Risiko Ganda di Balik Utang untuk Investasi

218
utang

Investasi dilakukan untuk mengembangkan modal yang kita miliki. Peluang mendapatkan keuntungan akan semakin besar jika modal yang kita miliki juga besar. Karena ingin mendapatkan keuntungan yang besar dalam waktu cepat seringkali orang berutang untuk modal investasi. Waspada! Risiko yang sangat besar mengintai orang yang berinvestasi dari uang pinjaman.

Utang memang bukan suatu hal yang tabu untuk dilakukan. Asal kita menggunakan dana pinjaman tersebut untuk tujuan yang semestinya. Untuk menutup defisit anggaran belanja yang direncanakan, perusahaan-perusahaan besar bahkan negara juga berutang.

Bagi investor, berutang juga sah-sah saja untuk dilakukan. Asal utang dilakukan secara terukur. Karena tujuan investasi untuk mencari keuntungan, maka kerugian harus bisa dihindari. Singkatnya, tingkat pengembangan dana investasi harus lebih besar daripada biaya utang yang harus dibayarkan.

Utang produktif

Pada prinsipnya, hutang bisa menjadi baik dan buruk pada saat yang bersamaan. Utang yang dipergunakan untuk kebutuhan konsumtif misalnya belanja barang mewah atau biaya liburan masuk kategori utang yang buruk.

Sebaliknya, hutang bisa menjadi baik jika dananya dipergunakan untuk membiayai kegiatan produktif. Sebagai contoh, utang dipergunakan untuk menambah modal usaha. Dengan adanya tambahan modal, omzet usaha akan meningkat. Alhasil, laba usaha yang diperoleh semakin besar.

Memanfaatkan uang pinjaman untuk berinvestasi juga dapat masuk kategori utang produktif. Tapi pengembangan dana investasi harus dilakukan dengan sangat berhati-hati. Jika tidak, berinvestasi dengan modal berutang bisa menjerumuskan kamu ke kerugian yang sangat besar.

Risiko ganda

utang

Tujuan utama dari berinvestasi adalah mendapatkan imbal hasil sehingga modalnya bisa berkembang. Tapi tidak ada yang bisa menjamin investasi yang akan dilakukan bisa menghasilkan keuntungan di masa depan. Ketika membenamkan dana untuk berinvestasi, maka kamu harus siap menangung risiko untung dan ruginya.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Baca juga: Jangan Takut Berinvestasi, Raih Cuan dengan Saham-Saham Ini di Era New Normal

Setiap jenis investasi memiliki tingkat risiko yang berbeda-beda. Investasi di pasar modal seperti saham sangat fluktuatif. Kenaikan dan penurunan harga bisa terjadi dengan sangat cepat. Demikian juga dengan investasi di reksa dana dan obligasi. Tidak hanya fluktuasi harga, investasi tersebut juga memiliki risiko gagal bayar.

Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi kinerja investasi di pasar modal. Bukan hanya kinerja emiten, tapi juga faktor eksternal terutama kondisi perekonomian domestik dan global. Kondisi pandemi COVID-19 juga menambah ketidakpastian imbal hasil investasi di pasar modal.

Sementara itu, uang pinjaman untuk modal investasi sudah pasti dibebani bunga yang tidak sedikit. Dalam pengelolaan investasi yang baik, keuntungan yang diperoleh dari investasi harus menutup biaya modal.

Artinya, imbal hasil investasi semestinya harus lebih tinggi dari tingkat bunga pinjaman. Sebagai contoh, jika kamu memperoleh pinjaman perbankan dengan bunga sebesar 12% per tahun, imbal hasil investasi yang kamu dapatkan harus berada di atas angka tersebut.

Mendapatkan imbal hasil yang tinggi tentu saja bukan hal yang mudah. Sebaliknya, cicilan utang harus dibayar tiap bulan. Jika pembayaran cicilan tersendat, rating kredit kamu di mata perbankan akan buruk.

Perhatikan besaran bunga

Jika terpaksa harus berutang sebagai modal investasi. Pastikan kamu mendapatkan pinjaman dengan bunga yang kompetitif. Jangan sampai mengambil utang dengan bunga pinjaman yang terlampau tinggi. Hal tersebut akan membebani kamu dalam berinvestasi karena harus mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar.

Perbankan memang menyediakan fasilitas kredit investasi dengan bunga yang kompetitif. Namun pinjaman tersebut diperuntukkan bagi perusahaan yang membutuhkan dana untuk modal perluasan usaha bukan untuk investasi perseorangan.

Sedangkan fasilitas pinjaman yang bisa dimanfaatkan oleh perseorangan untuk berinvestasi sangat terbatas. Opsi pinjaman perbankan yang bisa dimanfaatkan untuk berinvestasi bagi perseorangan di antaranya adalah kredit multiguna dan kredit tanpa agunan (KTA).

Kredit multiguna memberikan suku bunga yang lebih rendah dibandingkan dengan KTA. Namun untuk mendapatkan kredit multiguna, kamu harus memiliki barang yang dapat diagunkan. Sedangkan pengajuan KTA , sesuai namanya tidak membutuhkan agunan, tapi bunga yang dibebankan lebih besar.

Sebelum memutuskan untuk berutang, cermati betul-betul besaran bunga yang harus dibayar. Jangan mengambil risiko terlalu besar demi mendapatkan imbal hasil investasi yang belum dapat dipastikan juga.

Pemilihan instrumen investasi

utang

Dengan mempertimbangkan besaran bunga pinjaman yang harus dibayarkan, maka dana investasi harus ditaruh dan dikelola agar bisa menghasilkan keuntungan yang maksimal. Dalam hal ini, pemilihan instrumen investasinya harus tepat.

Beberapa jenis investasi bisa memberikan tingkat imbal hasil tetap seperti deposito dan obligasi. Risiko berinvestasi pada instrumen tersebut relatif rendah. Namun imbal hasil investasinya juga tidak akan terlalu besar.

Baca juga: Gaji UMR Bukan Alasan Tidak Berinvestasi, Ini Langkah-Langkahnya

Emas batangan bisa menjadi pilihan investasi yang menarik. Kenaikan harga emas bisa melampaui laju inflasi suatu negara. Di tengah pandemi, harga emas juga melaju kencang. Namun lonjakan harga emas juga tidak terjadi tiap tahun. Ada kalanya harga emas bergerak datar.

High risk high return. Jika ingin mendapatkan keuntungan yang besar, kamu juga harus siap menanggung risiko yang besar pula. Investasi reksa dana dan saham berpotensi memberikan keuntungan yang besar. Tapi tingkat risikonya juga lebih besar dari berinvestasi di instrumen pendapatan tetap.

Investasi properti bisa menjadi pilihan yang menjanjikan. Kenaikan harga properti bisa mengalahkan kinerja instrumen investasi lainnya. Namun modal untuk investasi properti sangat besar. Pemilihan lokasi properti yang tepat juga sangat menentukan potensi kenaikan harganya.

Bekal pengetahuan investasi

Agar investasi yang dilakukan bisa menghasilkan keuntungan yang optimal, seseorang yang berinvestasi dengan modal utang harus memiliki bekal pengetahuan investasi yang cukup. Investor tidak boleh hanya mengandalkan saran dari analis atau perencana keuangan.

Untuk itu, bagi investor pemula sebaiknya tidak berinvestasi di pasar modal dengan modal uang pinjaman. Risikonya terlalu besar karena bisa terlilit utang sekaligus rugi dari investasi.

Baca juga: Jangan Jor-Joran, Ini Strategi Hemat Pengeluaran Saat Pandemi

Jika ingin lebih aman, sebaiknya kamu berinvestasi dengan modal yang kecil sedikit demi sedikit. Keuntungan yang bisa diperoleh juga sedikit. Tapi ingat kata pepatah lama: Sedikit demi sedikit, lama-lama akan menjadi bukit.

Agar modalnya semakin besar, keuntungan investasi tidak boleh diambil tapi dipergunakan untuk berinvestasi lagi. Asal dilakukan dengan disiplin, modal investasi kamu akan menjadi besar di kemudian hari. Dengan modal yang besar, keuntungan yang bisa diperoleh juga semakin besar.

Setelah membaca ulasan di atas, kamu diharapkan bisa mempertimbangkan dengan lebih cermat jika ingin berinvestasi dengan modal utang. Investasi memang membutuhkan sebuah keberanian,  tapi keberanian yang terukur agar terhindar dari kerugian.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu