Pilah Pilih Investasi di New Normal, Mana yang Maksimal?

253
new normal

Dunia investasi selama masa pandemi Covid-19 dan new normal ini diwanai kabar suka cita dan duka cita. Suka cita dialami investor emas karena harga emas melambung tinggi hingga menembus rekor. Sementara pasar saham anjlok bahkan mengalami crash karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi 24 persen jika dihitung sejak awal tahun. Investor saham pun mengalihkan dananya ke logam mulia sebagai tempat pelarian yang aman (safe haven).

Baca juga: Strategi Keuangan Menghadapi New Normal

Di pekan pertama Juni 2020, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berakhir dan aktivitas bisnis kembali normal dengan menerapkan prosedur dan aturan yang diberlakukan pemerintah (New Normal). Walau kegiatan usaha kembali diizinkan beroperasi, tekanan pelemahan ekonomi masih membayangi akibat penyebaran virus Covid-19 yang sebenarnya belum mereda.

Para pengamat memperkirakan ekonomi akan pulih secara bertahap atau perlahan. Kondisi pasar diperkirakan masih akan sangat volatil setidaknya hingga kuartal III-2020 seiring sentimen penyebaran pandemi dan perang dagang yang kembali memanas. Faktor-faktor ini akan mempengaruhi keputusan para investor dalam menentukan jenis investasi yang mereka pilih di era New Normal ini. Beberapa instrumen investasi yang bisa jadi pilihan, di antaranya adalah:

Reksa Dana Pasar Uang

new normal

Head of Investment Research PT Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menyarankan untuk berinvestasi di reksa dana pasar uang di masa New Normal ini.

“Ya, instrumen ini paling disarankan karena likuid dan paling aman,” ujarnya. Saat ini pasar masih penuh ketidakpastian dan masa New Normal pun belum tentu akan terus berlanjut. Pandemi masih belum berakhir jika dilihat dari peningkatan jumlah orang yang positif terjangkit Covid-19.

Pada reksa dana pasar uang dana nasabah dialokasikan sebanyak 80% di deposito, sementara sisanya di obligasi dengan tenor kurang dari satu tahun. Dengan porsi deposito yang sangat besar, tentu reksa dana pasar uang relatif paling stabil dibandingkan jenis reksa dana lain.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Baca juga: Pintar Memilih Asuransi Saat Normal Baru

Obligasi saat new normal

Beberapa analis mengatakan obligasi atau surat utang menjadi pilihan tepat selama fluktuasi pasar saham lalu karena obligasi memberi pendapatan berupa kupon dan besaran kupon lebih tinggi daripada bunga deposito. Ada berbagai jenis obligasi seperti Obligasi Ritel Indonesia (ORI) yang cocok untuk investor individu. Pembayaran kupon diterima setiap bulan dan dapat diperdagangkan di pasar sekunder.

Wawan menjelaskan harga surat utang negara atau SUN memang sempat terjun ketika investor asing melakukan aksi panic selling. Investor asing menguras portofolionya di SUN hingga Rp200 triliun di awal April lalu sehingga rekor tertinggi kepemilikan asing Rp1100 triliun menjadi tinggal Rp900 triliun.

Namun, saat ini investor asing sudah kembali masuk pasar obligasi. Selain itu karena suku bunga stabil di level rendah dan dipertahankan oleh Bank Indonesia, harga obligasi akan cenderung naik menuju wajar. Kinerja obligasi yang cenderung stabil akan menunjang kinerja produk terkait obligasi seperti reksa dana pendapatan tetap yang akan lebih baik dari reksa dana saham.

Saham Blue Chip

Menjelang New Normal atau di pekan terakhir Mei, instrumen investasi seperti saham terpantau menjadi salah satu pilihan investor. Hal ini tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sepekan (week-on-week/WoW) atau periode 20-29 Mei 2020 yang menguat 207,66 poin atau 4,57% ke level 4.753,61.

Naiknya indeks lebih dari 200 poin menunjukkan aksi beli investor sangat masif. Investor tidak ragu menggunakan uang tunai untuk dibelikan saham. Selera investor terhadap aset berisiko (risk appetite) nampaknya sudah kembali di tengah optimisme para pelaku pasar akan diputarnya kembali perekonomian Indonesia. Namun untuk pilihan saham, sebaiknya saham blue chip atau saham-saham dengan kapitalisasi besar dan likuid yang dikoleksi karena saham ini lebih stabil pergerakan harganya.

Wawan mengatakan masa recovery selalu akan membuat investor fokus pada saham blue chip yang dipandang masih murah. Setelah saham blue chip dipandang sudah mahal baru akan melirik second liner yang fundamentalnya dipandang baik.

Wawan menyarankan untuk membeli saham kategori BUKU IV, seperti BBCA. Saat aktivitas bisnis kembali dibuka pelaku usaha memerlukan pendanaan sehingga penyaluran kredit diperkirakan meningkat tajam. Tidak hanya kredit namun juga transaksi-transaksi lain melibatkan perbankan akan meningkat tajam.

Emas

new normal

Selama masa pandemi, emas menjadi favorit investor sehingga logam mulia ini semakin berkilau di tengah gelapnya pasar keuangan. Meskipun sudah memasuki era New Normal, tapi makroekonomi kurang mendukung aset berisiko karena pandemi Covid-19 belum benar-benar berlalu seiring belum ditemukannya vaksin.

Sementara itu masalah lain yang menekan ekonomi global dalam dua tahun belakangan, perang dagang AS dan Cina, juga belum menemui kata damai sehingga investor secara makro masih butuh aset safe haven seperti emas. Di sisi lain, safe haven lain seperti dolar tidak stabil dan yen Jepang tidak memberi yield setinggi emas.

Karena itu, beberapa pakar keuangan menyarankan masyarakat yang memiliki emas untuk tidak menjual habis emasnya dan dialihkan ke aset berisiko. Sebab, dalam situasi ekonomi yang bermasalah orang akan tetap membutuhkan emas.

Transisi investasi dari instrumen berisiko rendah seperti emas ke risiko tinggi seperti saham harus dilakukan secara bertahap dan memperhatikan situasi di lapangan.

Baca juga: Tips Berhemat Saat Normal Baru

Dengan beberapa pilihan investasi di atas, ayo kita tumbuhkan kembali semangat berinvestasi di masa Kenormalan Baru atau New Normal ini. Setuju? 

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu