New Normal, Sektor Ekonomi Ini Mulai Menggeliat

168
new normal

Awal Juni, pemerintah mulai menghidupkan perekonomian dengan mengizinkan sektor-sektor tertentu untuk membuka aktivitas usahanya kembali setelah dilarang beraktivitas selama wabah pandemi Covid-19.

Baca juga: Tantangan Baru Para Pekerja Era Normal Baru

Walau demikian, pelaku usaha harus mengikuti tatanan normal baru atau “new normal” di mana protokol kesehatan diterapkan untuk mencegah penyebaran wabah Covid-19. Dengan dimulainya kembali aktivitas perekonomian, sejumlah sektor yang selama ini ditutup operasionalnya diperkirakan akan pulih lebih cepat dari sektor lainnya. Berikut ini ulasannya.

Sektor ritel

new normal

Di sektor ini untuk segmen menengah bawah sudah ramai kembali namun untuk ritel modern belum pulih. Selama masa PSBB Transisi di Jakarta, sejumlah mal yang sudah buka masih terlihat sepi, kendati pengelola sudah mengubah layanan menyesuaikan dengan wabah Covid-19 seperti tombol lift yang diubah menjadi sistem sensor tanpa harus menyentuh tombol.

Bhima Yudhistira, ekonom INDEF, mengatakan sektor ritel modern belum akan pulih seperti situasi sebelum pandemi. Masyarakat khawatir adanya gelombang kedua penyebaran Covid-19 karena dikhawatirkan mal malah menjadi pusat penyebaran wabah.

“Selain itu daya beli masyarakat juga masih rendah,” ucapnya.

Pengecualian terjadi pada pasar tradisional karena harganya terjangkau dan dekat dengan pemukiman. Saat ini ritel modern hanya menguasai 20% persen pasar pembeli sementara 80% masyarakat Indonesia masih berbelanja di pasar tradisional. Hanya saja hal yang bisa menghambat aktivitas pasar tradisional di masa New Normal adalah adanya temuan pedagang yang terinfeksi Covid-19 sehingga pasar terpaksa ditutup selama beberapa hari.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Sektor pariwisata

new  normal

Untuk daerah wisata yang padat kunjungan turis asing seperti Bali, Lombok, dan Yogyakarta memang belum pulih seperti sebelum wabah. Mereka masih takut tertular Covid-19 mengingat kasus positif pasien Covid-19 di Indonesia yang masih bertambah tiap harinya.

“Pariwisata terdampak cukup dalam. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik ke tempat tujuan wisata terkenal belum akan membaik,” urainya.

Selain itu sektor penunjang pariwisata di daerah-daerah ini yaitu transportasi udara juga masih ketat dalam menyeleksi calon penumpang di mana penumpang harus membawa surat keterangan sehat bebas dari Covid-19 dan surat tugas bila bepergian dalam rangka tugas. Kapasitas penumpang di pesawat juga dibatasi maksimum 70% dari total kapasitas kursi, meski naik dari ketentuan di masa PSBB yaitu 50%.

Baca juga: Tips Berhemat Era Normal Baru

Di sisi lain, tempat-tempat wisata yang murah meriah tiket masuknya seperti kebun binatang, pantai, dan Puncak, Bogor, sudah dipadati pengunjung. Tiap akhir pekan di bulan Juni ini jalur ke Puncak kembali macet karena orang yang ingin menikmati segarnya udara di hamparan kebun teh.

Industri makanan, minuman, dan restoran

new normal

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memprediksi industri makanan, minuman, dan restoran akan pulih dalam waktu tiga bulan ke depan setelah PSBB berakhir. Selama masa PSBB restoran ditutup karena dilarang menerima pembeli untuk makan di tempat. Namun mulai Juni pusat perbelanjaan sudah kembali beroperasi, termasuk restoran dan kafe yang berada di dalamnya.

Adanya protokol kesehatan bagi pengunjung mal yaitu membatasi jumlah pengunjung mal tentu akan membatasi pengunjung restoran juga. Namun kedatangan pengunjung diharapkan meningkat jika wabah benar-benar sudah berakhir.

Sektor transportasi

new normal

Para pengelola jalan tol mulai sedikit lega. Pasalnya, lalu lintas kendaraan di jalan bebas hambatan mulai ramai setelah ada pelonggaran kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Sebelum PSBB longgar, kinerja sejumlah ruas jalan tol anjlok.

Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI) mencatat terjadi perubahan lalu-lintas harian rata-rata (LHR) yang cukup signifikan di ruas tol selama periode New Normal. Sejak awal Juni hingga pertengahan Juni terjadi kenaikan traffic sebesar 40%. Walau demikian angka tersebut masih di bawah sebelum pelaksanaan PSBB.

Transportasi umum khusus kereta commuter line juga sudah pulih saat perkantoran mulai buka kembali di awal Juni. Antrean penumpang menumpuk di stasiun keberangkatan menuju Jakarta.

Namun menurut Bhima, ada juga sebagian masyarakat yang tadinya langganan transportasi umum namun sekarang menghindari transportasi umum karena takut tertular Covid-19. Mereka kembali memilih kendaraan pribadi, entah sepeda motor atau mobil untuk pergi ke kantor.

Ada juga yang berpikir akan membeli mobil atau sepeda motor demi menghindari kerumunan massa. Hal ini bisa dilihat sebagai hal positif bagi industri otomotif yang penjualannya anjlok lebih dari 50% selama masa PSBB.

Baca juga: Normal Baru dan Harus Ngantor Lagi? Lakukan Ini Agar Semangat!

“Ini seharusnya menaikkan pasar otomotif dalam jangka menengah,” pungkas Bhima.

Meski belum pulih sepenuhnya, kita tentu berharap perekonomian akan menggeliat kembali seiring tatanan kehidupan baru atau New Normal dijalankan. Tetap semangat, ya!

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu