tersebut, maka investor bisa langsung menjualnya. Ini juga menjadi strategi untuk mencegah kerugian lebih dalam.

Sebab, salah satu manfaat cut loss memang untuk mengurangi risiko yang timbul saat investasi saham. Memang, keputusan cut loss bisa saja salah. Setelah kita menjual saham, ternyata harganya justru naik. Tetapi lebih baik melepas dengan risiko salah sekarang dibanding mempertahankan lebih lama dengan risiko ke depan yang belum pasti.

Cut Loss: melepas saham yang menembus batas bawah

Perusahaan sekuritas biasanya merilis rekomendasi teknikal harian saham, yang mencantumkan level support dan resistance dari beberapa saham yang dipilih. Lalu analis juga akan memberikan rekomendasi saham yang dipilih, apakah buyhold atau sell.

Baca juga: Harga Saham Rontok, Siapkan Dana Darurat untuk Memborong

Level batas bawah atau support bisa menjadi pertimbangan untuk hal ini  saham. Jika saham turun dan menembus titik support, maka ada potensi penurunan saham akan lebih dalam. Dalam kondisi seperti itu, level support ini bisa menjadi titik untuk cut loss.

Menghindari penurunan harga akibat sentimen pasar

Faktor teknikal menjadi pedoman para trader yang melakukan transaksi saham dalam jangka pendek. Sementara bagi investor jangka panjang, faktor fundamental akan lebih menentukan strategi investasi yang akan ditempuh.

Faktor fundamental tidak hanya dilihat dari hasil kinerja saja, tetapi juga sentimen lain yang bisa menggerakkan harga saham. Misalnya, berita mengenai kemunculan ojek online tentu akan memberi dampak buruk pada perusahaan taksi karena menambah persaingan di sektor transportasi. Apalagi, tarif ojek online lebih murah.

Jika kamu memiliki saham-saham emiten transportasi yang kemungkinan kinerjanya turun akibat ojek online. Berita tersebut bisa memberi dampak buruk bagi perusahaan. Jadi ada baiknya keputusan ini dipertimbangkan.

Isu terbaru yang memberi dampak pada IHSG secara keseluruhan juga bisa menjadi pertimbangan untuk hal ini. Seperti  kejadian pandemi Covid-19 yang menekan pasar saham dalam negeri. Akibat pandemi ini, sektor-sektor seperti konstruksi, properti dan pendukungnya cenderung tertekan. Sebab, pemerintah harus menunda sejumlah proyek infrastruktur dan mengalihkan dananya untuk penanganan Covid-19.

Mengalihkan dana ke saham yang lebih prospektif

Daripada mempertahankan investasi pada saham yang turun, lebih baik dana dialihkah untuk membeli saham lain yang lebih prospektif. Kamu mungkin akan menanggung rugi setelah menjual saham yang terus turun. Tapi, kerugian yang dialami juga bisa menjadi pelajaran dalam memilih saham berikutnya yang lebih baik.

Cut loss di waktu yang tepat membuat potensi rugi lebih rendah. Lalu dengan memilih saham baru yang lebih prospektif, potensi kerugian itu akan tertutup dengan kuntungan yang lebih besar. Dalam hal ini menjadi momentum untuk mengambil posisi investasi yang lebih baik.

Di tengah ketidakpastian pasar akibat krisis ekonomi, memegang uang tunai juga bisa menjadi pilihan terbaik alias cash is the king. Tidak heran jika banyak investor kakap menjual kepemilikan sahamnya dalam jumlah besar saat pandemi terjadi. Kelak saat kondisi pasar saham sudah membaik, dana yang dimiliki kembali diinvestasikan ke saham yang tepat.

Langkah ini bukan tanpa risiko. Tapi membiarkan saham yang harganya terus menurun juga memiliki risiko yang sangat besar.  Agar cut loss dapat dilakukan secara tepat, diperlukan sebuah pengetahuan dan pertimbangan investasi saham yang cukup. Semoga ulasan strategi di atas dapat membantumu dalam mengambil keputusan darurat jika harga saham yang dipegang terus menurun.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu