Tissa Aunilla: Mengangkat Cokelat Indonesia ke Panggung Dunia

118
Tissa Aunilla

Tahun 2009, saat sedang menikmati sebatang cokelat premium dari Swiss, Tissa Aunilla melihat informasi di kemasannya bahwa cokelat tersebut menggunakan biji cokelat dari Jember, Indonesia. Tissa tersentak karena baru mengetahui kualitas biji cokelat Indonesia diakui dunia. Ketika itu Indonesia merupakan produsen cokelat terbesar ketiga di dunia. Tapi, sampai saat itu tidak ada brand cokelat premium dari Indonesia.

Baca juga: Agradaya, Sejahterakan Petani Sekaligus Cintai Bumi

Tissa yang sewaktu itu berprofesi sebagai corporate lawyer terinspirasi membuat cokelat premium berbahan baku cokelat asli Indonesia. Dia pun mengubah ruang tamu rumahnya menjadi dapur produksi. Setelah berjalan tiga tahun, Tissa akhirnya benar-benar jatuh cinta pada cokelat Indonesia dan mendirikan Pipiltin Cocoa pada tahun 2013. Keseriusannya terjun ke bisnis cokelat premium dibuktikan Tissa antara lain dengan mengambil sertifikasi master chocolatier ke Swiss agar kualitas produk Pipiltin Cocoa tak kalah dengan cokelat premium dunia. Saat ini Pipiltin Cocoa telah dikenal sebagai brand cokelat premium Indonesia dengan produk unggulan single origin chocolate bar dari lima daerah di Indonesia.

Simak perbincangan Satu Tumbuh Seribu dengan Tissa Aunilla mengenai perjalanannya membangun Pipiltin Cocoa berikut ini.

Dari daerah mana saja bahan baku cokelat Pipiltin Cocoa?

Di awal pakai cokelat dari Bali dan Aceh. Setelah itu Jawa Timur dan Flores. Terakhir dari Ransiki di Papua Barat. Jadi sebelum mulai produksi, kita tanya ke Pusat Penelitian Kakao dan Kopi Indonesia (ICCRI) di Jember, daerah penghasil cokelat di mana saja. Untuk menghasilkan cokelat premium, bijinya harus difermentasi dulu di kebun. Kalau kopi fermentasinya bisa dalam beberapa jam. Kalau cokelat harus lima hari. Kalau tidak difermentasi rasa yang kompleks dan asli itu tidak akan keluar.

Dari data ICCRI, kami cari petani cokelat yang melakukan fermentasi. Pertimbangan memilih daerah-daerah itu adalah kualitas. Kedua, konsistensi dari petani. Apakah petaninya bisa mengirim pasokan biji cokelat dengan kualitas yang kami inginkan atau enggak dengan konsisten.

Apa saja tantangan yang dirasakan di awal mendirikan bisnis?

tissa aunilla

Tantangannya selain belajar semua hal tentang cokelat, menciptakan pasar yang baru. Kedua, Indonesia tidak dikenal sebagai negara pemakan cokelat. Tidak ada makanan tradisional berbahan cokelat. Budayanya harus dibangun.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Apa yang dilakukan untuk menciptakan pasar yang baru tersebut?

Waktu mulai, kami enggak langsung produksi chocolate bar tapi membuka dessert café dulu karena orang lebih familiar dengan dessert. Kita sajikan avant garde dessert yang menggunakan cokelat Indonesia. Chefnya kita hire dari Dubai, orang Indonesia yang sudah lama kerja di sana. Misalnya ada yang namanya Tabanan Farm yang berbahan cokelat dari Bali dengan 18 tekstur dalam satu piring. Dari dessert yang unik-unik itu kita mulai dikenal orang. Mereka kaget saat tahu bahannya dari cokelat Indonesia. Akhirnya mereka yang beli dessert mulai beli cokelatnya juga.

Enam bulan setelah kafe buka, kami mulai produksi chocolate bar. Tapi baru dijual di kafe Pipiltin. Dalam perjalanan, kami belajar bahwa kemasan produk juga sangat memengaruhi konsumen. Awalnya kita buat packaging dengan desain polos karena ingin dianggap cokelat yang serius. Tapi responnya tidak terlalu bagus. Setelah itu kami ganti desainnya dengan desain yang colorful dan beda setiap flavor. Baru terangkat dari situ. Ada yang beli karena suka dengan desainnya. Setelah berproses selama satu tahun, akhirnya kami jual dengan desain yang sekarang.

Baca juga: Kebun Kumara, Ajak Kaum Urban Hidup Berdampingan dengan Alam

Selain produksi cokelat bar, kami juga produksi turunannya. Karena kami enggak bisa memaksa keinginan pasar. Brand harus sensitif terhadap kebutuhan pasar dan menyediakannya. Waktu itu kami melihat belum ada permintaan yang tinggi untuk chocolate bar, jadi kami bikin chocolate drink yang lebih membumi dan juga bisa dijual business to business ke hotel bintang lima, resto, dan coffe shop.

Sekarang penjualan chocolate drink sudah hampir sama dengan chocolate barChocolate drink-nya tetap single origin.

Sejak kapan Pipiltin Cocoa mulai mengekspor produk dan ke mana saja?

Kami ekspor sejak empat tahun lalu. Pertama ke Jepang, terus ke Singapura dan yang paling terbaru ke Rusia. Di Jepang prosesnya 1,5 tahun baru produk Pipiltin diterima masuk. Dicek dulu di laboratorium di sana dan melewati prosedur lain-lain. Saat ini produk yang diekspor mencapai 20% dari keseluruhan produksi. Tren konsumen di luar negeri lebih banyak menyukai single origin chocolate bar.

Seperti apa strategi marketing Pipiltin Cocoa untuk mengenalkan produk?

Market Pipiltin itu 75% – nya perempuan, umur 18-45 tahun. Kami menyebut Pipiltin Cocoa sebagai affordable luxury, barang premium tapi masih bisa terjangkau.

Jadi edukasi ke pasar dilakukan terus, supaya mereka bisa melihat nilai-nilai yang dimiliki Pipiltin Cocoa sehingga menjadikannya produk premium. Misalnya kami menyampaikan biji cokelat Pipiltin berasal dari cokelat yang difermentasikan dan dibeli langsung dari petani, semua proses pembuatan cokelat dikerjakan, karena banyak produsen yang skip proses untuk memurahkan biaya.

Tapi kalau menguatkan tema sustainability, enggak nyambung sama konsumen. Jadi kita cari lagi komunikasi yang lebih baik dan ketemu tema ‘diversity’. Itu isu yang enggak pernah ada habisnya di Indonesia. Pipiltin juga mengambil cokelat dari berbagai daerah di Indonesia, yang kaya rasa, beragam. Keragaman itu yang membuat bangsa Indonesia kaya. Jadi sekarang kami ada tagline “Beda-beda itu Enak”. Dari situ pelan-pelan nanti kita hubungkan dengan sustainability. Kampanyenya lewat media sosial, influencer, komunitas.

Produk kami memang niche. Tapi kita berusaha membuat pasar yang multiniche. Misalnya Pipiltin for health, Pipiltin for moms, Pipiltin for kids. Contohnya cokelat itu bagus banget untuk dikonsumsi pelari sebelum dan sesudah berlari. Apalagi cokelat yang ada gulanya. Ini dipakai untuk mempromosikan produk milk chocolate, produk ini dibuat untuk menyesuaikan pasar yang suka cokelat manis tapi tetap dengan mengangkat cokelat dari Bali.

Seperti apa bentuk dukungan Pipiltin Cocoa terhadap pertanian berkelanjutan?

Dari nomor tiga, sekarang Indonesia turun jadi nomor enam produsen cokelat dunia. Banyak petani yang mengalihfungsikan lahannya dan tidak bertani cokelat lagi. Penyebabnya karena mereka tidak mendapat harga jual yang layak untuk biji cokelat yang mereka hasilkan. Makanya kami berusaha membeli langsung dari petani dan membayar 40-50% di atas harga pasar. Selain karena kami minta kualitas yang premium, supaya mereka happy dan mau terus menanam cokelat.

Biasanya kami kontak koperasi petani yang membawahi puluhan hingga ratusan petani. Kalau ke daerah, saya usahakan langsung ke kebun untuk bertemu dan berkomunikasi dengan petani untuk menjaga hubungan baik. Karena praktik pertanian berkelanjutan ini, Raja dan Ratu Belanda saat ke Indonesia Maret 2020 kemarin mengunjungi Pipiltin Cocoa dan bertemu dengan perwakilan petani dari Bali.

Apa yang dilakukan dalam hal inovasi produk?

Sebagai sebuah brand kita harus sensitif terhadap pasar. Misalnya saat pandemi muncul, kami langsung pivoting untuk mencari solusi bagaimana Pipiltin bertahan dan enggak hanya bertahan, tapi juga lanjut ke depan. Makanya cari relevansi ke market penting tapi jangan juga jadi oportunis. Jadi selain chocolate bar dan chocolate drink, sekarang kami juga punya produk snack dan baking goods. Misalnya ada nut paste dan brownies premix dengan cokelat Pipiltin. Dalam 2-3 bulan kemarin kami bikin 11 produk yang dilemparkan ke pasar. Karena penjualannya secara online, jadi kami juga bisa langsung dapat feedback mana yang kurang berkembang dan mana yang jalan tapi harus disesuaikan lagi dan sebagainya.

Apa rencana Pipiltin Cocoa ke depan?

Bulan Agustus 2020 kami membuka experience store di Barito, Jakarta Selatan. Selain itu kami ingin mengangkat kampanye manfaat cokelat untuk mental health, dihubungkan dengan situasi sekarang. Untuk eksplor produk baru pengen banget, tapi untuk diversifikasi produk harus lihat kualitas dan konsistensinya. Harus survei pasar dulu karena berhubungan dengan cost. Sebetulnya banyak sekali petani dari berbagai daerah yang menawarkan cokelat pada kami. Kami tadinya sudah mau luncurkan cokelat dari Pariaman, tapi setelah pengiriman kedua tidak bisa konsisten jadi gagal, karena standar di Pipiltin harus konsisten dulu beberapa kali pengiriman baru bisa kami pakai biji cokelatnya.

Bicara soal investasi, bagaimana pandangan mengenai investasi sejak usia muda?

Investasi sedari dini itu, karena kita enggak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Sebelumnya aku corporate lawyer jadi punya tabungan cukup untuk memulai Pipiltin. Tapi memulai bisnis selama setahun dua tahun pasti belum bisa stabil. Itu tantangan terbesar saya. Itu fungsinya tabungan yang sudah dimiliki.

Baca juga: Tani Hub, Distribusi dan Pemodalan untuk Petani

Saat ini saya berinvestasi di reksa dana dan deposito karena risikonya tidak terlalu tinggi. Kita harus taruh investasi di banyak tempat. Jeli melihat apa yang cocok dengan tujuan kita dan keadaan keuangan. Jadi saya enggak pernah taruh investasi di satu tempat.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu