Ini Risiko Investasi Reksadana yang Sering Luput Diketahui dari Banyak Orang

255
risiko investasi reksadana

Reksa Dana adalah salah satu instrumen investasi yang sederhana dan mudah dilakukan, namun tetap memiliki risiko investasi reksadana. Reksa dana sendiri merupakan kumpulan dana dari banyak investor yang kemudian dikelola oleh manajer investasi. Kumpulan dana dari reksa dana ini bisa ditempatkan pada instrumen investasi lainnya seperti saham, obligasi, hingga deposito.

Baca juga: Reksadana Terproteksi, Alternatif Investasi di Masa Pandemi

Minimal pembelian awal untuk produk reksa dana juga relatif murah, biasanya berkisar antara Rp 100.000-Rp 250.000 saja. Bahkan, ada beberapa produk reksa dana yang ditawarkan dengan harga Rp 10.000. Lantaran dikelola oleh manajer investasi, maka pembeli reksa dana tidak perlu repot mengecek investasinya setiap hari.

Risiko investasi reksadana memang lebih kecil dibanding dengan saham. Namun, bukan berarti reksadana tidak berisiko.

Nyatanya, ada banyak kasus yang menimpa reksadana. Sepanjang tahun 2019 saja, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menghentikan sementara (suspensi) produk reksa dana dari 37 MI. Baru-baru ini, beberapa produk reksadana juga terseret kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Makannya sebelum memutuskan berinvestasi pada reksa dana, investor sebaiknya memahami dulu risiko-risikonya. Apa saja risiko investasi reksadana yang kemungkinan dihadapi oleh investor?

1. Penurunan nilai aktiva bersih (NAB)

risiko investasi reksadana

NAB merupakan jumlah dana yang dikelola dalam satu produk reksa dana. Angka ini akan berubah-ubah setiap harinya, tergantung dari aktivitas pembelian dan penjualan reksa dana oleh para investor.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Angka NAB merupakan jumlah dari harga pasar atas aset reksa dana, seperti saham, obligasi atau deposito, ditambah biaya pencadangan bunga surat utang atau deposito serta dikurangi biaya operasional.

Sementara NAB per Unit Penyertaan (NAB/UP) merupakan harga setiap unit penyertaan reksa dana yang kita beli.

Baik NAB maupun NAB/UP akan berfluktuasi setiap harinya. NAB bisa turun karena terjadi penurunan harga atau nilai instrumen investasi di pasar modal seperti saham. Penurunan NAB ini biasanya disebabkan oleh beberapa kondisi yang membuat harga saham turun, seperti gejolak ekonomi, masalah pada perusahaan (emiten), kondisi politik hingga adanya bencana alam yang menimbulkan kekhawatiran pasar.

Jika NAB turun, maka harga reksa dana juga akan turun sehingga membuat nilai investasi kita berkurang. Jika terjadi terus-menerus, maka dana yang ditaruh pada instrument reksa dana akan semakin sedikit. Sehingga, investor harus mulai menyusun strategi investasi lagi agar tidak rugi.

2. Return tidak stabil

Perubahan pada nilai NAB reksa dana membuat imbal hasil atau return reksa dana menjadi tidak stabil. Untuk investor yang cenderung konservatif, naik turunnya imbal hasil reksa dana bisa memicu kepanikan. Apalagi, pada produk reksa dana saham di mana volatilitas asetnya cukup tinggi.

Jika kondisi pasar sedang kurang bagus, maka imbal hasil reksa dana bisa turun signifikan. Imbal hasil akan kembali naik jika kondisi pasar saham membaik.

Untuk itu, reksa dana saham sebaiknya menjadi pilihan investor yang memang memiliki tujuan investasi jangka panjang. Agar tidak panik, investor juga tidak harus mengamati pergerakan reksa dana saham setiap hari.

Risiko lebih rendah ada pada reksa dana pasar uang sehingga dapat menjadi pilihan untuk investasi jangka pendek.

3. Manager investasi bermasalah

risiko investasi reksadana

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, ada banyak kasus manajer investasi bermasalah yang akan berdampak pada produk reksa dana. Jika salah memilih manajer investasi atau produk reksa dana, bisa jadi dana yang sudah kita investasikan berkurang signifikan bahkan bisa sampai hilang.

Risiko yang timbul ini mau tidak mau harus ditanggung sendiri oleh investor tanpa ada jaminan dari pihak lain. Ini tentu berbeda dengan jenis tabungan atau investasi pada deposito yang mendapat perlindungan sehingga dana tidak mungkin hilang atau berkurang.

Untuk itu, investor memang harus cermat memilih produk reksa dana maupun manajer investasi. Rekam jejak manajer investasi serta pengalamannya mengelola dana investor menjadi hal utama yang harus dipertimbangkan investor. Selain itu, pertimbangkan juga imbal hasil produk-produk reksa dana yang dikelola manager investasi yang dipilih. Dengan begitu, investor bisa memilih produk yang tepat.

Baca juga: Inilah Kelebihan Reksadana Campuran untuk Investasi

4. Risiko likuiditas

Likuiditas dibutuhkan ketika investor hendak mencairkan atau menjual reksadananya. Namun, tidak semua aset reksa dana memiliki likuiditas tinggi. Kekurangan likuiditas ini bisa terjadi jika manajer investasi menempatkan dana pada instrumen yang tidak likuid, misalnya pada saham atau obligasi yang jarang diperdagangkan.

Jika aset atau efek dalam portofolio reksa dana tidak likuid, maka manajer investasi akan kesulitan untuk menjual produk reksa dana tersebut. Akibatnya MI tidak dapat membayar kembali unit penyertaan reksa dana ke investor.

Hal tersebut bisa membuat pembayaran reksa dana menjadi tertunda. Pada kondisi lain seperti force majeur, penjualan reksa dana bisa dihentikan sementara.

5. Pencairan dana tidak bisa cepat

Dalam poin sebelumnya, risiko likuiditas pada aset reksa dana menjadi salah satu penyebab pencairan reksa dana menjadi terhambat. Penyebab lain adalah ketika ada banyak investor reksa dana atau pemegang unit penyertaan mencairkan dana secara bersamaan dalam jumlah besar. Hal ini dapat membuat manajer investasi kesulitas membayarkan dana kepada investor.

Produk reskadana tidak seperti tabungan yang bisa dicairkan kapan saja. Pada umumnya, investor akan menerima dana pembayaran dalam waktu tiga hari setelah menjual reksa dananya. Namun, ketika manajer investasi mengalami masalah likuiditas, maka penerimaan dana bisa tertunda.

Untuk itu, investor sebaiknya melihat jumlah dana kelolaan manajer investasi sebelum memutuskan untuk membeli reksa dana. Pastikan manajer investasi memiliki dana kelolaan dalam jumlah besar sehingga bisa menghindari risiko tersebut ketika hendak menjual kembali reksa dana kita.

6. Risiko Investasi Reksadana dibubarkan

Jika masih ingat, November 2019, OJK telah membubarkan beberapa produk reksa dana milik salah satu manajer investasi dengan total nilai dana kelolaan mencapai Rp 6 triliun. Pebubaran reksa dana ini ditaksir merugikan nasabah/investor hingga Rp 3 triliun.

Jika merujuk pada aturan OJK Nomor 23/POJK.04/2016, ada beberapa hal yang menyebabkan reksa dana dibubarkan. Pertama, jika produk reksa dana memiliki dana kelolaan kurang dari Rp 10 miliar dalam jangka waktu 90 hari setelah pendaftarannya efektif. Kedua, dana kelolaan di bawah Rp 10 miliar dalam waktu 120 hari setelah pendaftarannya efektif untuk jenis reksa dana terproteksi, reksa dana dengan penjaminan dan reksa dana indeks dengan penawaran umum terbatas.

Ketiga, jika reksa dana melanggar peraturan di pasar modal. Keempat, jika NAB reksa dana kurang dari Rp 10 miliar selama 120 hari bursa secara berturut-turut. Kelima, jika pembubaran sesuai dengan kesepakatan manajer investasi dan bank kustodian.

Ketika produk reksa dana dibubarkan, maka dananya akan dikembalikan kepada investor secara proporsional sesuai dengan nilai investasinya. Jika kinerja reksa dana bagus, investor tentu tidak perlu khawatir karena dana investasi akan kembali beserta dengan imbal hasilnya. Namun sebaliknya, ketika kinerja reksa dana turun, maka investor turut menanggung rugi.

7. Lupa menambah investasi

risiko investasi reksadana

Investasi reksa dana bisa dilakukan dengan dua cara, yakni membeli sekaligus satu produk reksa dana dan menjualnya kembali dalam jangka waktu tertentu atau membeli sedikit demi sedikit alias secara berkala.

Masing-masing cara tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Ketika membeli sekaligus, hasil investasi akan maksimal, dengan catatan pembelian dilakukan pada waktu yang tepat. Namun ketika, waktunya tidak pas, ada risiko rugi yang harus ditanggung investor, apalagi jika tujuan investasinya jangka pendek.

Sementara pembelian secara berkala cocok dipilih investor yang memiliki dana terbatas atau bagi investor pemula. Namun, investor tentu harus konsisten untuk mencapai tujuan investasi. Caranya dengan disiplin menambah investasi. Memang, investor bisa memiliki layanan autodebet.

Baca juga: Langkah Simpel Mengetahui Hasil Investasi Reksadana

Tetapi bagi yang tidak menggunakan layanan tersebut, ada risiko kehilangan momentum jika lupa menambah dana investasi. Misalnya, ketika harga saham sedang turun, maka reksa dana saham akan lebih murah sehingga seharusnya menjadi saat yang tepat untuk membeli reksa dana. Jangan sampai investor kehilangan momentum ini dan kehilangan kesempatan untuk mendapat untung lebih besar ketika nilai reksa dana naik.

Memang pasti ada risiko investasi reksadana. Tetapi hal ini seharusnya tidak menjadi alasan untuk menghindari reksa dana. Investor tetap dapat berinvestasi pada produk reksa dana dengan aman ketika sudah memahami cara-caranya sehingga dapat menghindari risikonya.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu