Stimulus Bergulir Bursa Saham Pun Semringah

145
saham

Selama masa pandemi Covid-19, ekonomi dan saham mandek bahkan menyusut yang ditandai dengan pemutusan hubungan kerja massal di beberapa sektor yang terdampak wabah ini karena aktivitas bisnis dan ekonomi dihentikan pemerintah dengan maksud menghentikan wabah.

Ukuran virus pemicu wabah pandemi COVID-19 hanyalah 0,12 micron (mikrometer), atau 1/1.200 milimeter. Ibaratnya 1 butir debu seujung kuku dipotong menjadi 1.200 potongan. Namun, virus sekecil

itu cukup membuat perekonomian dunia limbung. Morgan Stanley memperkirakan jika pandemi ini berlarut-larut, ekonomi dunia berisiko minus hingga 2,1% tahun ini. Syukur-syukur masih bisa tumbuh 0,3%.

Baca juga: Strategi Cut Loss Saham untuk Menghindari Kerugian Lebih Besar

Tidak heran bursa saham utama di Asia pun berguguran. Di Indonesia, koreksi IHSG telah mencapai 28% sepanjang tahun berjalan. Pasar keuangan seperti pasar modal di berbagai belahan dunia terhuyung-huyung dan anjlok tajam karena proyeksi pendapatan emiten yang suram di tahun ini.

Untuk meminimalkan dampak pandemi, sejumlah negara mengeluarkan stimulus, termasuk Indonesia. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggelontorkan dana stimulus Rp405,1 triliun. Sebagian besar, atau nyaris 40% dari itu, dialokasikan untuk pemulihan ekonomi nasional dengan alokasi Rp150 triliun.

Alokasi terbesar kedua adalah jaring pengaman sosial (JPS) atau social safety net dengan nilai Rp110 triliun. Selanjutnya, alokasi untuk dana kesehatan sebesar Rp75 triliun, dan terakhir Rp70,1 triliun untuk insentif perpajakan.

Beberapa negara maju mengeluarkan stimulus seperti AS, Cina, dan Jepang. Dampak kebijakan stimulus pada bursa saham positif karena indeks saham global menghijau setelah sejumlah pemerintah mengumumkan stimulus tersebut. Apa kaitan antara stimulus ekonomi dengan bursa saham? Mari simak penjelasan berikut.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Membantu pendapatan perusahaan/ emiten

saham

Menurut Wawan Hendrayana, Head of Investment Research PT Infovesta Utama, stimulus akan membuat emiten bertahan, atau diberi insentif untuk menghasilkan pendapatan lebih.

“Inti dari bursa saham adalah mengejar prospek peningkatan pendapatan emiten,” ujarnya.

Dalam kasus wabah Covid-19 ini, pemerintah berusaha menolong perusahaan agar tidak bangkrut sehingga tidak ada pemutusan hubungan kerja karyawan yang akan menimbulkan masalah sosial baru bagi pemerintah. Mengurangi pajak penghasilan, misalnya, membuat beban pengeluaran keuangan perusahaan berkurang.

Cashflow perusahaan dalam menghasilkan pendapatan pun akan terbantu dengan stimulus ini,” imbuh Wawan.

Selain intervensi pemerintah, intervensi dari bank sentral untuk merangsang pertumbuhan ekonomi juga kerap dilakukan. Bank sentral AS Federal Reserve pernah melakukan program quantitative easing yaitu pembelian obligasi di pasar sekunder dengan membeli obligasi milik perbankan. Tujuannya agar bank-bank memiliki cadangan uang tunai yang melimpah atau likuiditas besar. Uang tunai ini diharapkan disalurkan ke masyarakat berupa kredit yang lunak karena bunga yang rendah sehingga kegiatan konsumsi meningkat.

Baca juga: Investasi Saham di Pasar Modal Ambyar? Begini Cara Membenahinya

Usaha-usaha kecil menengah dan perusahaan besar pun menikmati kredit lunak ini sehingga diharapkan terjadi peningkatan ekspansi usaha yang ujungnya terjadi peningkatan pendapatan perusahaan.

Dari pengalaman kebijakan stimulus seperti quantitative easing dari Federal Reserve , dibutuhkan waktu cukup lama, lebih dari 7 tahun untuk menaikkan inflasi. Begitu pula yang diperkirakan pengamat ekonomi dalam kasus wabah Covid-19. Menurut Wawan, pandemi ini salah satu kondisi paling buruk dari sisi ekonomi dalam 100 tahun terakhir sehingga diperlukan waktu lama untuk pemulihan.

Kebijakan stimulus bank sentral

Di abad 21 ini beberapa kali krisis ekonomi terjadi dan yang paling terkenal adalah krisis 2008 di AS yang dikenal dengan subprime mortgage. Untuk memulihkan ekonomi dalam negeri sejumlah bank sentral negara maju meluncurkan program stimulus ekonomi yang terkenal. Berikut di antaranya:

Quantitative Easing Federal Reserve

Krisis keuangan yang terjadi di AS tahun 2008 akibat kredit macet KPR membuat jatuhnya harga produk efek berbasis tagihan KPR (subprime mortgage). Bank sentral Federal Reserve kemudian menggulirkan program stimulus pembelian subprime mortgage yang macet tersebut dengan menggelontorkan dana senilai US$600 miliar.

The Fed juga menurunkan bunga menjadi 0,25%, yang merupakan tingkat bunga terendah dalam beberapa dekade. Selain mortgage backed assets,  The Fed juga membeli obligasi pemerintah. Kebijakan tersebut dihentikan sementara di 2010 karena The Fed menilai ekonomi sudah membaik. Namun kemudian The Fed melanjutkannya kembali karena ekonomi dinilai belum stabil dan pembelian obligasi ditetapkan senilai US$30 miliar per bulan, bahkan dinaikkan hingga US$85 miliar per bulan sejak 2012. Per Juni 2013 nilai pembelian dikurangi atau istilah ekonominya tapering sampai benar-benar dihentikan di Oktober 2014 seiring Fed mulai menaikkan bunga pertama kali dari 0,25% menjadi 0,5%.

Program Stimulus Bank Sentral Eropa

saham

European Central Bank (ECB) atau Bank Sentral Eropa meluncurkan program stimulus sejak 2009 dengan membeli obligasi senilai 60 miliar euro. ECB juga menetapkan bunga 0% agar masyarakat dan perusahaan mendapatkan dana murah guna menghindari ekonomi Zona Eropa dari deflasi . Pembelian obligasi dinaikkan hingga 80 miliar euro per bulan sejak 2016 dan sama sekali dihentikan di akhir 2018.

Namun perang dagang AS-Cina menyebabkan ekonomi Eropa yang sudah pulih sejak krisis 2008 mulai goyah. ECB pun menggulirkan lagi program quantitative easing senilai 20 miliar euro per bulan. Untuk mengatasi dampak pandemi Covid-19, ECB akan membeli obligasi pemerintah negara-negara zona euro senilai 1,1 triliun euro di tahun 2020 ini. ECB juga batal menaikkan bunga yang rencananya dilakukan akhir tahun lalu.

Stimulus Bank of Japan

Bank of Japan (BOJ) menerapkan bunga negatif atau -0,1% sejak 2016 setelah sebelumnya berada di 0,1% sejak 2008. Selain menggulirkan pinjaman dengan bunga rendah, tujuannya adalah agar nilai tukar yen menjadi lebih rendah dari dolar AS sehingga ekspor Jepang diharapkan meningkat. BOJ juga melakukan pembelian obligasi sejak 2010 dari mulai 5 triliun yen per tahun kemudian dinaikkan bertahap menjadi 80 triliun yen per tahun sejak 2014.

Baca juga: Hati-Hati Jangan Asal Beli Saham Murah di Pasar Saham

Demikianlah penjelasan mengenai hubungan antara stimulus kebjiakan ekonomi yang dilakukan pemerintah dengan bursa saham, dan beberapa kebijakan ekonomi penting yang pernah dilakukan sejumlah negara di dunia. Semoga informasi ini dapat menambah wawasan kamu di bidang ekonomi dan keuangan. 

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu