Jangan Takut Berinvestasi, Raih Cuan dengan Saham-Saham Ini di Era New Normal

232
new normal

Tatanan kehidupan normal baru atau new normal telah dimulai di tengah pandemi virus COVID-19 yang belum berakhir. Di tengah ketidakpastian yang masih tinggi, peluang cuan dari berbagai sektor saham masih terbuka lebar. Namun investasi saham tetap harus dilakukan dengan hati-hati.

Pandemi telah membuat pasar saham domestik bergejolak selama paruh pertama tahun 2020. Harga saham-saham di bursa efek berjatuhan, tak terkecuali saham-saham blue chips. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun terjungkal hingga di bawah level 4.000 pada akhir bulan Mei.

Hingga akhir semester pertama, IHSG mencatat penurunan sebesar 22,13% secara year to date (ytd). Jika dibandingkan dengan indeks saham di kawasan Asia Pasifik, kinerja IHSG di periode tersebut paling jeblok.

Prospek saham semester II 2020

Era new normal telah membuat pasar saham perlahan rebound dan kini berada di 4.987,08 per tanggal 7 Juli 2020. Namun sejatinya bursa belum sepenuhnya normal. Selama pandemi masih berlangsung, ketidapastian di pasar masih tinggi.

Baca juga: New Normal, Sektor Ekonomi Ini Mulai Menggeliat

Pengamat pasar modal Chris Apriliony melihat prospek IHSG di semester II 2020 cenderung stagnan. Lompatan indeks yang biasanya terjadi pasca penurunan yang tajam belum akan terjadi. Prediksinya, IHSG masih akan bergerak di area 4.500-5.300.

Alasannya, kebanyakan investor belum mau bergerak agresif dan cenderung wait and see. “Pelaku pasar masih menunggu hasil dari vaksin corona yang dapat digunakan,” kata Chris.

Selain kepastian vaksin COVID-19, pergerakan IHSG bisa jadi lebih baik jika didukung dengan data-data ekonomi yang positif. Pasar menanti kabar pemulihan ekonomi Cina dan Amerika Serikat yang terpuruk akibat pandemi.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Dua raksasa ekonomi dunia itu selalu mendapatkan perhatian lebih dari pelaku pasar. Data yang positif akan memberikan angin segar bagi bursa saham dalam negeri. “Data dari ekonomi Cina kita harapkan dapat membaik sehingga kembali dapat mendongkrak harga komoditas,” tutur Chris.

Dari domestik, pelaku pasar menanti laporan keuangan emiten sepanjang kuartal II-2020. Pandemi pasti akan berdampak pada kinerja sejumlah emiten. Tapi efeknya diharapkan tak terlalu buruk. Rilis data produk domestik bruto (PDB) juga dinantikan oleh investor.

Dengan melihat perekonomian yang belum stabil, Chris memprediksi IHSG pada akhir tahun 2020 berada di area 5.250 atau maksimal berada pada rentang 5.500.

Sektor saham yang potensial

new normal

Selalu ada cuan di pasar saham meskipun ketidapastian akibat pandemi masih tinggi. Untuk itu, pemilihan sektor saham yang tepat di era new normal akan sangat menentukan peluang cuan yang bisa kamu peroleh.

Chris merekomendasikan tiga sektor saham yang bisa diburu oleh investor yakni sektor farmasi, telekomunikasi, dan pertambangan. Sektor farmasi paling diuntungkan selama pandemi. Tidak mengherankan karena permintaan obat dan vitamin meningkat pesat.

Baca juga: Pilah Pilih Investasi di New Normal, Mana yang Maksimal?

Demikian juga dengan sektor telekomunikasi yang justru menerima berkah di balik pandemi. Adanya kebijakan kerja di rumah atau work from home, libur sekolah dan ditutupnya tempat wisata dan hiburan telah mendorong permintaan data internet.

“Sektor telekomunikasi dari sisi trafik data meningkat dengan mulai banyaknya online meeting dan sejenisnya,” jelas Chris.

Sedangkan sektor pertambangan diprediksi akan tumbuh karena saat ini harga komoditas yang sudah sangat rendah. Adanya prospek pemulihan ekonomi Cina tentu akan kembali mendongkrak harga komoditas di masa depan.

Saham-saham yang bisa dibidik di antaranya adalah PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Indika Energy Tbk (INDY), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

Sektor saham yang dihindari

Pandemi telah menyebabkan penjualan industri turun drastis. Tidak sedikit pengusaha yang terpaksa menutup perusahaannya. Akibatnya, ada jutaan orang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) atau mengalami penurunan pendapatan. Pelaku usaha kecil juga meradang karena daya beli masyarakat yang rendah.

Meskipun new normal telah diberlakukan, masyarakat tetap harus menjalankan protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan jaga jarak antar sesama. Kehidupan masyarakat belum sepenuhnya normal. Sebagian orang masih memilih berdiam diri di rumah dan menghindari keramaian.

Kondisi tersebut tentu saja tidak menguntungkan bagi mayoritas industri. Sejumlah sektor saham masih akan menderita selama masa new normal. Maklum, sulit untuk berharap adanya pertumbuhan ekonomi di tengah kondisi yang tidak ideal.

Baca juga: Strategi Cut Loss Saham untuk Menghindari Kerugian Lebih Besar

Dalam situasi krisis, sejumlah sektor saham harus dihindari. Jika tidak, investasi yang kita benamkan bakal merugi. Menurut Chris, sektor-sektor saham yang sementara waktu perlu dihindari adalah sektor pariwisata dan perhotelan, penjualan ritel dan industri seperti otomotif.

“Sektor-sektor tersebut akan mengalami penurunan demand akibat COVID-19,” kata Chris.

Siapkan dana tunai

Dengan kondisi ketidakpastian yag masih cukup tinggi, Chris tidak merekomendasikan investor untuk bersikap agresif dalam berinvestasi saham. Walaupun valuasi sejumlah saham sudah terbilang murah, akumulasi beli harus dilakukan dengan bijaksana.

Dia menyarankan, investor untuk menyimpan porsi dana tunai yang cukup. Dana tersebut bisa dipergunakan untuk berjaga-jaga. Kelak, jika momentum kenaikan harga-harga saham sudah tiba, investor bisa lebih leluasa masuk ke berbagai saham yang pontesial.

Setelah membaca ulasan di atas, kamu diharapkan bisa memilih saham-saham yang potensial di era new normal. Investasi saham tidak perlu berhenti meski ada pandemi. Kamu cuma perlu lebih berhati-hati.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu