Agradaya: Siap Sejahterakan Petani Rempah Dengan Ajakan Cintai Bumi!

122
Agradya

Di Indonesia saat ini, masih banyak sekali petani yang tidak tahu cara memproduksi rempah yang baik. Bahkan para petani juga tidak menghitung upah untuk dirinya sendiri dan pekerjanya.

Baca juga: Kebun Kumara, Ajak Kaum Urban Bersahabat dengan Alam

Berdasarkan hal inilah Asri Saraswati bersama suaminya Andhika Mahardika mendirikan Agradaya yang merupakan sebuah organisasi kewirausahaan sosial yang bergerak di bidang pertanian pada 2014 lalu.  Agradaya berkontribusi pada upaya menciptakan alam dan lingkungan yang lestari dengan menerapkan prinsip pertanian dan perkebunan alami. Fokus utama dari bisnis ini adalah rempah-rempah.

Berawal dari kerinduan akan desa

Meski biasa beraktivitas di tengah hiruk pikuk ibukota, nyatanya situasi ini tak membuat Asri terbuai dan merasa nyaman untuk tetap tinggal di Jakarta. Rasa rindu akan lingkungan pedesaan saat menjadi sukarelawan pengajar di daerah terpencil, membuat pasangan suami istri ini lantas memilih pedesaan sebagai tempat tinggalnya saat ini, yaitu di Desa Sendangrejo, Kecamatan Minggir, Sleman, Yogyakarta.

Meskipun tidak memiliki latar pendidikan di dunia pertanian, Asri yang lulusan Teknik Kimia Universitas Teknologi Malaysia dan Dhika yang lulusan Teknik Mesin Universitas Diponegoro, tak menjadikan ini halangan bagi mereka untuk mendirikan Agradaya.

Asri dan Dhika berbagi ilmu tentang pengolahan pasca-panen berbagai produk pertanian yang ramah lingkungan, khususnya ialah empon-empon (temulawak, jahe, dan sejenisnya). Mereka lantas mengajak petani dan penduduk setempat untuk mengolah hasil pertanian.

Hingga kini, Agradaya telah berhasil bermitra dengan lebih dari 300 petani lokal untuk menghasilkan tanaman rempah biofarmaka seperti jahe, kunyit, dan temulawak, kemudian diolah menjadi bahan makanan, minuman dan bubuk ekstrak. Dahulu rempah mereka dijual dengan harga Rp500-Rp1000 ke tengkulak, sekarang dibeli Agradaya dengan harga Rp2000 hingga Rp3000/kg.

Tantangan Agradaya

agradaya

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Pada tahun 2018, dilansir dari laman berita CNN Indonesia, Agradaya menjadi salah satu juara Wirausaha Muda Mandiri yang bergerak di bidang usaha sosial. Meski kini hasil sudah terlihat, memang dalam proses membangun usaha, tentunya tak melulu jalan mulus yang ditemui.

Beragam tantangan pun kerap dialami oleh Asri dan Dhika dalam membangun bisnis mereka ini. Salah satunya adalah melakukan pendekatan dan pengarahan kepada warga desa. Asri menyebut, tak mudah untuk membangun kepercayaan masyarakat desa, khususnya petani rempah-rempah di desa Sleman terkait pengolahan yang dapat menghasilkan pundi-pundi uang sebagai bentuk keuntungan.

Salah satu upaya yang dilakukan Asri untuk  mendapatkan kepercayaan dari para petani dan warga desa adalah dengan mengajak mereka untuk selalu terlibat dalam segala kegiatan dan program yang dikembangkan untuk saling berbagi informasi. Dengan begitu, petani akan lebih aware dengan pertanian yang sehat yang dijlankan oleh Agradaya. Tak heran jika kini Agradaya sering menjadi rujukan komunitas pertanian lainnya untuk sharing ilmu.

Pengembangan Tanaman Rempah Natural

Berbagai inovasi dan kolaborasi yang bisa mendongkrak nilai rempah pun turut dilakukan dengan berbagai pihak ahli, seperti konsultan pangan dan pertanian, dan pengusaha sosial yang berpengalaman,  untuk membantu proses brainstorming dan formulasi solusi atas tantangan yang dihadapi. Salah satu yang telah dilakukan adalah berkolaborasi dengan sebuah brand boba drink untuk memanfaatkan produk rempah Agradaya dalam boba drink tersebut.

Wadah Edukasi dan Regenerasi Petani

agradaya

Selain di bidang produksi, Agradaya juga memiliki program-program yang cukup variatif dalam dunia pertanian baik dibidang bisnis maupun pusat belajar, salah satunya yaitu Jejaring Rempah Menoreh. Program ini merupakan integrasi dan kolaborasi jaringan kelompok tani dalam mengembangkan tanaman rempah jenis empon-empon di wilayah perbukitan Menoreh Kulonprogo, Yogyakarta.

Baca juga: Tani Hub, dari Distribusi Hingga Pemodalan untuk Petani

Tidak cuma petani, anak-anak petani juga diberdayakan melalui program Komunitas Anak Bumi yang merupakan bentuk edukasi dini pada anak dengan memberikan kegiatan seperti belajar tentang menyemai bayam, panen tanaman kangkung, dan lain-lain.

Tak hanya itu, terdapat pula pembekalan bagi para perempuan lokal untuk berwirausaha agar memiliki penghasilan yang bisa membantu perekonomian keluarga mereka. Seperti program Desa Kombucha yang merupakan usaha untuk memberdayakan ibu-ibu dengan cara mengajarkan pembuatan fermentasi minuman sehat dari Bunga Telang dan Rosella.

Selain itu, Asri juga mendampingi ibu-ibu rumah tangga untuk membuat emping melinjo. Bahan bakunya  disediakan oleh Agradaya, begitu juga bantuan pada alat yang dibutuhkan untuk membuat emping. Bahkan kini, Emping hasil perempuan desa itu kini sudah menembus pasar ekspor. Permintaan tak tanggung tanggung, mencapai 1 ton/bulan.

Hal seperti ini diharapkan bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani yang selama ini kita tahu realitanya di lapangan. Di sinilah Agradaya memberikan peranan untuk mengubah wajah pertanian di Indonesia, terutama di desa-desa dengan menebarkan manfaat dan kebahagiaan.

Baca juga: Inovasi Bisnis Angkringan Ala Muhammad Helmi Rakhman

Saat ini produk Agradaya dipasarkan melalui offline dan online melalui website www.agradaya.id. Mimpi besar Agradaya adalah mampu memiliki tempat untuk memproduksi lebih banyak hasil pertanian (pabrik) yang dimiliki oleh petani sendiri, bukan swasta atau bahkan asing. Dari hal ini, petani jadi memiliki hak kepemilikan atas pabrik untuk mengirimkan produknya langsung kepada pembeli baik di dalam maupun luar negeri.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu