Beli Rumah Saat Pandemi, Langkah Bijak atau Bodoh?

173
Beli rumah

Kawula muda kerap kesulitan memiliki rumah. Apalagi, kenaikan harga yang konstan membuat rumah sulit terjangkau. Namun, kemunculan pandemi diyakini bisa mengubah tingkat harga properti. Tepatkah jika kita beli rumah pada saat ini?

Setiap tahun, harga properti termasuk rumah cenderung meningkat. Hasil Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia (BI) bisa menjadi acuan kita.

Survei yang dilakukan terhadap pengembang di 18 kota besar di Indonesia tersebut menghasilkan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR). Menurut survei tersebut, IHPR selalu meningkat secara berkala.

Misalnya, Triwulan I-2019, ketika IHPR mencatat kenaikan Year on Year (yoy) sebesar 2,06%. Padahal, kondisi pasar properti saat itu tengah lesu. Sewaktu pasar bergairah, harga rumah melonjak signifikan seperti pada Triwulan I-2014, ketika peningkatan yoy IHPR hampir mencapai 8%. Puncak kenaikan IHPR dalam satu dekade terakhir terjadi pada Triwulan III-2013, yakni sebesar 13,51% yoy.

Tren ini merupakan mimpi buruk bagi generasi muda. Harga rumah yang melambung tidak sebanding dengan kenaikan pendapatan mereka. Akibatnya, mereka sulit memiliki rumah. Pernyataan Country General Manager Rumah123.com Ignatius Untung yang dirilis Tirto pada 24 Januari 2019 bisa menjadi perhatian kita. Merujuk pada data BI tentang jumlah debitur muda yang mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Ignatius menyebutkan, 60% milenial belum mampu mengakses KPR.

Artinya, belum banyak milenial yang mampu membeli rumah. Namun, situasinya kini bisa berubah. Pandemi membuka kemungkinan bagi kaum muda untuk mempunyai rumah.

Saat ini, industri properti tengah terpukul karena roda perekonomian yang lesu. Pada 4 Mei 2020, CEO Indonesia Property Watch (IPW) Advisory Group Ali Tranghanda mengatakan kepada Tempo, jika dibandingkan dengan 2019, industri properti anjlok 60%. Kondisi ini disebutnya sebagai penurunan terbesar dalam lima tahun terakhir.

Kelesuan sektor properti memunculkan peluang besar untuk membeli rumah. Seharusnya, penurunan harga terjadi karena jumlah pembeli yang minim. Selain itu, potensi memperoleh bunga kredit yang terjangkau cukup besar karena perbankan ikut lesu.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Jika demikian, apakah membeli rumah merupakan langkah tepat? Sebelum mengambil keputusan, Anda harus mempertimbangkan semuanya dengan masak. Pelajari hal yang mendukung keputusan memiliki rumah. Namun, faktor yang menunda pembelian rumah juga wajib diperhatikan.

Baca juga: Mumpung Masih Muda, Jangan Tunda Punya Rumah

Faktor Pendukung Beli Rumah

beli rumah

Keterpurukan industri properti akibat pandemi memunculkan sejumlah faktor pendukung untuk memiliki rumah. Beberapa di antaranya:

  • Penurunan Harga Rumah

Keputusan untuk beli rumah saat pandemi terlihat tepat ketika melihat penurunan harga yang terjadi. Saat ini, industri properti semakin tertekan. Hasil survei IPW untuk pasar perumahan primer pada Kuartal I-2020 dapat menjadi gambaran.

Menurut temuan IPW, penurunan harga pasar dengan nilai rata-rata 50,1% terjadi di Jabodebek-Banten. Hal serupa dialami segmen harga rumah di bawah Rp300 jutaan. Harga pasarnya anjlok sebesar 68,8% yoy.

Ketika permintaan menurun, maka harga juga akan terkoreksi. Hal itu paling terlihat di pasar rumah bekas. Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (Arebi) mencatat, penurunan harga terjadi pada kisaran 20-30%. Dikutip dari CNBC Indonesia, Ketua Umum Arebi Lukas Bong sampai menyebut kondisi ini di luar kewajaran.

Melihat situasi ini, membeli rumah tergolong langkah yang sangat tepat. Pasar rumah bekas memberikan keuntungan yang lebih besar, karena penurunan harganya lebih tinggi dibanding rumah baru. Saat ini, pengembang menahan harga rumah baru agar tetap stagnan. Salah satunya dilakukan Ciputra Development, seperti pengakuan Direktur Harun Hajadi kepada CNBC Indonesia pada 20 Mei 2020.

  • Tren Penurunan Bunga Kredit Perumahan

Pandemi membuat perekonomian lesu. Merespons hal ini, pada Juli 2020, BI menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 4%. Penurunan ini tercatat sebagai rekor suku bunga acuan terendah sepanjang sejarah.

Keputusan BI dinilai bisa menjadi angin segar bagi sektor properti. Harapannya, hal tersebut mampu menjadi stimulus bagi penyaluran KPR karena bank berpotensi menurunkan suku bunga kredit.

Kini, tren penurunan bunga KPR memang mulai terjadi. Misalnya, Bank Mandiri. Pada 18 Agustus 2020, EVP Consumer Loan PT Bank Mandiri Tbk Ignatius Susatyo menyatakan kepada Kontan, meski tidak drastis, sejak Kuartal II-2020, perseroan sudah memangkas bunga KPR. Suku bunga floating telah turun sekitar 1-1,5%.

Sementara , Bank Tabungan Negara (BTN) menggelar program khusus pada Agustus 2020 yang dinamai sebagai KPR Merdeka. Lewat program ini, BTN menawarkan KPR dengan bunga 4,17%.

Tren penurunan bunga KPR diyakini Chief Economist Citi Indonesia Helmi Arman akan terus terjadi. Menurutnya, likuiditas yang berlimpah, terutama di Pasar Uang Antar-Bank memungkinkan penurunan bunga kredit.

Kondisi ini bisa dimanfaatkan untuk memiliki rumah. Dengan memanfaatkan tren penurunan suku bunga KPR, pembeli bisa memperoleh keringanan dibandingkan situasi normal.

  • Potensi Keuntungan Pada Masa Depan

Properti merupakan salah satu jenis investasi yang diminati publik. Kenaikan harganya yang konstan menjadi daya tarik tersendiri. Hal tersebut bisa menjadi pertimbangan ketika Anda ingin memiliki rumah di tengah pandemi.

Saat ini, harga rumah cenderung stagnan atau menurun. Di sisi lain, suku bunga kredit cenderung menurun. Jika Anda sekarang membeli rumah, berarti Anda membeli dengan harga miring. Dengan demikian, potensi keuntungan yang diraih pada masa depan menjadi lebih besar.

Rumah merupakan kebutuhan dasar. Permintaannya akan selalu ada. Saat ekonomi membaik dan pandemi selesai, harga rumah bisa terkerek naik. Keuntungan pun dapat diraup.

Baca juga: Tertarik Investasi Properti? Perhatikan 6 Tips Ini

Faktor Penghalang untuk Memiliki Rumah

beli rumah

Sebagai pertimbangan untuk membeli rumah, ada baiknya Anda turut memperhitungkan faktor penghalangnya. Inilah yang menunda Anda untuk memiliki rumah .

  • Keamanan Finansial Pribadi

Sebelum memutuskan untuk mempunyai rumah, Anda sebaiknya menilai keamanan finansial pribadi. Apakah penghasilan yang sekarang dimiliki tidak terdampak pandemi? Jika menjadi karyawan, perhatikan kelangsungan tempat kerja pada masa mendatang. Namun, jika mengelola bisnis sendiri, analisis kondisinya pada saat ini dan masa depan.

Tidak ada yang tahu pasti sampai kapan pandemi berakhir. Dampak buruknya pun sulit diprediksi. Sebagai contoh, saat ini tingkat pengangguran di Indonesia terus bertambah.

Bappenas memperkirakan tingkat pengangguran terbuka pada tahun 2020 berkisar 8,1-9,2%. Jumlah ini melompat dari posisi 2019 yang masih tercatat sebesar 5,28%. Pada 2021, Bappenas masih memprediksi kondisi belum membaik. Pengangguran akan berkisar 7,7-9,1%, atau mencapai 10,7-12,7 juta orang.

Fakta tersebut bisa menjadi pertimbangan ketika Anda ingin membeli rumah. Kalau kondisi keuangan pribadi belum aman, pembelian rumah malah membebani Anda.

  • Kredibilitas Pengembang

Pandemi memukul industri properti, termasuk pengembang properti. Jadi, sebelum memutuskan untuk membeli rumah, Anda wajib mencermati kondisi pengembang .

Paling tidak, Anda dapat mengecek kredibilitas pengembang properti. Pastikan pengembang terdaftar dalam Sistem Registrasi Pengembang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Jangan sampai pembelian rumah menimbulkan kerugian akibat pengembang yang bermasalah. Di tengah pandemi, hal ini bukan sesuatu yang mustahil terjadi.

Baca juga: Risiko Ganda di Balik Utang untuk Investasi

Putusan untuk Membeli Rumah Saat Pandemi

Aneka faktor pendukung maupun penghalang dalam membeli rumah di tengah pandemi telah diuraikan. Kini, saatnya Anda mengambil keputusan sesuai dengan kondisi masing-masing.

Jika kondisi finansial personal terjamin, paling tidak hingga lima tahun ke depan, pembelian rumah saat ini merupakan langkah yang cerdik. Harga rumah dan bunga KPR sedang turun. Hal ini bisa dimanfaatkan secara maksimal. Namun, Anda harus mengecek kredibilitas pengembang atau penjual rumah supaya pembelian rumah terjamin.

Kendati demikian, jika keamanan finansial pribadi belum dimiliki, Anda lebih baik menunda untuk membeli rumah. Tak ada yang tahu kapan pandemi dan efeknya akan berakhir. Uang yang dimiliki lebih baik disiapkan sebagai dana darurat.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu