Step by Step Mendidik Investasi Untuk Anak Sejak Dini

199
investasi untuk anak

Orang tua bisa mulai mengajarkan investasi untuk anak-anak sejak usia dini. Tujuannya agar anak-anak terbiasa mengelola dan membagi keuangannya untuk kebutuhan tertentu hingga dewasa nanti. Pada akhirnya, anak diharapkan berada dalam kondisi finansial yang lebih aman di usia dewasa.

Hanya saja, instilah investasi pasti masih asing di telinga anak-anak. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja masih banyak yang belum mengenal investasi. Nah, bagaimana memulai mengajarkan investasi bagi anak-anak? Berikut kiat-kiatnya.

Ajarkan investasi untuk anak mulai dari menabung

Bentuk sederhana dari investasi adalah menabung, yakni menyisihkan sebagian uang untuk dikumpulkan dan dibelanjakan di masa depan. Belajar menabung bisa dimulai ketika anak-anak sudah mengerti uang dan fungsinya mulai usia 3-4 tahun.

Sediakan tabungan tradisional alias celengan terlebih dahulu di rumah. Ajak anak memilih bentuk celengan sesuai dengan kesukaannya. Saat anak sudah bisa menulis, orang tua bisa membiasakan anak untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran setiap hari.

Misalnya, sang anak mendapat uang saku Rp10.000 setiap harinya. Maka dia wajib mencatat daftar penggunaan uang jajan tersebut. Setiap sisa uang jajan, harus dimasukkan ke dalam tabungan sambil dicatat besarannya.

Mengenal tujuan dan target

Setiap berinvestasi pasti ada tujuannya seperti membeli barang impian, biaya pendidikan, atau liburan. Tujuan investasi ini juga bisa diajarkan kepada anak-anak, tentu saja dimulai dari tujuan menabung. Contoh sederhananya, ketika anak meminta uang untuk membeli mainan, ajarkan dia menabung sedikit demi sedikit agar uangnya terkumpul dan cukup untuk membeli mainan yang diinginkan.

Baca juga: 4 Hal Wajib Dalam Menyiapkan Dana Pendidikan Anak

Jika sudah mengerti dengan konsep tujuan, orang tua bisa mengajarkan pembagian keranjang investasi dengan membelikan beberapa celengan. Masing-masing celengan ditujukan untuk hal yang berbeda. Misalnya untuk membeli jajan, mainan, donasi, dan peralatan sekolah.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Dari tabungan beranjak ke investasi

investasi untuk anak

Saat anak sudah terbiasa menabung, mulai ajarkan tentang investasi dengan bahasa sederhana. Jelaskan terlebih dahulu kepada anak bahwa uang tabungannya bisa menghasilkan keuntungan jika diinvestasikan.

Agar lebih mudah, gambarkan dengan cerita ilustrasi. Misalnya, sang ibu memakai uang anaknya untuk tambahan modal usaha berjualan kue. Bisnis kue tersebut menghasilkan keuntungan. Maka ibu mengembalikan uang anaknya beserta sebagian keuntungan yang didapat sebagai tanda terima kasih.

Sebaiknya orang tua juga membuka tabungan untuk anak di bank sehingga sang anak nantinya bisa membandingkan bunga tabungan di bank dengan imbal hasil yang ia peroleh.

Dari sana, mulai jelaskan kepada anak bahwa ia bisa menaruh uang ke perusahaan terpercaya sehingga uangnya dapat menghasilkan keuntungan. Sebutkan contoh, laba perusahaan yang diperoleh dalam setahun. Jika perusahaan meraih laba, orang menempatkan dana di perusahaan tersebut juga menikmati keuntungan dalam bentuk dividen. Sisipkan cerita-cerita sukses dari orang-orang yang berinvestasi agar anak termotivasi untuk melakukan hal serupa.

Bebaskan anak memilih investasinya

Ketika anak memasuki usia remaja, mulai ajarkan jenis-jenis instrumen investasi yang ada di pasar. Jelaskan kepada anak, instrumen investasi yang mengandung risiko rendah dan juga risiko tinggi. Jangan lupa, jelaskan konsep high risk high return agar anak bisa memilih investasi sesuai risiko yang bisa ditoleransi. Perlahan-lahan pembelajaran investasi untuk anak bisa dikenalkan dengan grafik dan pergerakan harga investasi.

Baca juga: Investasi Emas, Kian Berkilau di Tengah Pandemi

Diskusikan dengan anak tentang instrumen yang sebaiknya dipilih sesuai dengan tujuan investasinya. Selanjutnya, biarkan anak memilih sendiri instrumen investasi yang diinginkan, tapi orang tua tetap harus melakukan pengawasan.

Jika memang anak memilih instrumen berisiko, maka jelaskan risiko-risiko yang mungkin dihadapi. Anak mungkin melakukan kesalahan dalam memilih investasi, tapi biarkan dia belajar dari kesalahan agar investasi ke depannya lebih baik.

Membagi investasi dalam beberapa keranjang

investasi untuk anak

Seperti mengajarkan anak membagi uang tabungan di beberapa keranjang, lanjutkan dengan mengajarkan anak untuk membagi investasi ke beberapa keranjang. Bedanya, pembagian investasi ke beberapa keranjang ini memiliki risiko dan potensi imbal hasil yang berbeda beda.

Di usia remaja (masa SMP atau SMA) anak bisa diajarkan untuk membagi investasi berdasarkan tujuan. Misalnya untuk jangka pendek bisa ke reksa dana pasar uang atau deposito. Lalu jangka menengah ke reksa dana pendapatan tetap atau obligasi. Sementara jangka panjang bisa ke reksa dana saham atau saham. Jika menyukai investasi aman dalam jangka panjang, bisa juga masuk ke emas batangan.

Anak usia remaja memiliki tujuan dan keinginan berbeda  dengan masa kanak-kanaknya. Mereka mulai merasakan pentingnya sebuah pencapaian. Jadi, orang tua bisa mengajak anak untuk menggunakan uang investasi untuk tujuan yang lebih berkesan. Misalnya, menyiapkan uang untuk membeli kendaraan sendiri bisa dilakukan dengan memilih instrumen investasi jangka panjang. Untuk investasi jangka pendek bisa dipakai untuk membiayai sendiri liburan pertama bersama teman-temannya.

Buat tujuan dan target investasi baru

Pastikan anak tidak berhenti berinvestasi ketika tujuan investasinya sudah tercapai. Jika satu tujuan investasi tercapai, ajar anak membuat target dan tujuan baru.

Target investasi juga harus meningkat dari waktu ke waktu. Misalnya jika sebelumnya hanya mengumpulkan dana untuk membeli sepeda atau liburan, kali ini anak bisa menetapkan target yang lebih besar. Seperti membantu orang tua membayar uang muka biaya kuliah.

Baca juga: Cara Menghitung Keuntungan Bunga Deposito

Jika anak belum bekerja, tentu akan sulit mendapatkan sumber dana investasi selain dari uang saku orang tua. Untuk itu, orang tua juga bisa memulai mengajari anak-anak untuk menghasilkan uang sendiri. Seperti membantu usaha atau pekerjaan orang tua. Misalnya jika orang tua seorang pedagang, anak bisa diajak ikut berdagang.

Membedakan keinginan dan kebutuhan

Anak-anak biasanya memiliki banyak keinginan, apalagi jika sudah remaja. Orangtua seringkali harus merogoh kantong dalam-dalam untuk memenuhi keinginan anak remaja, mulai dari biaya nonton konser, beli kendaraan bermotor, laptop hingga kebutuhan make up dan skincare untuk anak perempuan.

Ajar anak-anak untuk membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Sebuah keinginan pada dasarnya tidak mengikat dan tidak memberikan dampak apapun jika tidak dipenuhi. Sedangkan kebutuhan merupakan barang dan jasa yang memang dibutuhkan dan bisa memberikan dampak tertentu jika tidak dipenuhi.

Orang tua bisa memenuhi kebutuhan anak yang benar-benar penting. Sementara keinginan anak harus diperoleh sendiri dengan cara berinvestasi agar bisa mengembangkan dana untuk membiayai keinginannya.

Jangan lupa beramal

Setelah bisa mengembangkan uang lewat instrumen investasi, ajarkan pula anak-anak agar memiliki kepedulian terhadap sesama. Sisihkan sebagian hasil investasi untuk beramal misalnya 2,5%. Melatih anak untuk merelakan sebagian penghasilannya bagi orang yang lebih membutuhkan akan menjadikannya seorang dermawan di kemudiaan hari.

Demikian kiat-kiat mengajarkan investasi untuk anak sejak dini yang bisa kamu terapkan. Yakinlah, apa yang orang tua ajarkan pada anak-anak akan berbuah manis di masa depan. Semoga.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu