Sama-sama Risiko Rendah, Lebih Untung Deposito atau Reksa Dana Pasar Uang?

224
deposito

Masa pandemi Covid-19 membuat gejolak di pasar aset seperti saham dan obligasi. Anjloknya harga aset-aset ini berdampak pada kinerja produk terkait seperti reksa dana saham dan pendapatan tetap. Hal ini membuat investor mencari aset aman atau safe haven dengan risiko minim, seperti reksa dana pasar uang atau menyimpan dana di deposito.

Baca juga: Cara Menghitung Keuntungan Bunga Deposito

Namun, sebelum memilih di antara keduanya, kamu perlu tahu kelebihan dan kelebihan masing-masing produk ini, baik dari return, isi portofolio, biaya bunga, risiko dan pencairannya.

Return

Head of Investment Research PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan saat ini mengingat suku bunga Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ada di 5,5% per tahun ( gross, netnya 4.4%) maka bunga deposito umumnya ada di level itu.

Untuk mereka yang ingin menyimpan dana lebih dari Rp100 juta akan mendapatkan bunga yang lebih rendah.

“Untuk yang simpan 100 juta rupiah mungkin tidak mendapatkan rate sebesar itu dan cenderung lebih rendah di sekitar 4% (gross),” urainya.

Sedangkan untuk reksa dana pasar uang secara historis 1 tahun terakhir memberikan return 5,3% (net). Namun prospek untuk satu tahun ke depan akan lebih rendah mengingat suku bunga yang menurun, prediksinya sekitar 4% (net) untuk setahun ke depan.

Isi portofolio

deposito

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Reksa dana pasar uang sebenarnya berisi deposito juga karena Manajer Investasi (MI) menempatkan minimum 80% dana investor di deposito, sementara sisanya ditempatkan di obligasi atau surat utang yang jatuh temponya di bawah satu tahun.

Manfaat obligasi terhadap kinerja reksa dana pasar uang sangat signifikan. Kupon yang didapat dari obligasi umumnya lebih tinggi dari bunga deposito dan hal ini yang digunakan oleh MI untuk menambah kinerja reksa dana pasar uang.

Untuk diketahui, penerbit obligasi memberikan kupon atau bunga per tahun lebih tinggi dari suku bunga acuan Bank Indonesia agar investor tertarik membeli obligasi yang mereka terbitkan.

Pajak dan management fee

Selain return, pemilik deposito dan investor reksa dana pasar uang dikenakan pajak yang akan mengurangi return. Pajak atas bunga deposito sebesar 20%. Karena reksa dana pasar uang memegang deposito juga maka deposito di portofolio reksa dana juga terkena pajak 20%, namun obligasi di portofolio reksa dana pasar uang hanya terkena pajak 5% pada bunganya. Besaran pajak obligasi ini lebih kecil bila dibandingkan investor memiliki langsung obligasi yang akan terkena pajak 15% pada bunga atau kuponnya.

“ Untuk pajak atas deposito sama 20%, namun bila reksa dana pasar uang memegang obligasi maka pajaknya hanya 5%, dibanding tarif pajak normal 15%. Penghematan pajak ini membuat kinerja reksa dana pasar uang yang memegang obligasi menjadi lebih menarik,” imbuh Wawan.

Wawan menerangkan management fee di reksa dana pasar uang terendah dibandingkan management fee di reksa dana saham, pendapatan tetap, atau reksa dana campuran.

Fee untuk reksa dana pasar uang tidak sampai 2% – 3% (seperti pada reksa dana saham). Umumnya fee reksa dana pasar uang di bawah 1%,” katanya.

Baca juga: Langkah Tepat Memilih Deposito yang Menguntungkan

Pencairan

Untuk mencairkan dana di deposito, nasabah harus sabar menunggu tanggal jatuh tempo. Walaupun bisa mencairkan dana sebelum jatuh tempo nasabah akan terkena penalti atau tidak diberikan bunga.

Berbeda dengan reksa dana pasar uang yang pencairannya bisa kapan saja tanpa penalti walaupun memerlukan waktu kurang lebih 3-5 hari kerja.

Risiko

deposito

Walau return yang diberikan reksa dana pasar uang lebih tinggi dari deposito namun risiko relatif lebih tinggi di reksa dana pasar uang daripada deposito karena adanya obligasi di dalamnya. Obligasi yang dipilih MI sebagai portofolio reksa dana memiliki risiko gagal bayar atau default. Terutama obligasi yang diterbitkan korporasi, dibandingkan obligasi yang diterbitkan pemerintah. Apalagi di tengah wabah Covid-19 yang menyebabkan mandeknya ekonomi nasional dan global yang mengalami koreksi alias tidak adanya pertumbuhan ekonomi.

“Risiko tetap ada, apalagi untuk obligasi korporasi, yang walau kupon menarik tetapi di tengah pandemi menjadi meningkat risiko default-nya. Hal ini menjadi tantangan bagi MI untuk menyeimbangkan keamanan di deposito dan menambah kinerja dengan masuk ke obligasi korporasi dengan kupon besar namun risiko default, atau pada surat utang negara yang kupon lebih kecil tapi risiko minimal,” pungkas Wawan.

Baca juga: Ini Risiko Reksadana yang Sering Luput Diketahui

Dengan ulasan berbagai faktor di atas, semoga dapat membantu kamu memilih investasi yang terbaik sesuai dengan tujuan keuanganmu.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu