Kebun Kumara: Ajak Kaum Urban untuk Hidup Berdampingan dengan Alam

184
soraya cassandra

Back to nature!

Itu adalah alasan utama Siti Soraya Cassandra saat mendirikan Kebun Kumara pada tahun 2016. Perempuan yang akrab disapa Sandra ini melihat jarak antara masyarakat urban dengan alam semakin jauh, terutama adanya persepsi bahwa untuk kembali ke alam sulit dilakukan bila tinggal di kota.

Baca juga: Theresia Deka Putri, Mengantarkan Kopi Luwak ke Mancanegara

Padahal masyarakat kota bisa ikut andil mengurangi emisi karbon dengan berkebun, meskipun sebatas berkebun di halaman sempit dengan pot saja.

“Kita pengen kasih tau, bahwa memungkinkan, lo, untuk berkebun di kota. Walaupun cuma di pot, tapi kita tahu tumbuhnya dari mana, kita tahu nanemnya gimana, lumayan ngurangin jejak karbon juga kan,” kata Sandra saat diwawancarai media.

Buat perempuan berambut panjang ini, alam memberi manusia makanan. Sehingga manusia harus merawat alam dengan baik sehingga tetap bisa makan. Yang selama ini terjadi hanya alam yang “memberi” sementara manusia—terutama kaum urban—hanya “menerima” saja.

Berani keluar dari zona nyaman

Berbekal tekad “back to nature” dan mengubah persepsi masyarakat urban, Sandra menabrak semua kebiasaan. Bersama suaminya, Dhira Narayana, Sandra rela keluar dari zona nyaman. Padahal dia sudah mengantongi ijazah sarjana psikologi lulusan University of Queensland, Australia dan Universitas Indonesia.

Keduanya berangkat ke Yogya untuk belajar tentang permakultur, ilmu berkebun yang sudah ada dari nenek moyang, untuk menciptakan arsitektur lahan pertanian swadaya yang sustainable. Berbekal ilmu tersebut keduanya makin bersemangat untuk mewujudkan tekad menjadi petani kota yang sukses.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Tekad mereka ternyata segendang penarian dengan sang adik Siti Alia Ramadhani dan suaminya Rendria Arsyan yang masing-masing lulusan kedokteran gigi dan teknik mesin. Mereka berempat bahu membahu membangun Kebun Kumara yang letaknya di Situ Gintung Tangerang hingga dikenal saat ini.

Nama “Kumara” diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya generasi yang akan datang. Dia berharap diatas tanah seluas 1.5 hektar itu akan memberikan inspirasi kaum muda urban untuk bercocok tanam.

Selain itu lewat Kebun Kumara, Sandra dan pendiri lainnya  bertekad mengajak kaum urban untuk meraih gaya hidup seimbang dengan berinteraksi dengan alam. Tentu saja membangun sesuatu yang di luar kebiasaan tidak segampang membalikkan telapak tangan, karena banyak tantangan.

Saat baru dirintis, Kebun Kumara tidak menghasilkan apa-apa. Sandra dan para pendiri harus bekerja ekstra keras dan belajar lebih banyak tentang pertanian. Tidak heran semua pekerjaan “kasar” dilakukan sendiri oleh Sandra dan para founder.  Sandra harus mencangkul, membersihkan kandang, mengolah sampah dan lain-lain karena belum bisa membayar pegawai.

Mereka juga melakukan redesign kebun kembali sesuai dengan ilmu yang makin banyak didapatkan. Baru tahun berikutnya Kebun Kumara mulai menghasilkan. Orang-orang mulai datang untuk belajar meskipun semula enggan berkotor-kotor ria.

Perempuan kelahiran 1988 ini mengakui bahwa orang tuanya sempat tidak setuju dengan rencananya itu. Terutama karena tubuhnya makin kurus akibat bekerja terlalu keras. ”Bukannya saya menentang orangtua, tetapi saya lihat di keluargaku semua orang kantoran, enggak ada yang bisnis. Apalagi jadi petani. Orangtua mungkin khawatir saja dengan masa depanku,” kata Sandra saat diwawancarai Kompas.

Baca juga: Pemodalan untuk Petani Ala TaniHub

Namun tekad Sandra dan pendiri Kebun Kumara lainnya sudah bulat dan akhirnya berbuah cukup manis.

Mengutamakan prinsip permakultur

Soraya cassandra

Setelah berdiri selama empat tahun, Kebun Kumara sudah mulai dikenal masyarakat dan ikut berkontribusi mengubah persepsi tentang menjadi petani kota. Sandra kini sudah dibantu 3 orang pegawai dan puluhan relawan yang memiliki visi yang sama. Berbagai pelajaran bisa didapatkan di Kebun Kumara.

Hanya dengan membayar tiket sebesar Rp45.000. Semua pengunjung diajak untuk bercocok tanam dengan mengutamakan prinsip permakultur. Mungkin tidak banyak yang tahu apa itu permakultur. Sebenarnya kata itu dari bahasa Inggris yaitu permanent agriculture yang artinya pertanian yang memegang prinsip keseimbangan dan berkelanjuran.

Permakultur dapat diartikan sebagai sistem pertanian yang tidak merusak lingkungan, peduli bumi tanpa gunakan kimia berbahaya, peduli manusia dengan produk bahan makanan sehat, dan mendaur ulang limbah pertaniannya.

Selain menghasilkan hasil yang berkesinambungan, permakultur ini juga meningkatkan hubungan antar masyarakat yaitu gotong royong dan saling memiliki. Saat ini Kebun Kumara memiliki beberapa program yang berjalan secara aktif, salah satunya edukasi tentang berkebun hingga mengelola sampah.

Yang khusus belajar berkebun ini bukan hanya anak-anak taman kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD), melainkan juga orang dewasa. Sering juga Kebun Kumara workshop khusus bagi sekolah, komunitas, hingga perusahaan tertentu.

Selain itu Kebun Kumara juga memberikan servis edible landscaping. Dalam program ini, Kebun Kumara membantu mengolah lahan kosong bagi masyarakat urban yang ingin memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, misalnya saja ada kompleks perumahan yang punya tanah kosong dan ingin diberdayakan.

Menariknya, hasil pertanian dari Kebun Kumara bisa dijual untuk mendukung perekonomian Kebun Kumara itu sendiri. Sandra membayangkan kalau masyarakat urban bisa bercocok tanam, maka mereka bisa saling memenuhi kebutuhan pangan kawasan lain dan lebih mandiri.

Keren, kan?

Regenerasi petani

Saat diundang ke Istana Negara pada hari Sumpah Pemuda 2017 lalu, Sandra sempat “curhat” pada Presiden Joko Widodo tentang banyak anak muda sekarang yang tidak berminat menjadi petani.

Hal ini diketahuinya dari anak muda yang belajar berkebun di Kebun Kumara. Bahkan, anak petani sendiri yang ditemuinya juga enggan meneruskan pekerjaan orang tuanya.

“Lah, 40% dari 260 juta orang adalah generasi milenial, 105 juta orang piye iki, Pak, kalau nggak ada yang mau jadi petani. Nanti kalau petani-petani kita sudah berumur gimana?” kata Sandra saat itu.

Baca juga: Inovasi Bisnis Angkringan Ala Muhammad Helmi Rakhman

Pikiran Sandra memang cukup visioner mengingat selama ini petanilah yang menghasilkan bahan makanan untuk masyarakat. Keberanian Sandra untuk berbuat lebih pada orang lain memang bisa menginspirasi kaum muda sekarang. Terutama dengan makin canggihnya teknologi yang membuat orang sibuk dengan diri masing-masing. Buat Sandra sendiri, berani keluar dari zona nyaman adalah hal yang paling penting. Sama seperti semboyannya: It’s time to get out if you’re not learning anything!

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu